My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 45


__ADS_3

...Tidak selamanya, sesuatu yang terlihat keras di luar keras juga bagian dalamnya...


...Dan itulah kenapa ada pepatah mengatakan, "Jangan menilai sesuatu dari luarnya."...


...By : Rosemarry...


...*****...


"Shitt!" Kenzo meraup kasar wajahnya, melihat Kevin membawa Marisa keluar dari kamar itu. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu hilang kendali jika menyangkut si Bebek Kuning itu!?" batin Kenzo yang merasa bingung dengan dirinya sendiri saat ini.


"Ehm... Vin, emang nggak apa-apa ya? Gimanapun ini kan masih jam kerja gue, dan gue masih harus jagain kakak lo sebagai bagian dari tanggung jawab tugas gue."


"Nggak usah khawatirin kakak gue, dia bisa jaga diri sendiri kok."


"Jaga diri sendiri? Mana mungkin si Muktar bisa, tadi aja dia hampir di mamam sama buaya betina kalo aja gue nggak cepet-cepet dateng." Batin Marisa mengingat kala wanita dengan tubuh polosnya, hampir saja menikmati tubuh Kenzo tadi.


"Marisa? Lo nggak apa-apa kan?" Kevin bertanya kala melihat Marisa yang terbengong.


"Hah? Nggak apa-apa, cuma gue nggak bisa ninggalin tanggung jawab gue sebagai bodyguard kakak lo." Marisa merasa tidak enak pada Kevin, "Bagaimana kalau sebagai gantinya, setelah pulang kerja nanti aku traktir kau makan?"


"Makan? Boleh aja, tapi tempatnya gue yang tentuin ya?"


"Boleh, tapi jangan di tempat yang mahal-mahal ya... lo kan tau gue lagi krismon (krisis moneter), kangker (kantong kering) dan blangsak." Ujar Marisa sambil nyengir kuda.


"Siap bos! Gue juga nggak hobi makan di restoran-restoran mewah." Kevin mendekatkan wajahnya pada marisa, "Nggak kenyang, hehe..." bisiknya yang membuat Marisa auto terpingkal-pingkal.


"Bwahaha... ternyata anak anak orang kaya, ada juga yang nggak suka makan di restoran."

__ADS_1


"Ada dong, gue kan spesial telornya dua." Kevin pun terkekeh kecil.


"Ya emang telur lo dua, ya kali empat mau taruh di mana coba?" ujar Marisa dalam hati, karena pengartian 'telur' oleh Marisa dan Kevin yang berbeda arah.


"Ok, kalau gitu nanti lo jemput gue di rumah ya. Gue share lokasinya ke lo, sekali-kali kan gue di bonceng cecan alias cewek cantik naik si Tama." Kevin menaik turunkan alisnya dan membuat Marisa terkekeh.


"Sip! Nanti gue jemput lo, setelah gue pulang kerja. Kalau gitu gue balik dulu ke dalem ya, ntar kakak lo potong gaji gue kan nggak lucu hehe..." Marisa melambaikan tangannya pada Kevin dan kembali masuk ke kamar Kenzo.


Cklak!


Kenzo yang mendengar pintu terbuka segera mengalihkan perhatiannya, dan menatap tajam pada Marisa yang berdiri di ambang pintu sambil nyengir kuda.


"Tutup mulutmu itu, untuk apa kau memamerkan gigimu." Ucap Kenzo dengan ketus, "Kenapa kau kembali? Tidak jadi KENCAN dengan adikku?"


"What?! Kencan? Maaf ya bos, aku ini bukan pedofil yang menyukai pria di bawah umur."


"Y-ya... tapi tetap saja, dia masih berondong."


"Cih! Bukannya sekarang banyak tante-tante yang suka memelihara berondong?"


"Aigoo... kau mengataiku tante-tante bos? Apa aku setua itu, bukannya kau lebih tua dariku? Jadi apa aku harus memanggilmu, paman atau kakek?" balas Marisa dengan bibir mengerucut.


"Dasar kaum menolak tua!" gumam Kenzo yang nampak kesal, namun sebenarnya entah mau atau tidak Kenzo mengakuinya. Jauh di dalam lubuk hati terdalam, dia senang kala Marisa memilih untuk kembali dan menemaninya daripada pergi bersama Kevin.


"Aku bukan menolak tua, tapi memang aku belum tua."


"Kemarikan ponselmu!"

__ADS_1


"Ponselku? Untuk apa?"


"Aku bosan, aku juga mau main game yang tadi kau mainkan."


"Ooh..." Marisa hanya ber oh ria mendengar ucapan Kenzo.


"Naiklah!"


"Naik? Kemana?" tanya Marisa dengan bodohnya.


"Naik ke alam atas dan bertemu sang pencipta!" geramnya, "Naik ke atas ranjang, Marisa...!" sambungnya dengan giginya yang merapat gemas.


"Hah? Ke atas ranjang? Ranjang ini, bersamamu?" Marisa menautkan alisnya bingung, "Bos, apa jangan-jangan efek obat laknat itu belum hilang sepenuhnya dari tubuhmu, bos?"


"Cerewet! Naiklah, atau aku sendiri yang akan menggendongmu naik!"


Set!


Dengan cepat dan tanpa berkata-kata lagi, Marisa pun ikut naik ke atas ranjang dan duduk di samping Kenzo.


"Mau apa sih si Muktar?! Nggak tau apa jantung gue selalu disco kalo deket dia?" batin Marisa, "Gue masih belum nikah dan punya anak. Kalau jantung gue detaknya anarkis gini, bisa-bisa gue is dead nanti...!"


Marisa pun mengulurkan ponselnya yang sudah berada dalam tampilan muka dari game kesayangannya itu.


"Nih bos, kalau mau main."


Kenzo tidak serta merta menerima ponsel itu dari tangan Marisa, "Ajari aku main!"

__ADS_1


"What?!"


__ADS_2