My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 35


__ADS_3

...Apa yang membuatmu mementingkan gengsi?...


...Standar manusia? Tapi standar yang mana?...


...Bukankah semua manusia terus menginginkan lebih dari yang sebelumnya?...


...By : Rosemarry...


...*****...


Cklak!


Sebuah kepala tampak tengah mengintip dari celah pintu ruangan itu, dia melihat ke arah Kenzo dan Arka yang tampak tengah berbincang di sana.


"Apa kau mau terus jadi kuyang, nona Marisa? Hanya ada kepala, tanpa badan." Sindir Arka karena Marisa memang hanya memperlihatkan kepalanya saja.


Marisa pun tersenyum canggung dan kemudian melangkah masuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ehm... aku hanya mau meminta maaf padamu, tuan Arka. Aku tidak mengira kau bisa mabuk darat sampai separah itu."


"Asal kau tahu saja aku tidak pernah mabuk darat sebelumnya, nona Marisa. Hanya saja cara mengemudimu yang sudah seperti pemain film "taksi" itulah yang membuatku seperti ini." Jawab Arka sambil melirik Kenzo yang tampak menahan tawanya, namun sebisa mungkin dia sembunyikan.


"Mau bagaimana lagi, tadi itu benar-benar urgent." Marisa pun menampilkan senyum close upnya.


"Bagaimana keadaan temanmu sekarang?"


"Hm... dia sudah di pindahkan ke ruang rawat, tapi dia masih belum sadar." Raut wajah Marisa pun berubah lesu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" sahut Kenzo.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar suara gaduh. Dan saat aku keluar dia sudah terluka dan pingsan."


Setelah mendengar keterangan Marisa, Kenzo merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Periksa rekaman kamera pengawas di lantai apartemenku pagi ini, kirimkan salinannya padaku segera!"


Tut...


Tut...


Tut...


Setelah beberapa menit ruangan itu hening, ponsel Kenzo pun berdering kembali.


"Lihatlah!" Kenzo mengulurkan ponselnya pada Marisa.


"Jadi—" Marisa pun mengerutkan keningnya kala menonton rekaman itu.


"Jadi motif orang ini melukai Gea adalah karena Gea memergokinya menaruh paket itu di depan apartemenmu." Sambung Marisa.


"Paket lagi?" kejut Arka yang sedikit banyak sudah mengerti duduk masalahnya, meskipun dia tidak melihat rekaman itu secara langsung.


"Lagi? Jadi maksudmu ini bukan kali pertama?"


"Sudah sekitar satu minggu ini, selalu saja ada teror yang di tujukan untukku. Dan itu juga alasan aku membutuhkan bodyguard."


"Baiklah, aku mengerti. Dalam waktu kurang dari seminggu, aku akan menemukan pelakunya." Ucap Marisa dengan lantang.


"Satu minggu? Just one week? Are you kidding? Aku sudah meminta detektif swasta untuk mengusut kasus ini sejak kali pertama teror itu muncul, tapi sampai sekarang tidak ada titik terang sama sekali." Jelas Kenzo yang antara kaget dan tidak percaya dengan janji Marisa.

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan mereka, aku ini ahlinya main detektif-detektifan seperti ini bos. Tenang saja, cara kerjaku itu sangat cepat."


"Ok, akan kulihat kinerjamu nanti dan bonusmu menyesuaikan hasil kerjamu."


"Siap 86!" Marisa pun memberi hormat pada Kenzo sambil nyengir kuda. "Cuan lagi..." Batin Marisa yang sudah membayangkan ayam goreng, ayam bakar, ayam golek, dan ayam-ayam lainnya kecuali ayam kampus.


"Arka... kau tetaplah disini untuk menemani wanita itu, dan kau ikut aku ke kantor sekarang." Kenzo pun beranjak dan melangkah keluar dari ruangan Arka dan di ikuti oleh Marisa.


"Aku titip Gea ya, tuan Arka. Jangan sampai kau buat dia lecet sedikitpun, soalnya dia itu barang antik." Kekeh Marisa yang kemudian segera melanjutkan langkahnya menyusul Kenzo setelah memberikan kunci mobil pada Arka.


"Sepertinya aksi kebut-kebutan tadi tidak buruk juga, setidaknya aku mendapatkan libur hari ini." Batin Arka yang kemudian turun dari ranjang untuk menemani Gea di ruangannya.


Kenzo dan Marisa kini sudah dalam perjalanan menuju perusahaan.


"Bos, apa teror itu selalu berupa paket semacam itu? Lalu apa isinya?" tanya Marisa memecah keheningan yang tercipta sejak mobil itu melaju.


"Tidak, teror itu beragam. Yang pertama ada orang yang mengirimiku surat darah, lalu teror lewat telefon dan paket yang berisi sampah kertas dengan sebuah silet di dalamnya dan masih banyak lagi."


"Apa kau punya seseorang yang kau curigai, bos?"


"Tidak ada, aku memang punya banyak saingan bisnis. Tapi sepertinya mereka tidak akan melakukannya dengan cara bodoh seperti ini, aku tidak melaporkannya ke polisi karena tidak ingin hal ini terekspos."


Marisa pun tampak berfikir dengan keras, setelah itu dia pun menelepon seseorang.


"Sam, bantu aku lacak seseorang yang sudah meneror bosku. Bosku tinggal di apartemen Xx. Berikan padaku hasilnya secepatnya."


Setelah mengatakan hal itu, Marisa pun memutuskan sambungan teleponnya.


Di sisi lain...

__ADS_1


"Ugh...!"


Jangan lupa like, komen, dan masukin favorit ya guys,😘 tenang aja gratis kok gak bayar.🤣


__ADS_2