
"Astaga...! Ini orang kenapa pake peluk-peluk gue sih? Aarrghhh...!" jerit Marisa dalam hati.
Marisa terus bergerak dengan gelisah di dalam pelukan Kenzo, hingga bisikan Kenzo di telinganya membuat Marisa menegang seketika.
"Jangan terus bergerak atau aku tidak berjanji untuk tidak melakukan sesuatu padamu."
Deg!
Deg!
Deg!
"Aaarrggh...! Apa dia tau kalau gue cuma pura-pura tidur?!" serunya dalam hati.
Marisa yang gusar, masih terus saja bergerak dengan gelisah.
"Sudah kubilang jangan bergerak sembarangan, atau kau akan membangunkan dia lagi. Asal kau tau saja, sangat tidak mudah untuk membuatnya tidur." Kenzo menakut-nakuti Marisa untuk menggodanya.
Marisa pun langsung memutar tubuhnya dan bertanya pada Kenzo, "Apa maksudmu?"
"Sudah tidak mau pura-pura tidur lagi?"
Blar!
"Ah sial! Kenapa gue malah nanya sama dia sih...? Tadi kan ceritanya gue lagi tidur, mana ada orang tidur sambil nanya!" kesalnya dalam hati.
"S-siapa juga yang pura-pura tidur? Aku tadi itu benar-benar tidur, tapi kau yang terus saja berbicara di telingaku. Bagaimana bisa aku tidak bangun, bos." Kilahnya.
"Oh ya?" tanya Kenzi tidak percaya.
"T-tentu saja!"
"Kalau begitu tatap mataku dan katakan, kalau kau tadi benar-benar tidur," tantang Kenzo sambil mengangkat dagu Marisa dan membuat wajah mereka saling berhadapan.
"Ya Tuhan...! Kenapa kau menciptakan makhluk sesempurna ini di muka bumi?" jeritnya dalam hati.
"Ayo cepat katakan."
"Kau ini apa-apaan sih, lebih baik kau tidur saja bos. Aku akan berjaga malam," Marisa yang baru saja hendak berdiri, kembali terjatuh dan berbaring di atas ranjang karena Kenzo menariknya.
"Tidak perlu. Di sini sangat aman. Bukankah, pelaku teror juga sudah di temukan dan dia juga bukan musuh."
"Tapi kan itu tugasku untuk memastikan keamananmu, bos..." desak Marisa yang merasa dia harus segera menjauhkan dirinya dari Kenzo, jika bisa dia harus setidaknya berada dalam radius jarak aman.
"Kau masih tau kalau aku bosmu? Jadi kenapa kau tidak mematuhi perintahku?"
__ADS_1
"T-tapi kan menemanimu tidur itu tidak ada dalam daftar tugasku sebagai bodyguard, bos."
"Bisakah kau berhenti memanggilku bos? Rasanya sangat tidak menyenangkan. Dan lagi, menemaniku tidur memang tidak ada dalam daftar tugasmu sebagai bodyguard. Tapi itu ada dalam daftar tugasmu sebagai calon nyonya Kenzo Alexander," ucapnya.
"B-bukankah itu hanya pengaturan yang ayahmu tetapkan? Dan belum tentu juga itu terjadi, bukan?"
"Aku tau. Tapi apa kau tidak mau menjadi nyonya Kenzo Alexander? Seharusnya kau bangga mendapatkan gelar itu, di luar sana bahkan wanita yang ingin menggantikan posisimu itu bisa berbaris dari bekasi sampai bogor."
"Tapi aku tidak mau berada dalam antrian itu."
"Tapi aku sudah memasukkanmu melalui jalur ekspres, jadi kau tidak perlu capek-capek dan antri dan langsung di terima." Jawab Kenzo yang malah mengikuti kegilaan kata-kata Marisa.
"Tapi kan aku tidak ingin."
"Tapi aku ingin."
"Aku tidak!"
"Aku ingin!"
"Atas dasar apa kau memaksaku?!"
"Karena aku mencintaimu, Marisa! Aku mencintaimu!" seru Kenzo yang sudah tidak tahan lagi memendam perasaannya pada manusia aneh bin ajaib yang sangat tidak peka ini.
"Tapi aku juga sedang tidak bercanda, aku serius!"
"Katakan sekali lagi, aku yakin lidahmu tadi sedikit kesleo sehingga mengatak sesuatu yang tidak seharusnya."
"I love you, aku mencintaimu, salanghaeo, aishitemasu, Aloha wau iā ʻoe. Apa itu masih kurang? Kalau iya akan aku katakan lagi sampai kau puas."
"Tidak! Itu cukup! Aku masih belum bisa mencerna semuanya di otak miniku ini. Pertama kali kita bertemu, kau bahkan mengataiku bebek kuning. Lalu aku justru menjadi bodyguardmu, hingga akhirnya menjadi pacar pura-puramu." Marisa pun duduk dan mengurut-urut pelipisnya.
"Jadi sekarang kita bisa akhiri status pacar pura-pura itu dan menggantinya dengan status pacar asli, no Kw!" ujar Kenzo yang kini ikut duduk sambil memandangi wajah Marisa.
"Memangnya ada ya, orang yang menyatakan cinta dengan cara setidak romantis ini?" gumam Marisa.
"Jadi menurutmu ini tidak romantis? Baiklah, kalau begitu besok akan ada siaran ulang dengan cara yang berbeda."
"Tunggu! Bukan begitu maksudku—"
"Tidak ada penolakan! Sekarang tidurlah atau aku yang akan menidurimu!" ancamnya yang benar-benar hanya sebatas ancaman.
Karena keluarga Kenzo juga sangat menjaga nama baik mereka. Sebelum ada ikatan yang pasti, dia tak akan melakukan sesuatu di luar batas.
"Tapi kan aku belum bilang kalau aku menerima pernyataan cintamu!?" sahut Marisa dengan kesal.
__ADS_1
"Maksudmu kau menolakku?" tanya Kenzo dengan alis bertaut dan wajah yang sudah tidak bersahabat.
"Ehm... tidak maksudku, biarkan aku memikirkannya lebih dulu. Jadi bisakah acara pernyataan perasaan ulangmu itu di tunda dulu?"
"Sampai kapan?"
"Tentu saja sampai gue jatuh cinta sama lo!" serunya dalam hati.
"Menunggumu sampai kau mengatakan kalau kau mencintaiku? Dengan kau yang bahkan tidak peka pada perasaanmu sendiri? Bisa-bisa aku jadi perjaka tua karena menunggumu!"
"Darimana kau tau kalau aku menyuruhmu menunggu sampai aku jatuh cinta padamu? Apa kau itu cenayang?!"
"Bukankah sudah pernah ku bilang, kalau apa yang kau pikirkan itu selalu saja tertulis jelas di jidatmu yang seluas lapangan golf ini?"
Marisa pun hanya terdiam dan kembali membaringkan tubunya tanpa menanggapi ucapan Kenzo.
"Sepertinya aku terpaksa menggunakan cara yang sedikit jahat padamu, Marisa." Batin Kenzo sambil menatap punggung Marisa.
Dan Kenzo pun akhirnya memutar tubuhnya, dan menbuat mereka tidur saling membelakangi.
Bahkan Kenzo menaruh guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.
"Apa dia marah?" batin Marisa. "Aaarrrghh! Apa yang gue pikirin sih? Gue kan emang nggak ada perasaan khusus sama dia!"
Malam pun berlalu, dan pagi hari pun sudah tiba. Marisa yang baru saja terbangun sudah tidak melihat Kenzo di sampingnya lagi.
"Apa dia beneran marah, sampai nggak mau ketemu sama gue?" batinnya.
Marisa pun segera mandi dan turun ke lantai bawah.
Di meja makan, dia hanya melihat Arka dan batang hidung Kenzo bahkan tidak terlihat sama sekali.
"Kenapa kau sendirian?" tanya Marisa yang tidak ingin menanyakan keberadaan Kenzo secara langsung.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa," ucapnya, "Tidak bisakah menjawabku begini? Ya aku sendirian karena Kenzo sedang keluar. Dasar Arkarazi!" geramnya.
Arka yang melihat raut wajah Marisa yang nampak kesal pun hanya tersenyum tipis, "Apa salah steak itu sampai kau memutilasinya dengan begitu kejam?" goda Arka yang melihat Marisa memotong-motong daging panggang di hadapannya seperti seorang psychopath yang membunuh korbannya.
"Karena aku ingin!" ketus Marisa yang sedang tidak bisa menerima candaan.
Tak!
Marisa menusuk daging itu dengan tatapan setajam silet pada Arka.
__ADS_1