My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 82


__ADS_3

Plak!


"Aw! Aw! Aw!" seru Arka setelah mendapatkan tabokan maut dari Marisa.


"Aku adalah bodygu—"


"Dia calon istriku," sahut Kenzo yang membuat Marisa auto melongo tidak percaya.


"Kenzo, are you serious?" tanya Azka.


"Tidak pernah seserius ini, Azka."


"Hahaha..." Marisa justru tertawa terbahak-bahak dan membuat ketiga pria di sana menatapnya dengan aneh, "Kau ini sangat suka sekali bercanda, bos. Aku ini kan hanya bodyguardmu, sejak kapan aku jadi calon istrimu? Hahaha..." tanya


yang di akhiri dengan tawa.


"Sejak ayahku, Giovano Alexander menetapkannya!" jawab Kenzo dengan penekanan, "Dan juga, sejak aku menyadari kalau aku mencintaimu," sambungnya dalam hati.


"Hah? Om Gio yang mengaturnya?" tanya Azka dengan terkejut, "Ehm... nona... siapa namamu tadi?"


"Marisa," bukan Marisa melainkan Kenzo yang menjawabnya.


"Ok, nona Marisa. Sepertinya kau memang di takdirkan untuk menjadi pendamping hidup si manusia kutub ini. Karena aku sangat mengenal om Gio, papanya Kenzo. Perintahnya itu sudah seperti dekrit kaisar, yang tidak bisa di bantah!" jelasnya pada Marisa sambil memberikan tatapan simpati padanya.


"Kau salah, Azka. Bukankah masih ada orang yang lebih berkuasa dari pada kaisar Gio?" sahut Arka.


Mereka memang sering memanggil papanya Kenzo dengan sebutan Kaisar saat membicarakannya.


"Ah iya! Kau benar juga! Masih ada ibu suri di atas kaisar. Jadi nona Marisa, jika kau ingin membuat dekrit kaisar itu di batalkan maka yang harus kau lakukan adalah membujuk ibu suri."


"Tidak akan! Aku akan membuat nenek menyetujuinya, apapun caranya!" batin Kenzi yang sudah bertekad.


"Benarkah?" tanya Marisa dengan wajah bahagia.


"Tidak usah berharap! Kau tidak akan bisa menemuinya. Nenekku tida akan mau menemui sembarang orang."


"Hah?! Benarkah begitu, Arka? Azka?"


Keduanya mengangguk pelan secra bersamaan.


"Haish... jadi apa yang harus ku lakukan agar bisa bertemu dengannya?" gumam Marisa.


"Tidak ada!" sahut Kenzo yang langsung mematahkan harapan terakhir Marisa, "Meskipun aku tau caranya, aku tidak akan memberitahumu. Sebelum aku bisa meyakinkan nenek untuk tidak menggagalkan rencana pernikahan ini," batinnya.


"Tapi Ken, bukannya nenekmu itu sangat menginginkan kau menikah dengan Raisa? Jadi kemungkinan besar, dia tidak akan setuju dengan rencana papamu," ucap Azka.


"Jadi si ibu suri itu berpihak pada ulet keket freak itu?!" seru Marisa yang sudah membenci Raisa saat ini.

__ADS_1


Pertama karena dia mencoba mempermalukan Marisa di pesta,


yang kedua dia berusaha mencelakainya, dan yang ketiga dia masih mencoba memfitnahnya. Dan yang lebih parah lagi, ayahnya masih berfikiran untuk membalas dendam padanya karena merasa martabat keluarganya sudah di injak-injak.


"Sebenarnya bukan karena Raisa melainkan karena hubungan bisnis. Nenekku ingin mengikat kerjasama dengan perusahaan ayahnya raisa, menggunakan pernikahan."


"Hah? Jaman sekarang masih ada pernikahan bisnis? Ya ampun..." ucap Marisa.


"Tapi aku sudah tau siapa Raisa, dan bagaimana kelakuannya. Jika aku mau, aku bisa membongkar semua kebusukannya di depan nenekku. Tapi aku hanya sedang mencari momen yang terbaik."


"Eh? Kebusukan apa lagi? Memangnya berapa banyak kebusukan yang ulet keket itu sembunyikan?" tanya Marisa heran.


"Yang pasti lebih banyak dari yang kau kira Marisa." Sahut Arka.


"Tapi sebenarnya apa yang terjadi hingga papamu membuat keputusan seperti itu?"


"Ceritanya panjang."


"Ehm," angguk Marisa setuju dengan Kenzo, "Mungkin kalau aku ceritakan, bisa sehari semalam baru kelar." Marisa menghela nafas panjang.


"Tapi Kenzi terlihat tidak terpak—"


"Kau kenapa Azka?" tanya Marisa.


"Kakiku di injek gajah," jawabnya.


Azka pun segera menoleh ke arah Kenzo, dan benar saja. Kenzo sudah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku perlu bicara dengan Azka, berdua. Jadi kami tinggal dulu ya..." Arka membawa Azka ke lantai atas, dimana kamar Azka berada.


Cklak!


"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Azka.


"Jangan katakan apapun tentang hal tadi. Karena sepertinya Kenzo sudah benar-benar jatuh hati pada Marisa."


"Lantas apa masalahnya? Bukankah itu bagus? Itu artinya Kenzo akan melepaskan predikat jomblo dari lahirnya, dan juga membebaskanmu dari rumor kalau kau adalah pasangan gaynya Kenzo," sindir Azka.


"Apa kau tidak lihat kalau Marisa bahkan tidak menyadari perasaan Kenzo padanya? Sepertinya dia itu wanita yang tidak peka, sangat-sangat tidak peka!"


"Ah benar. Aku juga merasa kalau wanita bernama Marisa itu tidak menyukai Kenzo."


"Maka dari itu, jangan bahas masalah itu atau kita akan di kirim ke hutan Amazon olehnya." Gurau Arka, "Sudahlah, sekarang ayo kita pulang. Kau harus bertemu dengan ayah dan ibu."


"Ok, aku juga sudah merindukan ibu."


Mereka berempat pun akhirnya meninggalkan apartemen Azka.

__ADS_1


Arka dan Azka pulang ke rumah orang tua mereka, dan Kenzo bersama Marisa pulang ke rumah keluarga Alexander.


"Aku pamit dulu, bos." Pamit Marisa setelah mengambil motornya dari dalam garasi motor milik Kenzo.


"Ya." Jawabnya singkat.


"Dih! SPJ banget anjir! Singkat, padat, jelas!"batinnya.


Marisa pun meninggalkan rumah Kenzo mengendarai motornya.


Di tengah jalan, dia melihat ada penjual martabak.


"Ada martabak tuh. Beli dulu deh." Marisa pun berhenti untuk membeli martabak di situ, "Bang martabak coklat keju ya." Pesannya pada si penjual.


"Siap neng." Jawab si penjual sambil mengacungkan jempolnya.


Namun saat menunggu pesananya, Marisa melihat mobil Johan lewat di depannya. Tapi yang membuatnya terkejut bukanlah itu, melainkan mobil yang ada di belakang mobil Johan.


"Bukannya itu—" gumamnya, "Sial! Itu dia!? Apa dia membuntuti Maria?" batinnya.


"Ini neng pesanannya."


"E-eh, iya bang. Ini uangnya, ambil aja kembaliannya." Marisa segera naik dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Sial! Sial! Sial! Sebenarnya apasih maunya tuh orang?" ujarnya dengan kesal sekaligus khawatir pada Maria.


Marisa menelpon Samudera dengan hf yang selalu siap siaga di pakainya.


Drtt...


Drtt...


Drtt...


"Halo, ada apa? Apa lo mau kirim komputer yang lo janjiin ke gue?" tanyanya.


"Itu nanti aja. Sekarang ada yang lebih urgent!" ucapnya.


"Hah? Lo ngomong apa? berisik banget anjir, nggak kedengeran suara lo!"


"Gue liat orang itu, Sam! Dia lagi ngikutin Maria!" serunya dengan siara yang dia kencangkan.


Marisa tidak perduli dengan tatapan aneh orang yang mendengarnya berteriak di jalanan.


"What!? Orang itu? Ngapain dia ngikutin kembaran lo? Apa dia ngira Maria itu lo?" tanyanya.


"Gue nggak tau, tapi mungkin aja iya. Yang jelas, gue gak mau Maria kenapa-napa! Gue mau lo pantengin terus GPS gue. Kalo sampai gue nggak kabarin lo lagi setelah ini, lo harus cepetan bertindak." Marisa memang selalu memakai jam tangan dengan GPS yang terhubung ke komputer Samudera. Sebagai antisipasi jika saja ada masalah.

__ADS_1


"Ok siap! Lo tenang aja."


__ADS_2