
...Penyesalan selalu datang akhir...
...Jadi sebelum bertindak hendaklah kau berfikir....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Apa yang mau kulakukan? Hm... sebenarnya aku belum memikirkannya, jadi lebih baik aku apakan kau ya? Apa kau mau memberiku saran?" Marisa tersenyum devil pada wanita itu.
"Ugh...!" Kenzo nampak perlahan membuka matanya, namun sepertinya ada sesuatu yang salah dengan tingkah lakunya.
"Haish...! Kau beruntung, aku tidak jadi bermain denganmu sekarang, kita pending dulu sampai urusan yang ini selsai ok?" Marisa menarik perempuan itu dan mengikatnya dengan lingerie milik wanita itu yang sudah dia buang ke lantai.
Marisa membawa wanita itu ke dalam kamar mandi dan mengikatnya di closet dengan gorden hotel yang di robeknya, dan tak lupa menyumpal mulut wanita itu dengan semvak pink milik wanita itu sendiri.
"Tunggu aku di sini ya, sayang. Aku akan segera menemanimu bermain setelah ini." Marisa menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu dengan seringai mengerikan di bibirnya, dan hal itu sukses membuat tubuh sang wanita bergetar ketakutan.
Blam!
Marisa menutup pintu kamar mandi itu dan dia kaget saat melihat Kenzo yang sudah berbaring di atas ranjang, tanpa kemeja yang menutupi hamparan roti sobeknya.
"Omo...! Mataku yang masih murni ini ternodai." Marisa pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
Sedangkan di sisi lain...
Prank!!
Kedua pria bertubuh tinggi besar itu menundukkan kepalanya dan bahkan tidak menghindar sama sekali kala pecahan gelas itu mengenai kaki mereka.
"Bagus! Bagus sekali! Kalian di kalahkan oleh seroang wanita!? Dasar bodoh! Tidak berguna!" bentaknya dengan rahang yang sudah mengeras, dan ubun-ubun yang seakan sudah mengeluarkan asap dan siap menyemburkan lava panasnya.
"Ma-maafkan kami bos, tapi perempuan itu memang benar-benar mengerikan."
"Alasan!! Itu karena kalian saja yang bodoh! Lihat tubuh kalian yang terlihat sekokoh barikade polisi itu, tapi ternyata kalian lembek seperti gula kapas! Bagaimana mungkin kalian berdua bisa di kalahkan begitu mudah oleh wanita gila itu, dan bahkan sampai kalian terluka separah itu!?" berangnya sambil meraup kasar wajahnya.
__ADS_1
"Ma-maaf bos."
"Tidak ada gunanya kalian meminta maaf! Cari tau siapa wanita itu, dan habisi dia! Aku mau besok pagi sudah tidak ada lagi wanita itu di dunia ini, mengerti!?"
"Ba-baik bos, tadi wanita itu juga sempat mengatakan namanya. Bahkan dia seperti menantang kita, jika kita ingin balas dendam."
"Oh? Benarkah? Besar juga nyali wanita brengsek itu! Siapa namanya?"
"Namanya Shifa bos."
Dugh!
"Aww! Sakit! Kenapa kau menyikutku?"
"Namanya bukan Shifa, bodoh! Namanya Marisa, M A R I S A!"
"Oh? Iya kah? Bukannya tadi dia bilang namanya Shifa?"
"Dasar bo—"
Mereka berdua pun tertegun dan terdiam seketika.
"Kalian bilang namanya Marisa?"
"I-iya bos, dia sendiri yang mengatakannya."
"Well... well... well... benar-benar kejutan yang besar, Marisa. Aku tidak sabar melihat kejutan lain yang akan kau berikan padaku."
"Jadi apa kita tetap akan melenyapkan wanita itu bos?"
"Tidak, dia adalah calon nyonya bos masa depan kalian." Ucapnya dengan senyum smirk, "Pergilah dan obati luka kalian."
"Ba-baik bos." Kedua pria berbadan besar itu pun keluar dari ruangan itu.
"Tunggu! Tapi Kenzo kan sudah meminum anggur yang—" Antonio yang mengingat satu hal penting pun membulatkan matanya seketika, "Shitt! Aku berusaha memisahkan mereka, tapi kenapa aku malah mendorong mereka kedalam situasi yang menguntungkan Kenzo!? Sial...!"
__ADS_1
Prank!
...*****...
"Panas...!" gumam Kenzo.
"Itu dia!" Marisa berjalan menuju sebuah vas bunga kecil dan dengan cepat dia mengambil benda kecil yang sudah di set di sana.
Yup! Kamera pengintai, benda itu seperti sudah benar-benar di atur dengan sangat rapi. Namun sayangnya, hal itu tidak dapat mengelabuhi mata Marisa.
Prak!
Marisa membanting benda itu san kemudian menginjaknya hingga hancur.
Grep!
"Aah!" Marisa terperanjat kala sebuah tangan kekar memeluknya erat dari belakang.
Dagu yang bersandar pada bahunya, dan membuat hembusan nafas hangat itu menerpa ceruk leher Marisa dan membuat seluruh tubuhnya meremang seketika.
"B-bos? Ini aku, Marisa sadarlah!" seru Marisa.
"Panas...!" bukannya melepas pelukannya, Kenzo justru menjulurkan lidahnya hingga menyentuh kulit leher Marisa.
"Aah..." Marisa yang merasakan benda basah itu menyentuh ceruk lehernya pun tanpa sadar mengeluarkan suara lucknut dari mulutnya.
Sret!
Kenzo membalikkan tubuh Marisa dan dengan cepat menyambar bibir mungil nan sexy milik wanita di hadapannya itu.
"Emmhh..."
Mulai dari lum atan kecil hingga berubah menjadi lum atan yang menuntut dengan sesa pan-sesa pan kecil, yang dengan lucknutnya membuat Marisa terbuai dan bahkan mulai mengikuti permainan Kenzo.
Hah... hah... hah... Kenzo baru mau melepaskan tautan bibir mereka, kala keduanya butuh menghirup udara untuk melanjutkan aktifitas panas itu.
__ADS_1