
...Jangan selalu melihat ke depan untuk menemukan cinta yang kau cari...
...Karena bisa saja yang orang yang kau cari justru selalu berada di sampingmu....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Mar, lo udah yakin buat ambil kerjaan itu?"
"Ya yakin lah Jo, lagian juga cuma jadi brand ambassador doang kenapa lo khawatirnya kayak gue mau maju ke medan perang aja sih?" tanya Maria sambil terkekeh.
"Ya bukannya apa-apa Mar, gue tau banget siapa Dimas itu Mar—"
"Wait! Tau banget?" potong Maria seraya menatap lekat pada Johan.
"Ma-maksud gue, kita kan tau siapa Dimas Bruge itu Maria... kelakuan minus bin biadab playboy asli cap badak itu kan udah jadi rahasia umum, gue cuma takut aja lo kenapa-napa.
"Ekhem! Jadi terhura gue di perhatiin sama lo." Godanya.
"Terharu Maria, terharu! Bukan terhura." Ujar Johan.
"Eh udah ganti ya?"
"Dari jaman ari-ari lo sama si Marjan masih nempel di puser juga udah namanya udah terharu Maria, bahkan sebelum nyokap sama bokap lo produksi lo juga udah kayak gitu."
"Astaga Jojo... gue kan cuma bercanda Jojo kampret! Kenapa lo jadi samain proses pembuatan gue sama barang pabrik? Produksi, mentang-mentang ada Marisa yang satu produk sama gue gitu? Bener-bener lo ya."
"Lagian gue kan lagi serius tapi lo malah bercanda, ya jadinya oleng haha..."
__ADS_1
Dengan adanya percakapan unfaedah itu, membuat perjalanan mereka tidak terasa lama. Kini mereka sudah berada di depan sebuah gedung pencakar langit, dengan papan nama besar bertuliskan "King Jewelry".
Setelah mobil tua itu berhenti, Maria dan Johan pun segera turun dam berjalan masuk ke perusahaan itu.
"Jo, lo yakin mau nungguin gue? Kalo gue lama gimana?" tanya Marisa.
"Gak apa-apa lo santai aja, kalo ntar lo lama gue tinggal ke cafe sebelah gedung ini dulu nanti lo bisa cari gue di sana kalo udah kelar."
"Ok deh kalo gitu."
Setalah Maria bertanya pada resepsionis, dia pun di antarkan ke ruangan Dimas. Dimas adalah CEO dari King Jewelry saat ini, namun kelakuan minusnya sudah sering kali menjadi buah bibir banyak orang.
Jika saja tidak ada sang ayah yang menangani semua itu dari balik layar, sudah bisa di pastikan bagaimana nasib King Jewelry di tangan Dimas si playboy cap badak itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Maaf pak, nona Maria sudah datang."
"Baiklah, kau boleh pergi." Kemudian dia beralih menatap Maria, "Silahkan duduk nona Maria."
Setelah resepsionis tadi keluar dari ruangan Dimas, Maria pun duduk untuk segera memulai pembahasan kerjasamanya dengan King Jewelry.
"Maria, ternyata memang cantik. Bahkan lebih cantik dar fotonya, jika aku bisa mendapatkannya pasti akan menyenangkan." Batin Dimas yang kini tengah menatap lapar ke arah Maria.
"Sialan! Dasar mata keranjang! Pantesan aja Johan khawatir banget sama gue, mukanya aja udah kayak si kakek legend yang lagi shooting!" batin Maria geram melihat tatapan menjijikkan yang Dimas tujukan padanya itu.
__ADS_1
"Maaf pak, bisakah kita mulai saja? Saya rasa sebagai CEO anda pasti punya banyak pekerjaan, jadi saya tidak mau menunda waktu anda terlalu lama." Ucap Maria yang ingin urusan pekerjaan ini segera selesai.
Sedangkan Johan yang masih menunggu di depan gedung itu di kagetkan oleh sebuah suara yang familiar di telinganya.
"Pak Johan?"
Johan pun memutar kepalanya dan melihat pada pria yang memanggil namanya itu.
"Apa pak Johan ke sini untuk—"
"Tidak! Aku datang ke sini untuk mengantar temanku, jadi bisakah aku meminta bantuanmu untuk menjaganya?"
"Tentu saja pak Johan, memangnya siapa teman pa Johan itu?"
Johan pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto, dimana ada seorang gadis cantik yang tengah meyelipkan anak rambutnya di telinga.
Foto itu tampak di ambil tanpa sepengetahuan si empunya, namun justru foto itu terlihat begitu apik.
"Namanya Maria, tolong jaga dia dari CEO kalian. Aku akan sangat berterimakasih jika anda bersedia membantu."
"Baik pak Johan, saya akan menjaga teman anda semampu saya." Jawab pria itu sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak pak Marko." Pria bernama Marko itu pun berpamitan dan berlalu masuk ke dalam perusahaan itu.
Sedangkan Johan memilih untuk pergi ke cafe yang berada di sebelah gedung itu sambil menunggu Maria selesai dengan urusannya.
"Baiklah, nona Maria. Ini kontrak kerjasamanya, anda bisa membacanya lebih dulu dan menandatanganinya jika anda setuju." Dimas menyodorkan surat kontrak pada Maria, namun tatapan mesum ala kakek legend itu tak pernah luntur dari wajahnya.
Maria pun membaca kontrak itu dengan seksama, sebelum dia benar-benar menandatanganinya karena tidak memang tidak ada yang salah dengan kontrak kerja itu.
__ADS_1
"Saya setuju dengan kontrak yang di tawarkan perusahaan anda, pak Dimas. Saya sudah menandatanganinya, dan saya pasti akan bekerja sebaik dan semaksimal mungkin." Maria mengulurkan tangan pada Dimas sebagai simbol kerja sama di antara mereka, "Kalau begitu saya permisi dulu pak Dimas, senang bekerjasama dengan anda."
Dimas pun menerima uluran tangan Maria dengan senyum mesum yang membuat Maria segera menarik tangannya.