My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 36


__ADS_3

...Sedalam-dalamnya kau menyimpan rahasia...


...Sepintar-pintarnya kau berusaha menyembunyikannya...


...Semua itu pasti akan terungkap bila waktunya sudah tiba....


...By : Rosemarry...


...*****...


"Ugh...!


Arka pun segera berdiri dan membantu Gea untuk duduk bersandar.


"Apa anda yang sudah menolong saya, pak?" tanya Gea yang ingat kalau terakhir kali, dirinya di pukul oleh orang misterius.


"Ya bisa di bilang begitu, tapi bisa juga tidak."


Gea pun menautkan alisnya, "Apa maksud anda, pak?"


"Sebenarnya yang menemukanmu pingsan itu nona Marisa, aku membantunya menggendongmu sampai parkiran dan ikut mengantarmu ke sini." Jelas Arka, "Dan tolong berhenti memanggilku pak, aku tidak setua itu." Canda Arka.


"E-eh... jadi tuan—"


"Arka, namaku Arka. Panggil saja begitu, tidak usah pakai tuan karena aku bukan tuanmu." Jawabnya sambil terkekeh dan Gea pun tertawa canggung.


"Aduh... kebelet pipis...!" batin Gea.


Gea pun berusaha turun dari ranjang namun baru saja berdiri, Gea merasakan sakit di kepalanya dan membuatnya limbung.


Dengan sigap Arka menopang tubuh Gea dan membuat mata mereka saling bertemu dan beradu pandang.


Deg!

__ADS_1


Deg!


Deg!


"Cantik sekali." Batin Arka.


"Oh tuhan, kenapa jantungku disko begini? Kenapa bisa ada manusia setampan ini ya tuhan... Tapi tunggu—" Batin Gea yang kemudian matanya membulat seketika dan semburat merah di wajahnya pun semakin terlihat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Arka, "Kenapa tubuhnya empuk sekali? Padahal dia tidak terlihat kelebihan lemak." Pikirnya yang kemudian tersentak kaget dan dengan segera menurunkan pandangannya ke arah tangan durjananya.


"Ehm... ma-maaf aku tidak sengaja." Arka pun segera menjarak dari Gea, pasalnya otaknya sudah mulai memproduksi piktor-piktor kecil alias pikiran kotor yang sangat amat banyak di dalam sana.


"Ti-tidak apa-apa terimakasih sudah menolongku, aku mau ke toilet dulu." Gea pun dengan tertatih-tatih sambil menahan rasa pening di kepalanya.


Blam!


Gea bersandar pada daun pintu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar-debar, "Huft... Oh tuhan... jangan biarkan kejadian seperti tadi terulang lagi, atau jantungku akan melompat keluar lain kali." Gumamnya.


Dan Arka pun juga terduduk di kursinya sambil memandangi tangan kanannya, tangan yang sudah piknik ke bukit pribadi milik Gea.


Arka pun membulatkan matanya seketika, kala melihat di bagian bawah perutnya sudah sedikit mengembang bak bola bekel yang di rendam minyak tanah.


"Oh tidak...! Aku tidak semesum itu kan? Bagaimana bisa si Joni bangun hanya karena aku memegang—" Arka pun menghela nafas panjang, dan ketika Gea membuka pintu kamar mandi itu Arka pun dengan secepat kilat berlari ke arah Gea.


"Eh! Eh! Eh! Kenapa dia berlari ke arah sini?" batin Gea panik.


Blam!


"Hah?!" Gea pun menatap tidak percaya, kala Arka melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam kamar ma di itu. "Ternyata dia hanya ingin ke kamar mandi? Kenapa aku malah memikirkan hal yang iya-iya? Eh, maksudnya yang tidak-tidak." Gumamnya sambil berjalan kembali ke ranjang.


Sedangkan Arka terpaksa berada di sana sedikit lama, karena si Joni yang sudah bangun itu sulit untuk di tidurkan lagi.🤣


Di tempat lain...

__ADS_1


"Pagi, Mar..." Sapa Johan yang baru saja menghentikan mobil tuanya di halaman rumah Maria.


"Pagi juga, Jo." Maria berjalan dan kemudian masuk ke dalam mobil Johan.


"Kita berangkat sekarang?"


"Kayaknya enggak deh."


"Eh? Kenapa?"


"Hmm... kita berangkatnya tahun depan aja, nunggu lebaran haji lagi!" jawab Maria sambil terkekeh, "Lagian pake nanya, ya berangkat sekarang lah Jo...'" Lanjutnya.


"Ya gue kan cuma nanya doang, Mar... galak banget, buset dah!"


Maria pun hanya membalasnya dengan kekehan kecil, dan Johan pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya me no meninggalkan pekarangan rumah Maria.


Untuk memecah keheningan, Maria pun mencari bahan obrolan. "Jo, gue bingung deh."


"Bingung kenapa?" tanya Johan sambil tetap fokus pada kemudinya.


"Kita kan udah sering main ke rumah lo nih, tapi kok gue gak pernah liat satupun anggota keluarga lo ya?"


Deg!


Deg!


Deg!


Johan pun terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Jo, lo gak apa-apa kan? Kalo emang lo nggak mau cerita ya gak apa-apa." Tanya Maria lagi.


"Hufft... Gue bukan gak mau cerita sama lo Mar, cuma gue rasa ini belum saatnya. Suatu saat gue bakal kasih tau lo dan jelasin semua yang lo pengen tau." Jawab Johan pada akhirnya.

__ADS_1


"Idih! Sok misterius banget sih lo, Jo." Celetuk Marisa sambil terkekeh, " Jangan-jangan kayak di novel-novel picisan yang suka di baca sama si Marjan lagi! Lo itu anak orang kaya, pewaris perusahaan terkenal yang lagi nyamar, maybe?" canda Maria sambil terkekeh.


Uhuk! Uhuk!


__ADS_2