
Kenzo dengan sigap mengangkat tubuh Marisa dan menggendongnya. Dia langsung membawa Marisa ke kamar mereka.
Dan begitu mereka masuk, kamar mereka sudah di hiasi seperti kamar pengantin.
"Eh? Aku kan tidak memberitahu Arka tentang pernikahanku? Kenapa dia mendekorasi kamarku seperti ini?" batin Kenzo.
"Wow! Ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya ya, Shujin?" tanya Marisa.
"Ehm... tentu saja, malam ini akan menjadi malam pertama kita," bisiknya pada Marisa dengan suara yang terdengar sangat sexy bagi Marisa.
Kenzo mendudukkan Marisa di pinggir ranjang, dan beranjak untuk membersihkan diri lebih dulu.
Lima belas menit kemudian, Kenzo sudah menyelesaikan ritual mandinya. Namun dia tak lantas memakai bajunya. Dia justru berbaring di atas ranjang yang di penuhi dengan kelopak mawar.
Marisa berusaha dengan susah payah untuk menelan salivanya. Perut sixpack Kenzo benar-benar terekspos, dengan air yang masih menetes. Membuat laki-laki yang sudah berganti status menjadi suaminya itu, terlihat semakin menggoda dan menawan.
Marisa tak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh suaminya itu. Kenzo tersenyum manis pada Marisa, "Mandilah, aku menunggumu my wife," ucapnya dengan suara yang menggoda.
"E-eh iya!" Marisa pun langsung berlari dengan wajah canggung ke dalam kamar mandi.
Brak!
Marisa menyandarkan punggungnya pada daun pintu, dan mengusap dadanya yang masih bergemuruh.
"Gimana nih...? Apa gue beneran bakal ngerasain itu malam ini...?" Marisa menggelengkan kepalanya, karena banyak sekali adegan 21+ yang melintas di benaknya.
Dia memang belum pernah melakukanya, tapi fantasi liarnya karena membaca novel membuatnya sedikit banyak tau tentang hal semacam itu.
"Huft... Haah... Huft... Haah... tarik nafas... buang..." gumam Marisa untuk menenangkan dirinya, "Mendingan gue berendam dulu deh, biar agak santai gitu,"
Dia pun segera melepas pakaiannya dan mengisi bathup, untuknya berendam barang sejenak.
Namun, pikiran-pikiran laknat itu masih saja bergentayangan di otak Marisa.
"Ya ampun... gue deg-degan banget...! Apa iya rasanya bakal sakit, pas pertama kali, kayak di novel-novel yang sering gue baca?" gumamnya.
Karena terus saja berkutat dengan pikirannya sendiri, Marisa bahkan tidak sadar jika sudah hampir satu jam dia berendam di sana.
Tok...
Tok...
__ADS_1
Tok...
"Kau itu mandi atau semedi?" suara Kenzo membuat Marisa tersadar dengan lamunannya.
Dia pun segera mengenakan handuknya, dan membuka pintu kamar mandi itu. Namun dia hanya mengeluarkan kepalanya, dan mengedarkan pandangannya ke arah ranjang. Namun dia tak menemukan sosok Kenzo. Tapi saat dia menengok ke sebelah kanan, ternyata Kenzo berdiri di sana.
Kenzo pun langsung menghampiri Marisa dan membawanya menuju ranjang king size, yang akan menjadi saksi bisu berubahnya status Marisa dari seorang gadis, menjadi seorang wanita.
"Aaaah!" seru Marisa saat tubuhnya di angkat oleh Kenzo.
Dia memegangi handuknya erat-erat, karena takut penutup tubuh satu-satunya yang tersisa itu akan jatuh.
Dengan perlahan Kenzo membaringkan Marisa di atas ranjang mereka, "Apa kau sudah siap?" bisik Kenzo di sebelah telinga Marisa, sambil dengan nakal menggigit kecil telinga Marisa.
Tubuh Marisa meremang seketika, seolah ada aliran listrik bertegangan tinggi yang menyengat tubuhnya.
"Aku menginginkanmu, Marisa..." bisik Kenzo sebelum dia mulai menciumi bibir ranum istrinya itu.
"Emmph..."
Ciuman itu semakin lama menjadi semakin intens. Mereka saling menye*sap, melu*mat, dan saling bertukar saliva.
Nafas mereka semakin tidak beraturan. Kenzo memposisikan dirinya di atas tubuh Marisa, dan mengukung tubuh istri tercintanya itu.
Marisa mengalungkan tangannya di leher Kenzo. Dam Kenzo mulai kembali menciumi istrinya itu, namun kini tangannya tidak tinggal diam. Dia menarik handuk Marisa, yang menjadi penutup tubuh satu-satunya itu.
"Sangat indah... aku suka," bisiknya pada Marisa, dan membuat Marisa merasa sangat malu. Pipi dan telinganya memerah karena ucapan Kenzo barusan.
Kenzo mulai meremas kedua bukit indah nan kenyal itu. Marisa pun merasakan sensasi aneh, yang baru pertama kali ia rasakan. Hingga tanpa sadar, sebuah lenguhan seksiiih terlontar dari mulutnya.
"Aaah... Ehmh..."
Kenzo yang mendengarnya pun, semakin gencar meremas benda kenyal itu. Dan kini dia mulai menempelkan lidah tak bertulang nan basah miliknya ke arah pucuk merah muda sebesar biji kacang itu.
"Uhh... Aaah..." Marisa menggeliat, kala merasakan benda basah itu menyentuh pucuknya. Pinggulnya terangkat merasakan sensasi geli-geli enak, dia benar-benar merasa di bawa terbang ke angkasa dengan permainan lidah Kenzo di area pucuknya.
Kenzo menji*lat, menye*sap, dan sesekali menggigit kecil pucuk merah muda yang sudah mengeras itu.
Semakin lama, semakin sering suara-suara laknat penambah gair*ah itu Marisa lontarkan dengan bibirnya.
Kenzo kembali mencium bibir Marisa, kemudian turun ke leher jenjang nan putih milik istrinya. Kemudian ciumannya semakin dan semakin turun ke arah perut Marisa.
__ADS_1
Kenzo membuat tanda-tanda cintanya di tubuh Marisa.
Namun saat Kenzo baru saja akan menurunkan ciumannya ke area inti milik Marisa, jeritan kesakitan Marisa pun membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Aarrgh!" ringis Marisa seraya memegangi perutnya.
"Kau kenapa, sayang? Apa yang sakit?" tanya Kenzo, "Aku bahkan memulainya, tapi dia sudah kesakitan?" batinnya.
"Perutku, perutku sakit!" ucap Marisa terbara-bata karena rasa sakit tak tertahankan yang melanda perutnya, "Aku mau ke kamar mandi dulu," Marisa pun dengan susah payah berdiri.
"Mau ku antar?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri," Marisa pun tertatih-tatih berjalan ke kamar mandi.
Setelah pintu tertutup, Kenzo pun mengusap kasar wajahnya.
"Apa aku tadi menyakitinya? Tapi aku bahkan belum melakukannya?!" rutuknya.
Dia harus menahan hasratnya yang sudah sangat bergejolak. Dia melihat ke arah intinya, dan mendapati juniornya sudah sangat siap, "****!" Kenzo mengacak rambutnya, sambil menatap cemas ke arah pintu kamar mandi.
Sedangkan Marisa di dal sana tengah kebingungan.
"Bagaimana ini...? Apa yang harus ku katakan padanya? Arrrgghh!! Kenapa kau datang di saat yang sangat-sangat tida tepat begini sih...!?" rutuknya.
Marisa duduk di atas closet dengan bingung, malu, dan kecewa di saat yang bersamaan.
Bagaimana tidak? Di saat sebentar lagi, dia dan Kenzo akan benar-benar melakukannya... dia justru datang, dan mengganggu. Siapa lagi jika bukan bulan? Yup! Marisa datang bulan! Sungguh mengenaskan, bukan?
Setelah beberapa lama Marisa hanya berdiam di sana, pintu kamar mandi pundi ketuk.
Tok...
Tok...
Tok...
"Sayang... kau baik-baik saja kan?" tanya Kenzo dengan cemas.
Marisa pun berjalan dan membuka pintu lamar mandi itu sedikit, "A-aku baik-baik saja. Tapi—"
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Bisakah kau membelikanku... ehm..." Marid ragu untuk mengatakannya, "Pembalut?"
"What...!?"