My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 72


__ADS_3

Brak!


Mata Stella dan juga Kevin tampak membesar sempurna kala melihat pemandangan di hadapan mereka, namun Marisa yang menjadi pemeran pun tak kalah terkejutnya dengan dua penonton yang ada di depan pintu kamar Kenzo itu.


Pluk!


"Mama... kenapa mama menutup mataku? Aku bukan anak kecil lagi, mama." Rengek Kevin.


"Tidak! Belum saatnya kamu melihat hal seperti ini."


Marisa pun segera mendorong tubuh Kenzo menjauh darinya, dan membuat ciuman Kenzo padanya terlepas.


"T-tante ini tidak seperti yang tante piki—"


"Hai, ma. Ada apa mama ke kamarku? Apa ada masalah?" tanya Kenzo dengan santai dan seolah tak ada masalah sama sekali.


"What!? Gimana bisa si Muktar setenang ini, padahal dia udah ketahuan sama mamanya lagi nyosor gue!" batinnya.


"Ooh... tidak ada apa-apa, Kenzo. Tadinya mama mau ajak kalian makan malam, tapi... kalian bisa lanjutkan dulu dan segera turun setelah kalian selesai." Jawaban Stella yang semakin membuat Marisa merasa ada gong besar di atas kepalanya.


Stella itu memang sedikit tidak biasa, dia berbeda dari para ibu-ibu biasanya.


Brak!


Stella menutup itu dengan cepat dan membawa Kevin pergi dari sana.


"Mama... aku tidak mau pergi, harusnya mama memarahi kak Kenzo...!"


"Memarahinya? Bagaimana bisa? Si kutub es itu sudah menemukan pawang yang tepat, bagaimana aku bisa membuat masalah untuk mereka?" batin Stella, "Aku tetap akan menghukumnya nanti karena apa yang sudah dia lakukan, tapi tidak dengan cara menghancurkan hubungan mereka." Sambungnya.


Jujur saja, Stella dulu sempat khawatir tentang rumor bahwa anak sulungnya itu adalah penyuka sesama jenis. Dan meskipun itu hanya kabar angin, tapi tetap saja hal itu membuatnya sedih, takut, dan was-was.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Selama ini sudah berkali-kali Kenzo di jodohkan, tapi selalu saja di tolak dengan alasan dia tak menyukai wanita pilihan papa atau mamanya.


Setiap hari dia hanya bersama dengan Arka, Arka, dan Arka. Bagaimana jika Kenzo menyukai Arka? Mungkin itu memang pikiran gila, tapi itu bukan tidak mungkin terjadi, bukan?


Jadi itulah kenapa di saat dia melihat kejadian tadi, dia tidak marah ataupun kesal. Tapi justru merasa lega, karena dia tau tak ada seorangpun wanita yang bisa memaksa Kenzo melakukan hal seperti itu jika dia tak mau. Jadi intinya adalah, Stella tau kalau Kenzo benar-benar menyukai Marisa dan melakukan itu atas keinginannya dan bukan paksaan.


Dan lagi, saat Marisa akan menjelaskan perihal masalah tadi. Terlihat sangat jelas kalau Kenzo sengaja memberikan kode pada Stella.


"Apa keluarga ini memang keluarga aneh tapi nyata? Papanya itu sudah seperti raja yang perintahnya tidak bisa tolak, Kevin yang selalu bertingkah seperti anak kecil padahal dia sudah remaja, ibunya Kenzo yang sangat-sangat santuy bahkan level santuynya sudah mencapai dewa, dan Kenzo sendiri yang amat sangat IS TI ME WA." Batin Marisa bingung.


"Kenapa kau melamun, Marisa? Jadi sekarang aku akan menjelaskannya pada Kevin, karena aku adalah orang yang memegang janjiku." Ucap Kenzi dengan senyum devilnya.


"Tidak perlu! Firasatku mengatakan kalau kau memang akan menepati janjimu untuk menjelaskan masalah tadi pada Kevin, tapi aku tidak yakin apakah yang akan kau jelaskan itu bisa menghilangkan kesalahpahaman ini atau justru membuatnya lebih parah," tolak Marisa.


"Kau yakin?"


"Tidak pernah seyakin ini."


"Tunggu! Sepertinya aku melupakan sesuatu?" pikirnya, "Kenzo...! Kenapa kau membuat mamamu salah paham pada kita?!" seru Marisa pada akhirnya.


"Aku? Aku tidak."


"Lalu apa maksudnya tadi hah?"


"Yang mana?"


"Yang itu tadi...!"


"Tadi yang mana?"


"Aaarrrghh! Sudahlah, kau membuatku pusing! Dasar bos menyebalkan!" umpat Marisa.

__ADS_1


"Aku memang bos yang menyebalkan, tapi aku adalah calon suami yang sempurna." Batin Kenzo dengan percaya dirinya.


"Aku mau pulang!"


"Baiklah, hati-hati di jalan." Ucapnya sambil merebahkan dirinya dan kemudian memejamkan mata.


"Aku tidak salah dengar kan?" batin Marisa.


Marisa pun keluar dari kamar Kenzo dan turun ke lantai bawah.


Tapi sesampainya di lantai bawah, dia bertemu dengan Stella dan Kevin yang masih menonton TV.


"Marisa? Kau mau kemana?"


"S-saya mau pulang, tante." Jawab Marisa gugup, antara malu, takut, dan tidak enak hati bercampur menjadi satu. Apalagi saat dia melirik ke arah Kevin yang bahkan tidak mau melihat ke arahnya.


"Apa anak itu marah padaku? Tapi seharusnya itu berita baik, kan? Dengan begini setidaknya berondong itu tidak akan mengejarku lagi." Batinnya.


"Eh? Kenapa tidak menginap saja?"


"Ehm... tidak tan, temanku juga sedang menginap di rumahku jadi tidak mungkin aku menginap di sini." Kilah Marisa.


"Tapi setidaknya kau bisa makan malam dulu di sini kan, Marisa?"


"Ehm... terimakasih tante, tapi tadi aku sudah makan."


"Ooh... baiklah."


"K-kalau begitu Marisa pamit dulu tante."


Setelah berpamitan dengan Stella, Marisa pun meninggalkan rumah itu mengendarai motornya.

__ADS_1


Brooommm...


__ADS_2