
..."Pahamilah! Dia bukan membalas cintamu, tapi hanya menghargai perasaanmu."...
...By: Rosemarry...
...******...
"Itu!?" Raisa pun nampak syok saat melihat sosok yang sedari tadi di tunggunya itu datang.
Namun dia tak hanya seorang diri, melainkan di temani oleh seorang wanita cantik di sampingnya dan juga Arka yang berjalan di belakang mereka.
"Siapa wanita yang bersama tuan Kenzo itu? Sungguh sangat cantik, bahkan nona Raisa pun kalah cantik darinya." Bisikan demi bisikan pun mulai terdengar di antara para tamu undangan.
"Benar, setelah kedatangan mereka seolah merekalah bintang utama acara malam ini."
"Damn! Siapa sih wanita jal*ng itu! Beraninya dia ngedeketin Kenzo gue!" Geram Raisa pelan sambil mengepalkan erat-erat tanganya, dan menatap nyalang pada Marisa.
Marisa pun juga menyadari hal itu, karena posisi Raisa berdiri yang memang berada di tangga naik menuju panggung.
"Kenapa tuh cewek liatin gue matanya kayak mau copot gitu, apa dia salah satu ulet bulu yang gangguin si Muktar?" Batin Marisa sambil melirik ke arah Raisa.
"Apa yang kau lakukan? Senyum Marjan!" Bisik Kenzo sembari menyenggol Marisa dengan sikunya.
"Tidak apa bos, hanya ada satu ulet bulu yang sedang mengirmkan santet online padaku saat ini. Tunggu! Darimana anda tahu julukan keramatku itu bos? Setahuku cuma Gea, Jojo dan Markonah yang tau?"
Marisa menunjuk ke arah Raisa dengan dagunya, kemudian beralih menatap Kenzo dengan penasaran.
Kenzo yang melihat kode dari Marisa pun mengalihkan pandanganya ke arah yang di tunjuk oleh Marisa, dan dia pun akhirnya mengerti kenapa Marisa terus melihat ke arah sana sedari tadi.
"Namanya Raisa, dan dia yang harus kau bikin menjauh sejauh-jauhnya dariku malam ini! Bila perlu untuk selamanya." Jelas Kenzo dengan suara pelan pada Marisa.
"Dan kalo buat julukan Marjan itu. Karena lo itu manis kayak sirup banyak yang suka, tapi ngangenin karena boomingnya cuma setahun sekali." Sambungnya dalam hati dengan spontan.
__ADS_1
"Yup, I know that! Dari tatapannya saja sudah bisa lihat kalau dia seperti sudah siap menelankuku hidup-hidup, tuan Kenzo." Celetukan Marisa pun membuat Kenzo ingin sekali tertawa, karena ekspresi lucu Marisa yang sulit di gambarkan itu.
Arka yang juga mendengar obrolan kedua orang itu pun ikut mengulum senyumnya, dalam hati dia sangat berharap kalau Marisa bisa membungkam Raisa malam ini.
"Kayaknya malam ini bakalan ada tontonan gratis bin menarik yang akan segera tayang, tunggu! Baterai ponsel gue masih nggak ya?" Batin Arka.
Kemudian Arka pun merogoh saku jasnya, dan mengambil benda pipih nan canggih itu.
"Untung aja baterainya masih sisa 20% hehe, gue bakalan pastiin momen nanti bakal gue abadiin di ponsel keramat gue ini!" pikirnya sambil nyengir.
"Apa yang sedang kau pikirkan Arka?! Senyummu itu sudah seperti emon, si penjahat kelamin itu. Dan senyummu itu membuatku merasakan ada firasat yang buruk!" Kenzo yang ternyata melirik ke arah arka dan melihatnya sedang nyengir sendirian, pun bertanya pada sahabatnya itu.
Karena senyum itu, adalah senyum keramat yang biasanya keluar di saat Arka sedang dalam mode lambe turahnya.
"Mana ada, aku hanya sedang mengeringkan gigiku." Kilah Arka yang membuat Kenzo dan Marisa hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sekarang mari kita dengarkan sambutan dari bintang utama kita malam ini, nona Raisa silahkan naik ke panggung."
"Lihat aja nanti, gue bakalan bikin lo malu! Beraninya lo coba-coba rebutan Kenzo sama gue?! Panggil nama gue terbalik kalau gue nggak bisa buat lo malu malam ini!" Batinnya.
Raisa pun melangkahkan kakinya naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan.
"Hey Stev, apa lo kenal sama cewek yang datang bareng si Kenzo itu?" Della bertanya pada Stevy, apakah dia mengenal Marisa.
"No! Gue nggak kenal siapa cewek itu, tapi yang jelas dia itu orang yang spesial buat Kenzo deh. Lo sendiri tau kan gimana sikap Kenzo sama Raisa selama ini, mungkin aja itu gara-gara tuh cewek."
Della pun manggut-manggut mendengar penjelasan Stevy yang menurutnya cukup masuk di akal.
"Mungkin aja sih, kayaknya bakal seru nih Stev. Liat aja tuh si Cumi matanya udah melotot gitu ngeliatin tuh cewek yang bisa deket sama Kenzo, sedangkan dia sendiri aja di cuekin mulu sama si Kenzo."
Della pun terkekeh geli melihat Raisa yang menatap Marisa dengan tatapan tidak suka yang sangat jelas terlihat itu.
__ADS_1
"Bisa jadi sih Del, gue penasaran deh siapa yang bakal menang kalo mereka berdua ribut!"
Stevy pun ikut terkekeh kala membayangkan kedua wanita itu bertengkar untuk memperebutkan Kenzo.
Sedangkan di ujung ruangan sana, tepatnya di sebuah sofa panjang yang tersedia di sana. Sesosok pria muda nan tampan itu, sedari tadi tak bisa melepaskan pandanganya dari sosok Marisa.
"Dia?! Marisa, itu Marisa kan? Kenapa dia bisa ada di sini, dan kenapa dia bisa bareng sama si Kenzo?" Gumamnya.
Saat pria itu hendak berdiri dan menghampiri Marisa, seseorang pun menghentikan langkahnya, "Hai tuan Antonio, lama tidak bertemu bagaimana kabar anda?"
Orang itu menyapanya seraya mengulurkan tangan pada pria yang tidak lain adalah Antonio, laki-laki yang sempat bertemu atau lebih tepatnya bertabrakan dengan Marisa di cafe.
"Oh halo juga tuan John kabar baik, bagaimana dengan anda sendiri?"
Antonio tersenyum ramah pada tuan John yang barusan menyapanya, namun dia masih sesekali mencuri pandang ke arah Marisa.
"Kabar baik juga, oh iya tuan Antonio bagaimana dengan proposal kerjasama yang saya ajukan? Saya sangat berharap dapat bekerja sama dengan perusahaan anda."
John pun mulai membahas masalah kerjasama antara perusahaanya dan perusahaan milik Antonio.
"Oh soal itu saya sudah mengecek proposalnya, nanti asisten saya yang akan menghubungi anda lagi tentang keputusan finalnya." John pun menyadari Antonio yang sedari tadi terus mencuri lihat pada Marisa.
"Tuan Antonio, saya lihat dari tadi anda terus melihat ke arah sana. Apa anda mengenal gadis yang datang bersama tuan Kenzo tadi?" tanyanya yang membuat Antonio kembali menatap ke arahnya.
"Ehm ya, dia teman saya." Antonio pun tersenyum.
"Ooh begitu, dia sangat cantik sampai membuat semua orang terpana saat dia datang tadi." Ucapnya yang di setujui oleh Antonio.
"Benar sekali, dia sangat cantik dan juga menarik." Antonio menatap ke arah Marisa dengan senyum manisnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Antonio, saya mau ke sebelah sana sebentar." John pun kemudian berpamitan pada Antonio dan melenggang pergi.
__ADS_1
"Kemana dia?!"