My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 85


__ADS_3

"Apa kau pikir ranjangku itu ranjang kecil yang hanya muat satu orang? Bahkan jika ada 3/4 dirimu pun masih muat!"


"Ya aku tau, orang sekelas bos tidak mungkin memakai ranjang kecil. Tapi kan—"


"Diamlah, atau akan ku lakban mulutmu itu."


Marisa pun auto menutup rapat mulutnya, "Aaarrgghh! Gimana bisa gue seranjang sama scowok?! Kalau Maria tau dia bisa ngamuk!" batinnya, "Terus gimana kalau nanti, dia—"


"Jangan berpikiran macam-macam! Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu. Aku tidak tertarik dengan papan reklame sepertimu." ujar Kenzo yang seolah tau isi pikiran Marisa.


"Papan reklame!? Dari sisi mana dia ngeliat gue, sampe bisa ngatai gue papan reklame?! Badan bagus gini di bilang papan reklame!" batinnya, "M-mana ada aku berpikiran buruk, bos. Aku hanya berpikir bagaimana jika nanti aku mengorok dan mengganggu tidurmu," kilahnya.


"Aku punya penutup telinga," jawabnya singkat.


"L-lalu bagaimana kalau aku tidak bisa diam saat tidur."


"Maka aku akan memelukmu semalaman dan membuatmu tidak banyak bergerak!"


Glek!


Marisa kesulitan menelan salivanya saat mendengar jawaban Kenzo itu.


"Hahaha... bos, kau bisa saja bercandanya."


"Menurutmu itu lucu? Tapi sayangnya aku tidak sedang bercanda."


Deg!


Marisa kembali dibuat terkejut dan kehilangan kata-katanya.


Sedangkan dalam hati, Kenzi sedang tersenyum karena melihat raut wajah Marisa yang sudah memerah, "Ekspresi yang menggemaskan," batinnya.


Karena hari sudah lumayan malam, mereka pun segera membersihkan diri agar bisa segera beristirahat.


"Kau duluan saja yang mandi," ucap Kenzo.


"Ok."


Marisa pun masuk ke kamar mandi dan mulai mengisi bathup dengan air hangat. Marisa merendam tubuhnya untuk sekedar mengurangi rasa lelahnya.


"Astaga! gue lupa bawa handuk!" seru Marisa panik, setelah dia menyelesaikan ritual mandinya. "Aduh... gimana nih...?! Nggak mungkin kan, gue ujug-ujug nyelonong keluar kayak gini? Apa gue minta tolong Kenzo aja buat ambilin handuk? Sekali-kali nyuruh bos, boleh lah ya..."


Marisa pun membuka sedikit pintu kamar mandi itu, dan hanya mengeluarkan kepalanya dari sana untuk mencari keberadaan Kenzo.


Dan ternyata Kenzo beranda di meja kerjanya dan tampak sedang mengecek sesuatu di laptopnya.

__ADS_1


"Bos..." panggilnya.


Kenzo pun menoleh ke arah Marisa dengan dahi berkerut, tanpa menjawab panggilan Marisa.


"Boleh minta tolong nggak bos?"


"Apa?"


"Tolong ambilin handuk," ucap Marisa sambil memamerkan senyum close upnya.


Kenzo pun tanpa berkata-kata langsung pergi mengambilkan handuk untuk Marisa.


"Nih," Kenzi mengulurkan handuk itu pada Marisa.


"Hehe... makasih bos."


Baru saja Marisa akan bergeser dan menutup pintu itu kembali, di justru terpeleset.


"Aaah!"


Kenzo dengan sigap menahan pinggang Marisa. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa detik. Benar-benar hanya untuk beberapa detik, karena di detik berikutnya Kenzo merasakan sesuatu yang sangat empuk dan hangat menempel di dadanya.


Kenzo menurunkan pandangannya dan melihat...


Blush!


"Aaa! Dasar mesum...!"


Marisa berjongkok untuk sebisa mungkin menutup aset-aset berharganya.


Kenzi yang baru saja sadar pun segera mengambil handuk yang tadi terlempar saat Marisa terpeleset.


Kenzo menutupi tubuh Marisa yang sedang berjongkok dengan handuk itu, "Diamlah."


Marisa terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Apa yang kau lakukan?!" Marisa berusaha lepas dari gendongan Kenzo.


"Diamlah, Marisa...! Jangan membuatku benar-benar menjadi orang yang tidak bermoral!" geram Kenzo sambil menahan sesuatu di bawah sana yang sepertinya mulai terbangun.


Itu terjadi karena gerakan Marisa tadi, yang berusaha turun dari gendongan Kenzo.


"Apa maksudmu? Apanya yang menjadi tidak bermo—" mata Marisa membulat seketika, kala merasakan sesuatu yang keras menyundul-nyundul pinggangnya, "I-itu?"


Blush!

__ADS_1


Pipi Marisa pun memerah seketika, kala menyadari benda apa itu.


Kenzo membaringkan Marisa di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tunggu sampai aku sudah masuk ke kamar mandi, kau baru boleh turun dari sini untuk mengganti baju."


Marisa hanya mengangguk mengiyakan ucapan Kenzo dengan tatapan kosong. Sedangkan pikirannya masih mengarah ke benda yang menyudul pinggangnya tadi, "A-apa yang tadi itu benar-benar miliknya? K-kenapa sepertinya s-sangat besar?" batinnya.


Brak!


Kenzo dengan segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu itu dari dalam.


"Shitt! Bagaimana bisa dia bereaksi hanya karena melihatnya? Bahkan itu pun hanya sekilas, benar-benar sekilas!" gumam Kenzo sambil meraup kasar wajahnya.


Dengan terpaksa, Kenzo mandi menggunakan air dingin. Dia melakukannya untuk menenangkan rudal pukgoksongnya yang sudah siap meluncur itu.


Cukup lama dia mengguyur diri di bawah shower, hingga akhirnya dia baru menyudahi ritualnya setelah sang junior kembali tenang.


Cklak!


Kenzo mengedarkan pandangannya untuk mencari di mana Marisa. Dan ternyata orang yang membuatnya harus rela mandi air dingin di malam hari itu, sudah tertidur pulas seperti tidak terjadi apapun.


"Gadis ini...!" gumam Kenzo yang kemudian berjalan menuju lemari pakaiannya.


Sedangkan dalam hati, marisa berucap, "Oh ya ampun...! Roti sobeknya bikin gue traveling! Mana rambutnya masih basah. Aaarrggh! Menggoda iman banget sih...!" jerit Marisa dalam hatinya.


Karena sebenarnya dia sama sekali belum tidur, dan sempat melihat Kenzo saat dia baru keluar dari kamar mandi.


Dan karena itu jugalah, dia memilih untuk pura-pura tidur saja. Kenzo yang sudah selesai berpakaian pun berjalan menuju ranjang.


Deg!


Deg!


Deg!


Degup jantung Marisa semakin kencang kala Kenzo semakin dekat dengannya.


Dan yang lebih membuat sport jantung lagi, adalah saat Kenzo naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Marisa. Begitu dekat. Ingat! Sangat Dekat! Sampai-sampai saat dia memiringkan tubuhnya, wajah Marisa berada tepat di depan dada bidangnya.


Bahkan Marisa bisa mencium aroma tubuh Kenzo yang memabukkan, "Oh No...! Gini nih, kalo hobi baca novel ber bon cabe, alhasil otak gue jadi suka banget traveling kalo liat beginian!" seru Marisa dalam hati.


Tubuh Marisa pun mulai bergerak-gerak karena rasa gelisah, geli-geli basah. Eh enggak ya...! Canda doang🤣, dia benar-benar hanya gelisah karena jaraknya yang terlalu dekat dengan tubuh Kenzo.


"Sial...! Nih otak gue kenapa isinya ke arah sono semua sih...? Emang gue semesum itu ya? Huhu... ampunilah manusia mesum ini, Tuhan... Bukan aku yang tidak kuat iman, tapi godaan di depan mataku yang terlalu mengerikan..." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Tapi sialnya, saat Marisa sedang gencar-gencarnya menahan piktor-piktor kecil yang terus di produksi di dalam otaknya, apa yang Kenzo lakukan justru membuatnya semakin tegang.


__ADS_2