
Tut...
Tut...
Tut...
"Anjir! Dasar Anak dajjal...! Bisa-bisanya lo main matiin teleponnya gitu aja. Benar-benar gak ada terimakasih-terimakasihnya udah di bantuin juga. Untung lo temen gue, kalo enggak udah bikin jadi sambalado, lu!" Sam marah-marah dengan ponselnya, karena Marisa mematikan teleponnya begitu saja saat Sam bahkan belum selesai bicara.
"Jadi itu lo ya, Raisa? Awalnya gue nggak mau memperpanjang masalah sama lo, tapi karena lo jual ya gue beli." Gumam Marisa sambil masuk kembali ke dalam kamarnya.
Marisa pun bersiap untuk berangkat kerja seperti biasa, dia menjemput Kenzo di rumahnya.
"Pagi pak..." sapa Marisa pada satpam di sana.
"Eh, si eneng? Pagi bener neng?"
"Hehe... nggak juga pak, kayaknya tadi kekencengan aja naik motornya makanya nyampe sini agak pagian." Canda Marisa.
"Aduh si eneng ini... eneng teh cewek atuh, ula ngebut-ngebut bawa motornya. Bahaya neng."
"Nggak apa-apa kok pak, udah biasa. Marisa kan cewek super." Kekeh Marisa yang di jawab kekehan pula oleh pak satpam. "Itu si bos udah siap, kalo gitu Marisa ke sana dulu ya pak."
"Iya neng."
Marisa pun berjalan menghampiri mobil milik Kenzo, dia membukakan pintu mobil untuk Kenzo.
"Hari ini kau tidak perlu membawa motormu ke perusahaan."
"Hah?"
"Tinggalin motor kamu di sini."
"Eh?"
"Naik sekarang juga! Atau perlu ku gendong kau naik, Marisa?"
"Iyain aja deh, biar kelar!" gumam Marisa lirih yang kemudian naik ke mobil itu, dia memilih duduk di sebelah pak Tejo.
Belakangan ini Arka memang tidak berangkat bersama dengan Kenzo lagi, entah kenapa. Tapi mungkin saja dia takut, jika Marisa yang akan menyetir dan kembali menyetir mobilnya ala Dominic Toretto.
Namun baru saja Marisa membuka pintu mobil dan bahkan pantatnya belum sempat menyapa kok mobil itu, Kenzo menghentikan aksinya. "Siapa suruh kau duduk di situ?"
"Hah? Bukannya kau sendiri yang memintaku ikut mobilmu, bos? Tidak mungkin kau menyuruhku duduk di atap mobil, di spion, atau di ban mobil kan bos?" celetuk Marisa asal.
__ADS_1
"Aku bukan psychopath yang akan tega menyuruhmu duduk di ban mobilku, duduklah di sini."
"Hah?!"
"Di sini, Marisa. Di sampingku, di kursi yang sama denganku," jelasya, "Jika perlu, kau boleh saja duduk di pangkuanku." Sambungnya dalam hati.
"Baiklah..." jawab Marisa pasrah, karena jika tidak menuruti keinginan si Muka Datar ini bisa-bisa sampai besok pagi lagi mereka tidak akan beranjak dari sana.
Setelah Marisa duduk dengan anteng di jok belakang, mobil pun mulai melaju membelah keramaian jalanan ibukota.
Marisa fokus memandang ke arah luar dari kaca jendela itu, angin terasa menyapa wajahnya dan membuat rambut ekor kudanya itu sekolah melambai-lambai.
Namun, Marisa tiba-tiba di kejutkan dengan sesuatu yang membuat pahanya terasa berat.
"Hah?!" seru Marisa, "Apa yang kau—"
"Diamlah. Aku masih mengantuk, biarkan aku tidur seperti ini dulu. Bangunkan aku saat kita sampai di perusahaan."
"Eh tapi kan, bos—"
"Satu juta, untuk menjadikan pahami sebagai bantal tidurku selama beberapa menit. Itu sebanding kan?"
"Satu juta? Wah... semudah itukah mendapatkan uang?!" batin Marisa, "Ehm.. Ekhem! Tentu saja bos, kita sebagai sesama manusia kam harus saling tolong menolong. Kau punya kepala yang membutuhkan bantal dan aku punya paha yang bisa di jadikan bantal olehmu. Jadi kenapa tidak?" Marisa memamerkan deretan giginya dan mengukir senyum pepsodent itu di wajahnya.
"Hehe..."
Pak Tejo yang melihat pemandangan itu melalui kaca spion pun hanya bisa mengulum senyumnya. Sudah berpuluh-puluh tahun dia bekerja di keluarga Alexander, mulai dari menjadi supir kakeknya Kenzo kemudian ayahnya Kenzo dan sekarang menjadi supirnya Kenzo. Dia sangat mengerti dengan gelagat Kenzo saat ini.
"Dasar anak muda." Batin pak Tejo.
Di sisi lain Arka juga tengah menunggu taksi online yang dia pesan, namun tak kunjung datang.
"Astaga... kemana sih itu taksi online, kenapa lama banget?!" gumamnya sembari terus memperhatikan jam tangan miliknya, "Eh itu ada taksi reguler? Lebih baik aku naik taksi ini saja, daripada aku terlambat."
Arka melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi itu, "Maaf mas taksinya sudah isi," ucapnya pada Arka, setelah dia membuka kaca jendelanya.
"Ooh... sudah isi ya pak? Ya sudah kalau begitu pak."
"Eh? Suara itu?" pikirnya sembari menengok ke arah luar, di mana Arka tengah berdiri di sana. "Pak, biarkan saja dia naik pak. Sepertinya dia buru-buru, lagipula saya kenal dia kok pak."
"Eh? Memangnya mbaknya tidak keberatan untuk berbagi taksi?"
"Tidak pak, tidak apa-apa."
__ADS_1
"Ya sudah mbak," supir itu pun turun dan membukakan pintu untuk Arka, "Mas, ayo masuk. Penumpang saya bilang, dia nggak masalah untuk berbagi taksi."
"Eh? Beneran pak?"
"Iya mas, silahkan masuk.
Arka pun masuk ke dalam mobil itu namun saat dia baru saja akan mengucapkan terimakasih dia terkejut melihat siapa yang ada di sebelahnya.
"Kau?!" tunjuk Arka pada orang yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Hehe... Annyeong haseo Arka." Sapanya sambil menunjukkan cengiran kudanya.
"Kau temannya Marisa itu kan? Ehm... siapa namamu... ehm... Gea benarkan?" tanya Arka yang berpura-pura lupa siapa Gea, padahal insiden sebelumnya terus membuatnya teringat akan wajah Gea.
"Yups! It's me." Gea tersenyum manis pada Arka.
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja aku mau bekerja," jawabnya.
"Memangnya kau sudah benar-benar pulih?"
"Hm... maybe. Tapi aku bosan jika terus di rumah, tapi ku mohon padamu jangan katakan pada si Marjan kalau aku sudah berangkat kerja hari ini ya?" mohon Gea dengan jurus andalannya, puppy eyes.
"Oh Tuhan... apa Kau mau menguji ketahanan imanku di pagi hari ini? Kenapa Kau membiarkanku bertemu dengan makhluk penguji iman ini?" batin Arka, "Aku harus bisa menahan diri untuk tidak memakannya, atau bisa-bisa aku akan dijadikan sate manusia oleh Marisa,"
"Arka..." Gea melambai-lambaikan tangannya di depan Arka.
"E-eh iya, kenapa?"
"Kenapa kau melamun? Apa kau sakit?" Gea menempelkan punggung tangannya di dahi Arka.
"Aku tidak apa-apa." Arka menggenggam tangan Gea, dan netra mata mereka pun saling bertemu.
Deg!
Deg!
Deg!
...****...
...Mulai hari ini, dan selama satu minggu ke depan author bakal up 3 bab sehari ya guys. Jadi pantengin terus notifikasinya. 🤭🤣...
__ADS_1
...Jangan lupa juga like dulu sebelum baca, yang belum masukin fav klik dulu favnya. Yang punya kembang setaman boleh di lempar dan yang punya kopi boleh di bagi, lumayan buat temen begadang.🤣🤣🤣...