
...Roda kehidupan akan terus berputar...
...Jadi kala kau sedang berada di atas janganlah suka sesumbar...
...Agar saat kau berada di bawah kau bisa tetap tegar...
...By : Rosemarry...
...*****...
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Dia sudah baik-baik saja, hanya saja caramu itu terlalu mainstream nona. Kenapa kau harus merendam tuan Kenzo di bathtub dengan air dingin?" tanyanya sambil geleng-geleng kepala.
"Ya... mau bagaimana lagi, bosku itu hampir saja memakanku tadi untung saja aku cepat-ce—" ucapan Marisa pun terhenti kala menyadari mulut embernya sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan, "Ehm... maksudku, tadi keadaan bosku itu sudah sangat... ehm... mengkhawatirkan. Ya, mengkhawatirkan. Jadi aku terpaksa membuatnya pingsan dan merendamnya dengan air dingin." Ralat Marisa sambil nyengir kuda.
"Benarkah? Kukira tuan Kenzo hampir menerkammu tadi." Goda dokter Bian pada Marisa.
Blush!
Pipi Marisa pun terasa panas dan membuatnya semakin salah tingkah.
"E... ti-tidak dok, mana ada kejadian seperti itu? Ehm... terimakasih dokter sudah datang kesini, aku masuk dulu untuk melihat kondisinya."
Brak!
Marisa pun masuk dan menutup pintu itu dengan keras, sampai-sampai membuat Kenzo terlonjak kaget.
"Marisa...! Apa kau mencoba membuatku serangan jantung, hah?!" tanya Kenzo dengan wajah kesalnya.
"Hehe... maaf bos, aku tidak sengaja." Marisa pun berjalan mendekat dan duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang besar itu.
"Ini semua gara-gara kau!" sungut Kenzo yang mengingat dirinya di rendam bak cucian kotor oleh Marisa, tadi.
"Gue juga lakuin ini demi keamanan kita berdua, Muktar...! Tapi kenapa rasanya nggak adil banget sih? Kenapa si Muktar nggak ingat kelakuan durjananya tadi, kalau begini kan jadi gue doang yang canggung!" gumam Marisa dalam hati.
"Hm... Mau bagaimana lagi, bos. Tadi itu keadaan khusus, jadi di perlukan juga penanganan yang khusus hehe..." Jawab Marisa sambil memamerkan senyum pepsodentnya.
Drtt...
__ADS_1
Drtt...
Drtt...
"Bos ponselnya bunyi."
"Aku tidak tuli." Ketus Kenzo.
"Cih! Gue kan cum ngasih tau, dasar Muktar sialan!" umpatnya dalam hati sambil memutar jengah bola matanya.
"Ambilkan ponselku!"
"Silahkan, paduka raja." Marisa pun memberikan ponsel itu pada Kenzo sambil tersenyum kecut.
"Halo."
"Ken, apa yang terjadi padamu? Kenapa tadi Marisa meminta dokter Bian datang?"
"Aku tidak apa-apa, hanya tidak sengaja jatuh ke perangkap kecil bajinkgan itu."
"Hah? Antonio? Apa lagi yang orang itu lakukan?"
"Nanti saja ku ceritakan, aku mau istirahat dulu."
"Tapi Ken—"
"Dasar temen minus akhlak! Kau dan bodyguardmu itu tidak ada bedanya! Eh salah, hanya beda jenis kelamin saja!" omel Arka pada ponselnya, karena Kenzo juga melakukan hal yang tadi Marisa lakukan padanya.
Gea yang mendengar dan melihat Arka marah-marah sendiri pada ponselnya pun, berusaha menahan tawanya.
Di saat yang sama...
"Kevin...! Kenapa kau memperlakukanku seperti ini...!?" gadis itu memegang lengan Kevin dan bergelayutan di sana layaknya seekor koala.
"Apanya yang apa? Gue emang kayak gini, Bella. Mungkin lo aja yang baru tau. Udah sana minggir, Rahma udah nungguin gue buat hangout hari ini!"
"Rahma? Siapa dia?! Cewek gatel mana lagi sih?!" batin Bella geram.
"Minggir, Bella!" Kevin menyentak tangan Bella dengan kasar dan meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Sialan...!" umpat Bella kala Kevin sudah menjauh darinya.
"Hehe... ternyata si Rahma berguna juga." Pikir Kevin yang kembali teringat dengan Marisa. "Btw, gimana keadaanya Marisa ya? Coba gue telfon aja kali ya?"
Kevin pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon Marisa.
"Ya, Kevin?" jawab Marisa dengan setengah berbisik.
"Hy Mar, lo lagi sibuk ya?"
"Nggak sih, tapi kakak lo lagi tidur. Makanya gue ngomongnya pelan, ntar kalo ke ganggu yang ada dia ngamuk."
"Hah?! Maksud lo apa? Kakak gue tidur, dan lo nungguin dia gitu?" tanya Kevin dengan terkejut.
"Iya."
Kevin bertanya dengan hati-hati, "Ehm... Lo nggak ada something kan sama kakak gue?"
"No! Nggak usah ngaco deh, Vin..."
"Ya kan... kali aja gitu, lagian kata-kata lo bikin gue mikir yang enggak-enggak." Kevin pun terkekeh.
"Tadi ada masalah dikit sama Kakak lo, tapi udah aman kok sekarang dia lagi istirahat."
"Masalah?"
"Iya." Marisa pun menceritakan keseluruhan ceritanya, tapi tidak lupa memotong adegan setengah panasnya bersama Kenzo tadi.
"Ooh... jadi gitu? Sekarang lo di mana, biar gue susulin lo ke sana."
"Di hotel XX, kamar 203."
"Ok, gue otw."
Sambungan telepon pun terputus, dan Marisa melirik ke arah Kenzo yang masih tertidur pulas.
"Ganteng sih... tapi kenapa lo harus nyebelin? Coba aja lebih friendly gitu, dikit... aja. Pasti auto jadi buronan mertua." Gumam Marisa sambil tertawa kecil.
Saat memperhatikan wajah Kenzo, adegan setengah panas tadi pun auto di reply oleh otak Marisa.
__ADS_1
Rasanya Marisa bisa mengingat dengan jelas, bahkan setiap detail adegan tadi tanpa terlewat sedetik pun.
"Yamete...!"