
Namun sepertinya, ekspektasi tak sesuai dengan kenyataan. Kara menatap Ando dengan tatapan nyalang dan penuh permusuhan, "Turunkan aku, SEKARANG!!"
"Hey! Hey! Hey! Perempuan itu sepertinya sudah benar-benar bosan hidup! Tapi tolong jangan libatkan kami...!" tangis kedua anak buah Ando dalam hati.
"Kenapa kai menatapku seperti bertemu musuh lama, nona? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ando.
"Tidak pernah! Dan jika aku bisa memilih, maka aku tidak mau bertemu dengan orang sepertimu!" serunya dengan tatapan nyalang.
"Kau!?" geram Ando.
Kedua anak buahnya sudah mulai basah dengan keringat dingin, bahkan tangan yang tengah memegang kemudi mobil pun ikut bergetar ketakutan.
"Kau orang pertama yang berani berbicara seperti itu padaku, setelah kau tau siapa aku! Biasanya orang-orang yang yang bertemu denganku akan ketakutan, tapi beraninya kau memarahiku!?" serunya. Suara berat yang mengerikan itu terasa begitu menekan.
"Cuih!" Kara seolah meludah ke bawah, "Takut? Aku tidak akan pernah takut pada bajing*an sepertimu! Kau hanyalah sampah masyarakat! Orang yang harus di singkirkan!"
"Oh? Kau justru membuatku tertarik dengan sikap bar-barmu ini, Karamel!" batin Ando, "Berhenti," titahnya.
Mobil pun berhenti dan secepat kilat, Kara turun dari mobil itu. Dia tidak lantas pergi begitu saja, melainkan mengucapkan kata umpatan lain pada Ando.
"Asal kau tahu saja, ayahku akan mengalahkanmu, lagi!" ucapnya, "Sampai bertemu lagi di hari kematianmu, bajing*an!" Kara mengacungkan jari tengahnya pada Ando.
Mobil pun kembali melaju.
__ADS_1
Kedua bawahan Ando sudah merasa ajal mereka semakin dekat, tapi ternyata hal yang mengejutkannya adalah, Ando tidak marah tapi justru tersenyum.
"Ayahnya pernah mengalahkanku?" pikirnya. Dan sedetik kemudian, dia pun mengerti, "Karamel Delvia Shaenette? Jadi kau anal si pak tua itu? Sepertinya aku berubah pikiran. Aku tidak akan membunuh ayahmu, meskipun jika dia kalah nantinya, nona."
Kedua bawahan Ando pun bisa bernafas lega, setelah beberapa lama Ando tidak bereaksi seperti apa yang mereka perkiraan. Justru sekarang Ando tampak menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Sial! Bagaimana bisa malah bertemu dengan musuh besar ayahku!?" geram Kara sambil menendang kaleng bekas yang tak bersalah.😌
Drtt...
Drtt...
Drtt...
Kara pun mengambil ponsel di sakunya dan menekan tombol hijau itu, "Halo ayah,"
"Kenapa ayah selalu membahas hal ini...?! Ayah selalu saja sengaja memberiku misi sulit akhir-akhir ini. Ayah memang sedang berusaha mendepakku dari organisasi kan?" cecar Kara pada sang ayah, Cleric Bryan Shaenette.
"Kalau kau sudah tau, maka ikuti saja apa yang ayah mau. Ayah juga tidak memaksamu untuk menikah dengan orang pilihan ayah... kau bebas memilih siapapun yang kau sukai," ujarnya.
"Sudahlah ayah, aku lelah. Aku baru saja melewati gerbang neraka LAGI, gara-gara ayah! Ayah menyebalkan!" geramnya, lantas mematikan ponselnya.
"Anak ini benar-benar membuat kepalaku pusing!" seru Cleric setelah sambungan telepon terputus.
__ADS_1
"Ada apa paman?" tanya Sam yang heran, saat melihat Cleric mengusap kasar wajahnya.
"Aku sudah putuskan, aku akan segera mengurus pengangkatanmu sebagai anakku. Setidaknya aku bisa mendapatkan anak yang nurut padaku, dan juga cucu darimu," selorohnya.
"Astaga paman Cleric, aku ini masih SMA. Bagaimana bisa kau bisa memintaku memberikanmu cucu?"
"Sekarang ini menikah muda sangat wajar, Sam. Apalagi pria tampan sepertimu, pasti banyak yang melirik," candanya, kemudian terkekeh.
Keberadaan Samudra, setidaknya bisa membuat Cleric sedikit melupakan kekesalannya pada, Karamel yang tidak juga mau membuka hatinya lagi untuk seorang pria. Dan yang lebih parahnya lagi, Kara bahkan pernah mengatakan jika dia tak akan menikah seumur hidupnya. Bagaimana Cleric tidak pusing memikirkan anaknya, yang ingin menjadi perawan tua seumur hidup itu?
Hari demi hari pun berganti. Dan selama beberapa hari ini, kehidupan Marisa dan Kenzo rasanya terlalu tenang. Namun hal itu, justru membuat Marisa memiliki firasat yang buruk.
"Sayang," panggilnya pada Kenzo yang kini sedang berbaring sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ehm?"
"Apa kau tidak merasa aneh? Banyak masalah yang sedang menimpa kita berdua, tapi hampir selama 5 hari ini kehidupan kita sepertinya terlalu tenang."
"Lalu? Bukankah itu bagus?" tanya Kenzo.
"Mungkin memang bagus untuk saat ini. Tapi menurut pengalamanku, hal semacam ini biasanya adalah pertanda buruk. Seperti domba yang di beri makan hingga kenyang, tapi pada akhirnya itu semua hanya karena domba itu akan di sembelih."
"Tenang saja. Paman Cleric sudah meminta orang-orangnya untuk terus mengawasi kita, 24 jam. Jadi jika ada hal buruk yang terjadi pada kita, paman Cleric akan segera bertindak."
__ADS_1
"Tapi aku masih sedikit bingung. Kenapa nenekmu tak lagi berusaha memisahkan kita, dan kenapa Ando belum bertindak? Itu lah yang membuatku terus merasa tidak tenang."
"Baiklah, aku akan membuatmu melupakan semua pikiran buruk itu dari kepalamu," ujar Kenzo, kemudian dia berbisik, "Ini sudah waktunya untukku berbuka puasa, kan, sayang?" bisik Kenzo tepat di telinga Marisa.