
"Bukan, ini Samudera."
"Angkat."
Marisa pun dengan was-was menekan tombol hijau itu, dia takut jika yang dia dengar adalah suara Ando, "Halo..."
"Marjan! Kemana aja sih lo? Lama banget angkatnya!"
"Sa-Samudera?! Ini beneran lo?"
"Ya iyalah, emangnya siapa lagi?!" serunya dengan kesal.
"Bu-bukannya lo di culik sama si sendal Ando?"
"Cih! Hampir doang ya! Tapi karena otak pinter gue ini, gue bisa lolos!"
"Jadi lo beneran nggak di tangkep sama dia? Syukur deh kalau gitu. Tapi kenapa dia bilang lo ada sama dia?"
"Ya karena tadi gue kan emang udah di tangkep, cuma gue bisa kabur. Mungkin aja bawahannya udah lapor duluan pas mereka udah nangkep gue, tapi mereka nggak berani lapor kalo gue berhasil kabur," jelas Samudera.
"Untung aja gue nggak langsung ikut dia tadi!" ujarnya sambil menghela nafas lega.
"Jadi dia udah nyamperin lo?"
"Iya, barusan banget dia nyamperin gue. Tapi untungnya gue minta waktu satu hari, dan dia kasih jadi gue belum sempet ikut dia pergi."
"Bagus deh kalau gitu."
"Tunggu! Jadi sekarang lo ada di mana?" tanyanya dengan cemas.
Tenang aja, gue udah ada di tempat yang man kok, "Sebenarnya tadi itu ada orang yang nolongin gue. Dan dia mau bantu gue kabur dengan syarat gue harus kerja buat mereka. Kalau enggak, mereka bakal kembaliin gue ke anak buahnya si Ando. Tapi tujuan mereka baik kok, jadi gue iyain aja. Lagian gue juga butuh bantuan mereka."
"Hah? Siapa?"
"Gue nggak tau sih siapa orangnya, soalnya yang nolongin gue cuma anak buahnya dan mereka nggak ngasih tau gue siapa bos mereka," jelas Samudera, "Tapi mereka cuma bilang, Black Azzure."
"Black Azzure?" beo Marisa.
"Black Azzurre?" gumam Kenzo dengan alis bertaut.
"Kau tau siapa itu Black Azzure?"
"Aku tau, tapi bukan siapa. Black Azzure itu nama kelompok di dunia bawah, kalau temen kamu ada sama dia kamu bisa tenang."
"Kenapa kau bisa mengatakannya dengan seyakin itu?"
"Karena... karena aku mengenal salah satu petingginya."
__ADS_1
"Suara siapa itu Mar?"
"Dia bos—"
"Calon suaminya Marisa!" sahut Kenzo dengan posesif.
"Astaga... apa kau cemburu juga padanya?" tanya Marisa sambil geleng-geleng kepala.
"Dia juga pria," ucap Kenzo singkat.
"Tapi asal kau tau saja, dia itu hanya bocil SMA!"
"Mau itu bocah SMA, SMP, SD, atau TK sekalipun dia tetap seorang pria!" tekan Kenzo.
"Astaga... om! Kau tidak perlu menganggapku sebagai rival. Aku tidak ingin punya istri seorang iblis wanita menyusahkan sepertinya!" sahut Samudra dengan candaanya.
"Bagus kalau begitu. Kau tenang-tenang saja di sana. Kalau ada yang macam-macam padamu, katakan kau mengenal keluarga Alexander."
"Siap om!"
"Jangan memanggilku om, aku tidak setua itu."
Marisa pun tertawa melihat tingkah dua pria itu.
"Ya sudah, Sam. Karena kau sudah ada di tempat yang aman, aku bisa tenang dan tidak perlu mengikuti rencana si sendal Ando itu!"
"Samudra...!"
Tut!
Tut!
Tut!
"Dasar, bocil nggak ada akhlak!" seru Marisa kesal.
"Cukup. Jangan membahas dia lagi, lebih baik bicarakan masalah kita."
"Masalah kita? Yang mana?" tanya Marisa berpura-pura tidak paham arah pembicaraan Kenzo.
"Tentu saja tentang pernikahan kita, calon nyonya Kenzo Alexander," ucap Kenzo dengan senyum jahilnya.
"No coment! Aku masih punya masalah besar yang belum selesai!" ujarnya, "Sebelum si sendal Ando itu menyerah mengejarku, maka hidupku tidak akan pernah tenang!"
"Aku bisa membantumu."
"Hah? Kau? Hahaha... jangan bercanda. Kau bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah teror kecil itu, tapi kau omong besar mau membantuku?" ejek Marisa sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Aku bukannya tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi aku hanya tidak ingin orang lain, terlebih mamaku tau tentang masalah itu," jelas Kenzo karena memang itulah kenyataannya.
"Oh? Lalu dengan apa kau akan membantuku, tuan Kenzo Alexander yang terhormat, baik hati, dan tidak sombong?" godanya dengan nada mengejek.
"Kau tidak perlu tau prosesnya. Kau hanya perlu tau kalau semuanya akan beres di tangan dia."
"Dia siapa?"
"Tentu saja petinggi Black Azzure yang kukenal itu."
"Ooh... kalau kau benar-benar mengenal orang itu, maka memang ada kemungkinan untuk berhasil," ucap Marisa.
Di tempat lain...
Prang!
Seorang pria muda, kini sudah terkapar tidak berdaya di atas lantai. Darah mengalir dan membanjiri tempat itu, bau amis darah benar-benar menusuk hidung.
"Dasar tidak berguna! Bagaimana kau mendidik bawahanmu, hah!? Hanya menangkap seorang bocah saja tidak becus!?" serunya.
Pria yang sudah terluka parah itu, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan tuannya. Bahkan rasanya, dia sudah tidak bisa lagi tetap membuka matanya.
Namun bukannya merasa iba, Ando justru memanggil dua orang ajudannya. Dan dengan tidak berperasaan, dia menyuruh ajudannya untuk menguburkan pria itu hidup-hidup.
"Kalian! Bawa dan kubur dia hidup-hidup!" ucapnya dengan wajah mengerikan, "Itulah hukuman untuk kegagalan!"
Tangannya terkepal erat, dengan rahang yang sudah mengeras menahan amarah.
"Black Azzure!? Kenapa kalian selalu menggangguku, baji*ngan!" serunya seperti orang gila.
Beberapa saat lalu, ketika dia baru saja kembali. Tapi dia justru di buat naik pitam dengan berita dari bawahannya. Berita yang mengabarkan, kalau Samudra berhasil meloloskan diri dengan batuan orang-orang dari Black Azzure.
Prank!
Pyar!
Brak!
Ando mengamuk di ruangan pribadinya. Segala macam benda yang ada di sana, dia lemparkan ke segala arah hingga semuanya hancur berantakan.
"Aaarrggh! Sialan! Semuanya gagal total! Semuanya karena orang itu! Dasar pak tua bau tanah!" umpatnya kasar sambil terus menghancurkan benda-benda yang ada di sekitarnya, "Marisa... Marisa... Marisa... aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah! Aku, Ando tidak pernah gagal dalam mendapatkan apapun yang ku inginkan!" gumamnya dengan tangan terkepal erat.
Saat suasana hati Ando sedang buruk, maka dia akan melampiaskannya pada musuh-musuhnya. Membuat mereka tidak berdaya, menjerit kesakitan san ketakutan di hadapannya. Dia merasa ada kepuasaan tersendiri dengan apa yang dia lakukan.
"Kali ini kemana lagi ya? Hanya jeritan ketakutan, ketidakberdayaan dan rintihan kesakitan yang bisa redain emosi gue," Ando pun nampak berpikir sejenak, hingga akhirnya entah ide gila macam apa yang terlintas di otak sablengnya itu, "Ck! Ck! Ck! Keluarga Dewangga, sepertinya kali ini sudah tiba giliran kalian. Sudah terlalu lama aku membiarkan kalian tertawa di atas penderitaanku! Dulu kalian tak pernah menganggapku ada, maka sekarang aku akan membuat kalian semua menghilang dari muka bumi ini!"
Tapi setelah itu, Ando justru tertawa terbahak-bahak seperti seorang psychopath. Benar-benar tawa jahat yang mengerikan.
__ADS_1
"Hahaha..."