My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 110


__ADS_3

"Bereskan!" serunya pada beberapa bawahannya yang sudah bersiaga di belakangnya.


Mereka pun mengangkat tubuh ketiga orang yang sudah tidak lagi bernyawa itu.


"Aku memang bukan orang baik. Tapi bos Ando memang terlalu kejam, bahkan dia melakukan hal sekeji ini pada keluarganya sendiri."


"Sial! Kalau aku bisa memutar waktu, aku tidak akan memilih menjadi bawahan bos Ando. Pada keluarganya saja dia sebrutal ini, apalagi pada bawahannya!?"


"Bos Ando benar-benar mengerikan! Pantas saja nona Marisa yang pemberani bahkan tidak berani menerima bos Ando menjadi prianya, kalau aku pun juga pasti akan menolak. Apalagi nona Marisa pernah melihat secara langsung, saat bos Ando membunuh targetnya."


Para bawahan Ando pun hanya berani mengkritik dan menggunjingnya dalam hati. Mereka tidak punya nyali dan nyawa cadangan, yang bisa membuat mereka berani mengucapkan kata-kata itu secara langsung pada Ando.


Dulu Marisa memang pernah memergoki secara langsung, saat Ando membunuh targetnya. Awalnya dia tidak mempercayai kata-kata Harvey yang memintanya untuk tidak menanggapi Ando, dan malah menyuruh Marisa untuk menjauh dari Ando karena Ando adalah seorang pembunuh bayaran yang begitu mengerikan.


Harvey memang sedekat itu dengan Marisa yang notabenenya asik di ajak bicara dan juga baik. Karena itulah, dia selalu jujur dengan apapun yang sedang dia pikirkan. Termasuk masalah Ando.


Ando mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, dan mengelap wajah serta tangannya dari noda darah. Setelah itu, dia pun keluar dari rumah keluarga Dewangga.


"Bakar!" titahnya.


"Baik, bos."


Tak perlu waktu lama. Rumah besar dan megah yang di bangun di lingkungan khusus itu, sudah di lalap si jago merah yang mulai menggila.


Dan karena itu adalah kawasan pribadi, alias jauh dari pemukiman lain. Kebakaran pun tidak cepat di ketahui oleh orang-orang.

__ADS_1


"Sekarang kita mau kemana bos?"


"Kembali ke markas," jawabnya sambil menyalakan cerutunya.


Asap mulai mengepul dan memenuhi mobil.


"Marisa... aku akan datang. Tunggulah sebentar lagi," batinnya dengan senyum smirk terukir di wajahnya.


Malam pun tiba, dan kini Marisa sudah tertidur pulas di dalam pelukan Kenzo. Namun tidak dengan Kenzo, yang masih terjaga meskipun malam sudah sangat larut.


Kenzo perlahan melepaskan pelukannya dari Marisa dan beranjak dari kamar mereka, menuju ruang tengah.


Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, "Halo."


"Iya, tuan muda. Apa ada masalah? Tidak biasanya tuan muda menghubungiku," tanya orang dari seberang sana, "Bahkan aku berada di urutan pertama, orang yang paling tidak ingin kau hubungi," sambungnya dalam hati.


"Bantuan apa? Kenapa tuan muda tidak menghubungi ayah tuan muda saja?"


"Ayah mungkin sudah tidur sekarang, jadi aku menghubungi paman Cleric yang aku yakin masih terjaga di jam-jam seperti ini."


"Katakanlah, tuan muda. Bantuan apa yang tuan muda inginkan?"


"Tolong tangkap seseorang bernama Ando," ucap Kenzo.


"Ando? Tuan muda tidak mungkin berniat untuk menangkap iblis berdarah dingin dari keluarga Dewangga, bukan?" tanya Cleric dengan heran. Pasalnya, Kenzo tak pernah mau ikut campur dalam urusan dunia bawah. Tapi kini, dia justru ingin menangkap seseorang bernama Ando.

__ADS_1


Jika orang itu bukanlah orang yang merepotkan, maka Kenzo tidak akan mungkin meminta bantuan padanya. Karena itulah dia berpikir jika Ando yang Kenzo bicarakan, adalah orang yang sama yang ada dalam benaknya.


"Sayangnya memang dia yang ingin aku tangkap, paman Cleric," jawab Kenzo.


"Darimana tuan muda mengenal Ando? Lalu apa masalah tuan muda dengannya?"


"Dia mengincar istriku, paman Cleric. Dan aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada istriku," jawaban Kenzo sontak saja membuat Cleric terperanjat.


"Tunggu! Tadi tuan muda bilang, istri?! Aku tidak salah dengar bukan, tuan muda?!" tanya Cleric dengan histeris.


"Paman Cleric, bisakah paman berhenti memanggilku tuan muda?" ucap Kenzo, "Aku memang sudah menikah paman, tapi paman tau kan apa yang membuatku menyembunyikan pernikahanku?" ujar Kenzo.


"Baiklah, Kenzo kecil. Aku tau jelas alasannya, pasti karena ibu suri kan?" ejeknya sambil terkekeh kecil, "Baiklah aku akan membantumu, tapi aku juga harus meminta persetujuan dari ayahmu. Bagaimana pun ayahmu adalah pemimpin di sini," jawabnya.


"Itu terserah paman saja. Tolong kabari aku jika ada info apapun, paman."


"Kau tenang saja Kenzo kecil, si iblis berdarah dingin itu memang merepotkan. Tapi jika kami sudah menentukan target, maka tidak ada yang bisa kabur, termasuk dia."


"Baguslah kalau paman Cleric punya kepercayaan diri sebesar itu. Aku juga bisa sedikit bernafas lega," jawab Kenzo.


"Tapi kau masih harus berusaha untuk memberiku keponakan yang cantik dan tampan, Kenzo kecil. Setidaknya itu bisa mengobati rasa kesalku pada Karamel," ujarnya yang kemudian menghela nafas panjang.


"Apa bocah itu masih belum mau menikah juga paman?"


"Seperti itulah. Aku sudah lelah memaksanya, jadi biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan,"

__ADS_1


Kenzo pum hanya terkekeh mendengar ucapan pasrah dari Cleric, yang sudah sering dia dengar saat mereka bertemu.


__ADS_2