
"Kau lihat itu?! Gara-gara wanita ini, cucuku berani melawanku!" ucapnya sambil melirik kesal pada Gio, "Sayang... kemarilah."
Seorang gadis berjalan mendekat ke arah mereka. Mata Marisa membelalak saat melihat wanita itu.
"Raisa?!" batin Marisa dengan kaget sekaligus kesal.
Sedangkan Raisa hanya tersenyum sinis menatapnya, senyum kemenangan yang sangat kentara, "Cih! Kau lihat ini, wanita *******?! Kau mungkin memang mendapatkan hati Kenzo, tapi aku mendapatkan hati neneknya! Dan nenek peyot ini adalah keberadaan tertinggi di keluarga Alexander!" batinnya.
"Mungkin sekarang kau masih bisa memuji Raisa, nek. Tapi tidak akan lagi, setelah kau tau siapa dia," ucap Kenzo dengan santai.
"Apa maksudmu, Kenzo!? Raisa adalah cucu menantu pilihanku! Apa kau meragukan penilaianku, hah!?" bentak sang nenenk, sembari memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke lantai.
Nenek Kenzi yang bernama Riana Dewantara itu memegangi dadanya yang terasa sakit, karena amarah yang meledak.
"Nenek... jangan terlalu emosi, itu tidak baik untuk kesehatan nenek," ucap Raisa sembari memegangi kedua pundak Riana. Benar-benar akting yang totalitasnya tidak perlu di ragukan lagi.
"Kau benar-benar pantas mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik!" batin Marisa, menatap remeh pada Raisa.
Namun bukan Marisa namanya, jika dia hanya diam saat di tindas dan di hina oleh orang lain.
Marisa pun merapatkan dirinya pada Kenzo, sambil memandang sinis pada Raisa. Tangan Raisa mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih, namun sayangnya Riana tak melihat hal itu.
"Kau hanya orang tidak berpendidikan. Seharusnya kau tau arti kata 'sadar diri' jangan menjadi pungguk yang merindukan bulan."
"Neβ"
__ADS_1
Marisa meremas tangan Kenzo dan menatapnya, seolah mengatakan, "Jangan khawatirkan aku, aku bisa mengatasinya,"
"Hahaha... rasakan itu, dasar wanita sialan!" umpat Raisa dalam hati.
"Maaf nenek. Dari segi mana anda memandang seseorang itu berpendidikan atau tidak?" tanya Marisa.
Sontak saja, keberaniannya itu membuat semua orang memandang tidak percaya padanya.
"Dari segala aspek."
"Tapi bukankah nenek bahkan belum mengenal saya sebelum ini? Lalu aspek mana yang nenek maksud itu?" tanya Marisa lagi.
Mau tidak mau, sebenarnya Riana sudah harus mengakui kalau Marisa itu pandai dalam memainkan kata-kata.
"Gadis pilihanku tidak akan membantah ucapanku!" jawabnya pada akhirnya dengan penekanan.
Riana terbelalak mendengar ucapan Marisa. Memang benar, wanita kalangan atas selalu menampilkan senyum dan keanggunan mereka di depan semua orang. Bahkan mereka akan tetap tersenyum, meskipun orang itu adalah musuh mereka, jika mereka masih ada di depan publik.
"Jadi kau secara tidak langsung menyiratkan kalai Raisa hanya berpura-pura baik di hadapanku?" tanya Riana.
"Bukan di hadapan nenek, lebih tepatnya di hadapan kita semua. Kecuali di depan saya," Marisa berbicara dengan percaya diri, "Aku ingin bertanya sesuatu pada nenek. Apakah nenek akan menggunakan cara kotor juga untuk melawan orang yang tidak nenek sukai?"
"Kau!?" geram Riana, "Aku tidak seburuk itu. Aku tidak akan pernah menggunakan cara kotor, aku lebih suka menggunakan uang."
"Lalu apa nenek tau? Nona Raisa sudah beberapa kali menggunakan cara liciknya pada saya, tapi sayangnya selalu gagal. Dan bahkan kali terakhir, papanya sendiri yang memohon pada saya untuk tidak melaporkan nona Raisa ke kantor polisi."
__ADS_1
Deg!
Semua orang terkejut bukan main. Terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka ketahui. Sedangkan Raisa terkejut karena dia tidak memperkirakan kalau Marisa akan dengan seberani itu, mengungkapkan hal-hal yang sudah terjadi.
"Apa maksudmu?!" tanya Riana dengan marah.
"Aku tau nenek adalah orang yang cerdas, nenek tidak akan dengan mudah percaya pada mulut dan lidah tak bertulang yang mengatakan sesuatu. Jadi lebih baik nenek melihatnya sendiri," Marisa memberikan ponselnya pada Riana, dan Riana yang penasaran pun mengambil ponsel itu dari tangan Marisa.
"Sial! Sial! Sial! Aku sudah memprediksi awalnya, tapi tidak dengan akhirnya!" batin Raisa kalut, "Ternyata dia bukan hanya berani bicara di depanku dan ayah, tapi bahkan di depan nenek peyot ini juga!?"
"Raisa... bisa kau jelaskan maksud dari ini semua? Katakan dengan jujur. Kau tau aku paling tidak menyukai sebuah kebohongan."
Glek!
Raisa dengan susah payah menelan salivanya, "Maafkan Raisa nenek. Raisa bertindak sembrono dan mengabaikan etika wanita kalangan atas. Tapi itu semua karena cinta Raisa pada Kenzo nek..." ucap Raisa dengan mata berkaca-kaca, seolah dialah orang yang teraniaya.
Kenzo pun merasa sudah tidak tahan lagi. Dia pun langsung angkat bicara, "Nenek aku tidak menyukai Raisa. Aku mohon... jangan paksa aku, nenek."
"Kenzo!" bentaknya.
Kenzo mengulurkan ponselnya pada sang nenek, yang di pandang dengan alis bertaut oleh sang nenek.
"Apa lagi ini?" tanya Riana.
"Lihat saja dulu, nek. Aku yakin, setelah nenek melihat ini, nenek akan mengerti kenapa aku menolak keras perjodohan dengan Raisa."
__ADS_1
Blar!
Bagaikan petir di siang bolong menyambarnya, Raisa pun membelalak kaget dengan apa yang terlihat di layar ponsel Kenzo.