
"Dasar pemaksa!" umpat Marisa dengan mulutnya, tapi hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.
"Jangan mencoba jual mahal, jidatmu sudah mengatakan segalanya," Kenzo menunjuk dahi Marisa dengan telunjuknya.
"Kenapa kai selalu saja melontarkan body shaming padaku?" gerutunya dengan bibir manyun, "Apa kau tau, aku ingin membalas. Sangat ingin! Tapi sayangnya, tidak ada dari fisikmu yang bisa ku cela! Dasar curang!" sambungnya.
"Karena itulah kau seharusnya bersyukur mempunyai suami sepertiku. Dan itu pasti sudah menghabiskan 10 tahun keberuntunganmu," ejek Kenzo sambil mencubit kedua pipi Marisa dengan gemas.
"Apa kau bisa lebih narsis lagi?" tanya Marisa dengan nada mencibir.
"Tentu saja bisa, aku ini tampan, kaya, pintar dan juga baik hati!" bisiknya tepat di sebelah telinga Marisa.
"Astaga...! Sudah saatnya julukan Muktar ku ganti Rasis, alias raja narsis!"
Tok...
Tok...
Tok...
Cklak!
"Pesanan anda, tuan!" ucap Arka dengan penuh penekanan.
"Jangan perlihatkan wajah itu padaku, akan ku berikan bonus 3x lipat untukmu."
"Siap 86! Semoga urusanmu lancar jaya!" seru Arka dengan bahagia.
"Sudah sana pergi, kalau tidak kau akan telat meeting!" usirnya.
"Tebu! Habis manis sepah di buang!" gumam Arka setelah pintu kamar Kenzo kembali tertutup.
"Pakai ini."
__ADS_1
Marisa pun mengambil paper bag merah itu tanpa berkata apapun lagi, dia pun masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Lima menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka dan Marisa keluar dari sana dengan gaun yang membuatnya terlihat anggun.
Kenzo hanya melongo dengan penampilan Marisa saat ini. Bahkan dia terpana sampai lupa cara berkedip.
"Apa aku secantik itu sampai kau melihatku tanpa berkedip?" tanya Marisa dengan dengan bangga.
Kenzo pun tersadar dari keterpanaannya, "Siapa tadi yang baru saja bilang kalau aku adalah raja narsis? Tapi sekarang dia bahkan lebih narsis dariku? Dasar Rasis 2 Ratu Narsis!" ejek balik Kenzo.
Mereka pun akhirnya berangkat ke tempat tujuan mereka.
"Sebenarnya kita ini mau kemana? Kenapa dari tadi tidak sampai-sampai?" gerutu Marisa.
"Sebentar lagi," jawab Kenzo yang masih terus sibuk dengan ponselnya.
Marisa mendengus kesal, karena bosan dengan perjalanan yang cukup lama.
Di sisi lain...
Maria membaca pesan yang masuk ke ponselnya dengan alis yang bertaut. Johan yang melihat raut wajah Maria, tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Dari siapa? Kenapa muka lo aneh kayak gitu?" tanya Johan.
"Nggak tau."
"Loh? No asing?"
"Ehm," jawab Maria dengan deheman dan anggukan kecil, "Tapi yang lebih buat gue ngerasa aneh, adalah isi pesannya," sambungnya.
"Isi pesannya? Memangnya apa isi pesan itu?"
"Lihat dan baca sendiri."
__ADS_1
Marisa menyodorkan ponselnya pada Johan, dan tanpa ba bi bu langsung saja di sambar olehnya.
Alis Johan pun ikut bertaut kala membaca isi pesan itu, "Kenapa bisa ada orang aneh yang mengirim pesan seperti ini?" gumam Johan dengan raut wajah yang sulit di mengerti.
"Entahlah, tapi sepertinya aku mencurigai seseorang."
"Siapa?"
"Mungkin saja itu..." Maria terdiam sejenak, "Lupakan saja, mungkin itu cuma dugaan berlebihan gue doang saja. Bisa aja kan, orang ini cuma salah kirim."
"Mungkin aja, tapi gimana kalau itu benar?"
"Tergantung situasinya."
Tanpa terasa, mereka pun sampai di lokasi pemotretan. Karena hari ini adalah jadwal Maria melakukan pemotretan untuk foto cover majalah King Jewelry.
"Terimakasih udah nganterin gue, lo bisa balik kerja dengan tenang. Gue pasti bakal baik-baik aja kok. Dia itu seorang CEO, nggak mungkin dia bakal dateng ke lokasi kan? Lagipula kalaupun beneran dia datang, dia nggak akan mungkjn berani sembarangan bertindak di depan umum," Maria mencoba membujuk Johan untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya, tapi mana bisa Johan tidak khawatir.
"Ya, terserah padamu saja," ucap Johan mengalah, namun tentu saja hanya sebatas kata-kata.
Setelah Maria turun dari mobilnya dan berjalan ke lokasi pemotretan, Johan pun juga memakai topi miliknya dan menyusul Maria. Namun Johan tetap menjaga jarak dari Maria, dan hanya menjaganya dari jauh.
"Gye yakin, dia pasti bakalan datang ke sini. Jadi gue nggak akan ninggalin lo sendiri, Maria," batin Johan yang sangat yakin jika orang itu akan datang.
Siapa lagi kalau bukan CEO boneka dari King Jewelry, Dimas. Seorang playboy cap kadal, yang namanya sudah sangat malang melintang dan dikenal di dunia para buaya.
Johan dengan setia memantau Maria dari kejauhan, hingga hampir satu jam sudah berlalu dan Dimas tidak juga datang.
"Apa dia benar-benar nggak datang? Apa mungkin gue aja yang terlalu khawatir? Ya udah deh, mending gue balik aja" pikirnya. Tapi baru saja Johan ingin berbalik dan kembali ke mobilnya, dia melihat orang yang dia tunggu sejak tadi.
Kembali pada Marisa...
Mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan, dan betapa terkejutnya Marisa kala melihat tempat yang mereka tuju itu.
__ADS_1
"Pencatatan sipil!?"