My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 115


__ADS_3

"Sial...! Kemana dia?!" geram Kenzo.


Arka dan pak Tejo pun heran melihat tingkah Kenzo. Pasalnya, Kenzo tak pernah bersikap seperti ini. Dia selalu tenang dalam menghadapi segala hal, meskipun itu kepada yang genting sekalipun.


"Ken, sebenernya kita ini mau kemana sih? Siapa yang kamu cari?" tanya Arka yang sudah tidak kuat menahan rasa penasarannya.


"Marisa."


"What?! Jadi dari tadi kau sepanik ini karena Marisa? Apa kau lupa siapa Marisa, Kenzo? Dia itu bukan wanita biasa..." ujar Arka.


"Nenek menemuinya."


Satu kalimat itu berhasil membuat Arka membuka mulutnya lebar-lebar. Pantas saja Kenzo sepanik itu, siapapun yang di temui oleh nenek Kenzo. Biasanya orang itu akan menghilang setelahnya.


"Marisa... angkat...!" Kenzo masih terus mencoba menghubungi ponsel Marisa.


Wajahnya sangat memperlihatkan kecemasan, dan kekhawatiran.


Sedangkan Marisa kini sudah mengentikan motornya di tepi pantai. Dia duduk di atas batu besar sambil menatap ke arah laut lepas.


"Gini amat ya nasib orang nggak punya?! Seenaknya aja main bayar perasaan gue pake duit! Bener-bener ya itu orang kaya!" gumam Marisa.


Marisa pun berjalan mendekat ke bibir pantai, kemudian dia berteriak sekeras mungkin.


"Aaarrrghh...!" setelah meluapkan segala emosinya, Marisa pun merogoh saku dan mengambil ponselnya, "Astaga! Kenzo udah nelfonin gue 99 kali?!" serunya.


Marisa pun segera menelfon Kenzo balik, karena tak ingin suaminya itu mencemaskan dirinya.


"Halo, sayang. Kamu itu dimana? Tadi aku datang ke cafe, tapi kamu sama nenek udah nggak ada," tanyanya yang terdengar begitu khawatir.


Mariaa pun tersenyum senang, seolah lupa dengan apa yang baru saja dia alami. Kekhawatiran Kenzo membuktikan seberapa besar cintanya pada Marisa, dan melihat betapa paniknya Kenzo itu membuat Marisa bahagia.


"Aku ada di pantai Ka—"


Bugh!

__ADS_1


Belum sempat Marisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja terdengar suara hantaman yang cukup keras.


"Sayang?! Sayang? Halo?! halo, sayang?!" Kenzo pun semakin panik bukan main, karena tak terdengar jawaban dari Marisa, "Pak Tejo, kita ke pantai terdekat. Cepat!" titah Kenzo.


"Baik, tuan muda."


Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan tinggi, sedangkan Kenzo terus memandangi teleponnya dengan gelisah.


Sedangkan di sisi lain...


"Del? Lo udah baikan?" tanya sang fotografer.


"Ini semua gara-gara Maria! Mana Maria!?" serunya seperti orang gila.


"Gue di sini, ada apa?" ucap Maria santai.


"Ini semua gara-gara lo! Lo yang udah bikin gue pingsan!" amuknya. Dia mencoba menyerang Maria, namun sang fotografer dan asistennya menahan dirinya.


"Gue? Emangnya apa salah gue?" jawab Maria, "Guys, kalian semua tadi liat kan kalau gue bareng sama kelian terus? Dan kalian juga liat sendiri kan, kalau yang bikin nona Adelia yang super duper cantik ini pingsan adalah orang gila?"


"Bohong! Lo yang udah bikin gue hampir jatuh tadi!"


"What? Bukannya tadi lo ketakutan gara-gara itu orgil, dan setelah itu... Gubrak! Lo pingsan dengan terhormat!" sindir Maria.


"Adel, tadi Maria emang bareng terus sama anak-anak lain. Dia nggak ada di tempat lo pingsan, mana mungkin lo pingsan gara-gara dia."


Adelia pun bingung bukan kepalang.


"Jadi tadi Maria ada sama kalian? Terus yang berantem sama gue tadi—"


Bruk!


Dan lagi, Adelia pingsan dengan terhormat. Beberapa orang yang melihatnya pun hanya bisa tertawa geli. Meskipun mereka tau siapa yang Adelia maksud, tapi mereka tak ingin segera memberitahu Adelia.


Orang sombong semacam Adelia ini, memang butuh pelajaran. Jadi anggap saja hal itu sebagai pelajaran kecil untuknya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja, Monica muncul di kerumunan dan menarik Maria pergi.


"Mar, ikut gue!" ujarnya.


"Mau kemana sih Mon? Pelan-pelan aja kali jalannya, ini gue pake hills bukan sepatu kets." ujar Maria.


"Udah buruan ikut aja sih... ada hal penting yang perlu gue tanyain."


"Hal penting apa?" tanya Maria dengan dahi berkerut.


"Nanti aja, sekarang ikut gue dulu." Monica pun membawa Maria ke dalam ruangan Ali.


Cklak!


"Ngapain lo ngajak gue kesini?" tanya Maria bingung, apalagi dia tidak melihat sosok Ali di ruangan itu.


"Gue mau nanya sama lo, dan lo harus jawab jujur!" ucap Monica.


"Ok, gue bakal jawab jujur. Emangnya lo mau nanya apa sih? Bikin gue penasaran aja."


"Gue mau nanya soal Lia."


"Lia?"


Deg!


"Apa Monica udah tau soal Ali?" batinnya.


Maria menunggu pertanyaan apa yang ingin Monica tanyakan padanya.


"Lia itu beneran lekong atau—" Monica sengaja menjeda kalimatnya, dan menunggu Maria yang melanjutkannya.


Tapi jawaban Maria tak sesuai dengan ekspektasinya, "Atau apa?"


"Hish! Lo mah gitu, Mar. Ya si Lia itu beneran bencong asli yang ada badaknya, atau KW alias nyamar doang?"

__ADS_1


Maria pun membelalakkan matanya.


__ADS_2