
"Huft... untung gue nggak jadi jatuh, makasih ya ganโ" mata Adelia pun membola, kala melihat tangan siapa yang kini tengah memegangi pinggangnya.
"Selamat bermesraan, tante. Gue masih ada urusan, gue pergi dulu, bye!" Marisa melenggang pergi sambil melambaikan tangan dan memberikan senyum smirknya.
"Aaaaaa...!" Adelia pun langsung berteriak, saat orang yang menolongnya tersenyum dan membuat gigi-giginya terlihat.
Teriakan Adelia pun mengundang atensi orang-orang yang berada dalam gedung itu. Dan membuat mereka semua penasaran, dan keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Mimin...? Aku kangen sama kamu, kamu kemana saja Mimin...? Aku mau peluk!" ucapnya.
"Aaaa...! Dasar orang gila! Pergi sana!" Adelia mendorong orgil alias orang gila itu menjauh. Namun karena tadi dia belum berdiri dengan benar, hal itu pun sontak membuatnya terjatuh.
Sontak saja semua orang yang melihat hal itu pun tertawa, sampai mengeluarkan air mata.
"Mimin...?" orang gila itu pun mendekati Adelia lagi.
"Aaaaa...!"
Dan akhirnya, adelia pun jatuh pingsan. Orang-orang pun mulai berkerumun dan menolongnya, sedangkan orang gila itu ternyata takut dengan keramaian. Sehingga saat semua orang mendekati Adelia, dia pun langsung lari terbirit-birit.
"Ayo cepetan bawa ke dalem!" seru sang fotografer yang tadi juga ikut kepo dan keluar untuk mencari tau apa yang terjadi.
Beberapa orang mengangkat tubuh Adelia ke dalam gedung, dan hanya tersisa Maria seorang diri di sana. Dia pun mengedarkan pandangannya, dan mendapati Marisa yang tengah menonton pertunjukan tadi.
Maria pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, dan Marisa memberinya tanda love dengan dua jari.
__ADS_1
Maria pun terkekeh melihat kelakuan kembarannya itu.
"Akhirnya lo bisa ketawa lagi, Mar. Gue bakal bikin lo balik kayak dulu lagi, gue janji!" gumamnya, kemudian melangkah pergi.
Drtt...
Drtt...
Drtt...
Marisa merogoh saku Hoodienya dan mengambil ponselnya, "Halo, dengan siapa saya bicara?"
"Datang ke cafe Green day sekarang, saya tunggu kamu."
Panggilan telepon pun terputus, dan Marisa juga sudah mengetahui siapakah si penelepon itu. Meski hanya beberapa patah kata, dia sudah bisa mengenali pemilik suara yang terdengar begitu berwibawa itu.
Dia pun segera menaiki motornya dan melajukan motor itu, menuju cafe Green day. Ya, Marisa akan menemui orang itu.
Dan tak berapa lama, Marisa sudah berhenti di depan cafe yang bertuliskan cafe Green day.
"Huft..." Marisa menghela nafas panjang, sebelum dia melangkah masuk ke dalam cafe itu.
Dia mencari sosok orang yang menelponnya tadi, Marisa mengedarkan pandangannya dan mendapati orang itu berada di meja no 10.
"Kau sudah datang, duduklah."
__ADS_1
Marisa pun duduk tanpa ragu dan rasa takut sama sekali.
"Ada apa nenek meminta Marisa datang ke sini? Apa ada yang mau nenek bicarakan denganku?" tanya Marisa dengan sopan.
Benar sekali. Orang yang menelepon Marisa adalah Riana, nenek Kenzo.
"Kau pasti sudah tau apa tujuanku, bukan? Jadi aku tidak mau basa-basi. Sebutkan angkanya," ucapnya dengan sedikit angkuh.
"Angka? Angka apa nek?"
"Berapa jumlah yang kau inginkan, sebutkan saja. 1M? 2M? Atau 5M? Aku akan memberikannya. Tapi tinggalkan cucuku!" jelasnya, yang membuat amarah Marisa naik ke ubun-ubun. Namun sebisa mungkin, dia masih menahan diri agar tidak bersikap kasar.
"Maaf nenek. Uang segitu tak ada artinya untukku. Karena nenek tau bukan? Kalau aku menginginkan harta, maka menikah dengan Kenzo bernilai lebih dari sekedar 5 M."
Marisa dengan sengaja mengatakan hal itu, karena rasa dongkol di hatinya. Betapa rendah harga dirinya di mata nenek ini!
"Jangan serakah! Kau harus tau, kapan saatnya harus merasa puas," ujarnya.
"Aku tidak bermaksud serakah nek, tapi aku mencintai Kenzo. Karena dia adalah Kenzo, bukan karena dia adalah bagian dari keluarga Alexander. Dan tolong nek, jangan pernah menilai semua orang sama seperti yang nenek pikir. Nenek harus tau, harga diri adalah satu-satunya hal yang masih ku miliki saay ini. Jadi, terimakasih untuk tawarannya. Tapi mohon maaf, aku tidak tertarik."
Marisa berdiri kemudian membungkukkan badannya, untuk memberi hormat pada Riana.
Dan setelah melakukan itu, Marisa pun pergi dari restoran itu. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tak ada air mata, hanya ada hati yang terluka. Tak ada darah, namun rasa sakit itu nyata.
Marisa belajar untuk selalu menjadi pribadi yang kuat. Dia tak akan dengan mudah meneteskan air matanya, yang begitu berharga.
__ADS_1
Ponsel di sakunya bergetar, namun Marisa sama sekali tak menyadarinya. Dia hanya berfokus pada rasa sakit hati yang sangat ingin dia lupakan, tapi cara apa yang bisa membuatnya lupa?