My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 116


__ADS_3

Kenzo yang baru saja sampai di pantai yang dia tuju, segera turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Namun dari kejauhan, tampak seseorang tengah melambaikan tangan padanya. Kenzo pun segera berlari menghampirinya.


Sedangkan orang yang tidak lain adalah Marisa itu, kini melebarkan kedua tangannya menunggu Kenzo menghampirinya.


Namun...


Tak!


"Kau ini selalu saja membuatku khawatir!" Kenzo tidak memeluk Marisa, melainkan menyentil kening wanita yang sudah berstatus istrinya itu.


"Dih! Nggak like! Bintang 1! Bukannya di peluk, malah di sentil!" gerutu Marisa.


Hap!


Kenzo pun langsung membawa Marisa ke dalam pelukannya.


"Nah gitu dong," Marisa pun tersenyum dalam pelukan Kenzo.


"Sekarang bisa kau jelaskan padaku, apa yang terjadi di sini, nyonya Kenzo?" tanyanya pada Marisa setelah melepaskan pelukannya.


"Ehm... bagaimana ya? Aku sendiri tida tau apa yang terjadi. Tiba-tiba saja mereka mencoba menyergapku, tapi kau tau kan sayang... aku ini samson wati, hehe..." Marisa pun terkekeh setelah mengatakan hal itu.


"Ekhem!" dehem Arka dari arah belakang.


"Arka, periksa orang-orang ini!" ucapnya.


"Siap 86! Tuan dan nyonya Kenzo!" sindirnya, karena merasa iri saat melihat kemesraan kedua insan itu, "Belum nikah aja udah panggil nyonya Kenzo, kayak ABG yang suka manggil mamah papah tapi ujung-ujungnya PISAH!" ucapnya sambil berjalan ke arah beberapa pria berjas hitam yang sudah terkapar di tanah.


"Arka...! Apa kau sudah tidak sabar untuk pindah rumah ke pedalaman hutan Amazon atau ke pedalaman Afrika...?!" tanya Kenzo dengan penekanan.


"Tidak! Terimakasih! Aku lebih memilih pindah ke Mesir, karena aku kangen dengan para mummy di sana. Sepertinya aku sudah lama tidak say Hi, pada mereka."


Arka menjawab dengan candaan garing bin crispynya, sambil mengecek tubuh para pria yang sudah pingsan itu.


"Bagaimana?" tanya Kenzo setelah Arka selesai mengecek pria-pria itu.


"Nenekmu," satu kata yang sanggup membuat Kenzo mengepalkan erat tangannya.

__ADS_1


"Maksudnya mereka suruhan nenek Riana?" tanya Marisa.


"Bukan! Mereka suruhan nenek Gayung!" sengaknya.


"Ooh... gayungnya gayung lope bukan?" timpal Marisa yang membuat percakapan itu semakin absurd.


"Bukan! Gayungnya bukan bentuk lope, tapi bentuk Bintang!"


"Ooh... bintang kecil apa bintang besar?"


Arka menggeram kesal, "Bintang Kejora!"


"Hahaha... kau ini kenapa begitu kaku? Mukamu sudah seperti lukisan. Lukisan abstrak!" goda Marisa.


"Ini semua karena kau! Karena kau mencoba menjadi mak comblang untukku dan si bocil mengerikan itu."


"Maksudmu Gea? Wah... sepertinya aku mencium bau-bau... ehm... bau apa ya sayang?" tanyanya pada Kenzo.


"Sudahlah. Ada hal yang lebih penting daripada candaan receh kalian, ayo ikut aku." Kenzo menarik Marisa dan Arka pun mengikuti mereka menuju mobil.


"Kita ke markas besar, pak Tejo."


"Ada apa? Memangnya apa itu markas besar?" tanya Marisa dengan bingung.


"Jalan saja, pak Tejo."


"Baik, tuan muda." Mobil pun mulai melaju dengan tujuan Markas Besar.


"Sayang... bisa kau jelaskan padaku, tempat apa itu markas besar?" tanya Marisa pada Kenzo.


"Rumah paman Cleric."


"Hanya itu? Benarkah hanya sebuah rumah? Lalu kenapa Arka dan pak Tejo kaget?" cecarnya.


"Karena Kenzo itu sangat tidak suka berurusan dengan paman Cleric," sahut Arka.


"Kenapa?"


"Karena—" ucapan Arka pun di potong oleh Kenzo.

__ADS_1


"Karena dia lebih mengerikan daripada Ando." Sela Kenzo.


"Seriously?!" tanya Marisa terkejut.


"Ando? Sendal?" tanya Arka.


"Ya. Dia sendal yang bisa membuat nyawa orang lain melayang, hanya dengan satu kata," ucap Marisa.


"Wow! Memangnya ada orang yang lebih mengerikan darimu?" ejek Arka


"Setidaknya aku tidak pernah membunuh orang, bweek...!" Marisa menjulurkan lidahnya.


"Tapi kau hampir membunuhku, apa kau lupa?"


"Itu karena kau yang terlalu lemah!" ejek Marisa.


"Bukan karena aku yang terlalu lemah. Tapi karena kau yang ugal-ugalan!" ralat Arka.


"Itu keadaan genting! Satu detik bisa mengubah segalanya!"


"Ya... ya... ya... Iyain aja biar seneng."


"Dih! Baper!"


Kenzo hanya bisa menghela nafas, mendengar kucing dan tikus itu saling berdebat.


Akhirnya tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah yang tidak begitu besar, namun terlihat cukup rapi.


Marisa baru saja ingin menekan bell pintu, tapi Arka malah mencibirnya.


"Dasar ndeso! Ngapain pake tekan bell?" tanya Arka.


"Memangnya kalau bertamu ke rumah orang itu, apa yang bisa di tekan kalau bukan bell pintu? Mau menekan kemiskinan juga susah!"


"Rumah ini hanya kedok, jadi kita tidak perlu masuk ke dalam rumah." Kenzo pun berjalan menuju sisi pintu yang satunya.


Dan di sana terdapat sebuah alat, yang terlihat seperti pemindai sidik jari, atau keamanan semacamnya.


Kemudian Kenzo pun mengucapkan sesuatu, "Black Azzure 002, Red Devil."

__ADS_1


Bip!


__ADS_2