My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 89


__ADS_3

Selalu ada sesuatu yang akan membuatmu merasa hidup ini berat.


Tapi ada di balik itu, tuhan menciptakan kekuatan.


Dia percaya, kekuatan yang dia berikan untukmu sanggup membantumu melewati semua masalahmu.


By : Rosemarry


Deg!


Marisa pun auto menolehkan kepalanya ke belakang, dan di sana Kenzo sudah berjalan mendekat ke arahnya.


"Eh, bos. A-apanya yang apa?" kilahnya dengan panik.


"Aku mendengar sedikit pembicaraan kalian,"


Blar!


Bagaikan petir di siang bolong menyambar ubun-ubunnya, Marisa pun panik bukan kepalang.


"Apa yang sudah kau dengar, bos?"


"Bukankah aku sudah menyuruhmu berhenti memanggilku, bos?"


"Benarkah? Ku kira yang semalam itu hanya gurauanmu saja," kilahnya berusaha menutupi rasa kesal yang masih ada di hatinya, sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Pertama, semua itu bukan gurauan, candaan, lelucon, atau apapun itu. Kedua, aku butuh penjelasanmu. Siapa laki-laki tadi, karena setauku kau itu jones! Jadi jangan coba-coba untuk membohongiku. Dan ketiga, jangan alihkan topik pembicaraan," ucap Kenzo yang membuat Marisa auto mati kutu.


"Sial! Apa yang harus ku katakan?!" batinnya.


"Aku butuh jawabanmu, bukan diammu!"


"Baiklah... namanya Ando. Dia adalah kakak dari mantan bosku. Sudah ku jawab, jadi aku mau kembali ke apartemen. Bukankah kau sudah harus berangkat meeting, tuan Kenzo."


"Ando? Lalu apa hubunganmu dan dia, kenapa kau bilang kau akan menuruti kemauannya? Dan kenapa kau terlihat sangat gelisah tadi?" tanya Kenzo yang memang hanya mendengar pembicaraan Marisa sejak Marisa mengucapkan kalimat itu.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bisakah kau katakan apa yang sudah kau dengar?"


"Aku hanya mendengar saat kau bilang, kau akan mengikuti kemauannya. Juga saat kau meminta waktu satu hari, untuk berpamitan denganku."


Kenzo menatap Marisa dengan perasaan yang sangat sulit di artikan. Ada rasa sedih, saat Marisa mengatakan jika dia hanyalah bosnya, rasa was-was dengan kata berpamitan dan juga rasa cemas yang entah karena apa di tambah rasa penasaran.


"Haish... aku hanya bisa bilang, aku harus pergi besok. Selebihnya, itu tidak ada hubungannya denganmu jadi kau tidak perlu tau," ucap Marisa, "Aku tidak mau melibatkan lebih banyak orang dalam masalah ini. Dia bukan orang yang bisa di lawan dengan uangmu, Kenzo," sambung Marisa dalam hati.


"Tidak ada hubungannya? Apa maksudmu mengatakan itu tidak ada hubungannya denganku?! Kau adalah calon istriku, dan apapun itu yang berhubungan denganmu adalah urusanku!"

__ADS_1


"Stop! Kau masih berani mengatakan kalau aku adalah calon istrimu? Setelah apa yang aku lihat tadi? Maaf, tuan Kenzo yang terhormat. Aku tidak membutuhkan perhatian palsumu!" seru Marisa.


Sret!


Kenzo yang marah langsung menarik tengkuk Marisa dan menjatuhkan ciuman yang menuntut pada Marisa.


Marisa yang awalnya kaget, perlahan justru mengikuti alur permainan lidah Kenzo padanya. Dan bahkan dia mulai membalas lum*atan dan sesa*pan yang Kenzo berikan.


Mereka bahkan lupa, di mana mereka berada saat ini. Tapi untungnya, tempat itu tidak terlalu ramai.


Hah... Hah... Hah...


Deru nafas memburu keduanya terdengar, saat tautan bibir mereka terlepas.


"Kau cemburu, Marisa. Jadi apa sekarang kau masih akan menyangkal kalau di hatimu sudah ada namaku? Bahkan kau sama sekali tidak menolak ciumanku, apa itu semua sudah cukup untuk membuatmu sadar dengan perasaanmu sendiri?" bisik Kenzo di telinga Marisa.


"****! Kenapa aku malah menikmatinya!?" batinnya, "Lalu apa hubungannya itu, dengan apa yang aku lihat tadi?"


"Kau salah paham. Dia adalah klienku, yang memang memiliki janji temu denganku hari ini."


"Cih! Klien? Klien yang mencium kliennya sendiri, apa itu masih bisa di sebut klien?" tanya Marisa dengan senyum sinis.


"Kau salah lihat. Tadi aku memang sengaja meminta bantuannya untuk membuatmu menyadari perasaanmu padaku."


"Maksudmu, kau berakting dengan begitu total?!" Marisa tersenyum kecut ke arah Kenzo.


"Bohong!"


"Dia berkata jujur, nona." Sahutan lembut itu berasal dari seorang wanita cantik yang sedang berjalan ke arah mereka saat ini, "Perkenalkan, namaku Kara. Aku adalah sahabat Kenzo sejak kecil, sekaligus keponakan ibunya Arka dan Azka," Kara mengulurkan tangannya pada Marisa dengan senyum manis di bibirnya.


"O-oh?" Marisa pun menyambut uluran tangan Kara dengan kaku sekaligus malu, karena sudah salah mengira.


"Jadi Marisa, bisa kau jelaskan semuanya secara detail padaku?" sahut Kenzo.


"Akan aku jelaskan, tapi tidak di sini."


"Baiklah, mari pulang ke apartemen. Kara, apa kau mau mampir ke apartemenku? Ada Arka juga di sana," tawarnya.


"Apa Azka juga ikut?"


"Tidak, dia kan bukan asistenku."


"Kalai begitu, tidak usah. Aku pergi dulu, bye!" Kara pun melenggang pergi meninggalkan Kenzo da Marisa.


"Ayo." Kenzo menggandeng tangan Marisa dan mereka pun kembali ke apartemen Kenzo.

__ADS_1


Cklak!


"Eh Ken? Kau sudah pu—" Arka melihat raut wajah Marisa yang tidak lagi sama mengerikannya dengan tadi, "Eh? Kenapa dia sudah tidak marah? Sebenarnya apa yang terjadi?" batinnya.


Kenzo pun bergegas membawa Marisa ke kamar mereka untuk berbicara 4 mata, "Arka jangan menggangguku. Aku punya sesuatu yang penting untuk ku bicarakan dengannya,"


"Ok!" Arka mengacungkan jempolnya, "Urusan penting? Apa urusan penting yang itu?" batin Arka dengan otak kotornya yang sudah piknik ke bulan.


Cklak!


Mereka pun duduk di tepian ranjang, "Bisa kau katakan, sekarang?"


Marisa menghela nafasnya dengan berat, "Ando, dia sudah lama menyukaiku."


"Astaga...! Jadi dia rivalku yang lain?" Kenzo menepuk jidatnya. Tidak hanis pikir, kenapa banyak sekali pria yang menyukai wanita unik di hadapannya ini.


"Tapi dia itu bukan orang biasa. Dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin, sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa yang hilang karena dia."


"Lalu apa maksudnya dengan kau akan mengikuti keinginannya?"


"Dia ingin aku menikah dengannya. Dia adalah orang yang tidak akan pernah menyerah dengan ambisinya, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."


"Kau tau semua itu, tapi kenapa kau mengiyakannya?"


"Dia menyandera temanku," ucap Marisa dengan lesu.


"Temanmu? Siapa? Apa kau yakin itu bukan cuma jebakannya?"


"Orang yang sudah membantuku menemukan Azka, juga orang yang membantuku dalam kasus dengan Raisa waktu itu."


"Jadi dia orangnya? Tidak mungkin! Tidak mungkin orang cerdas sepertinya bisa tertangkap semudah itu. Apa kau sudah mencoba menghubunginya?"


"Sudah, dan nomornya tidak aktif."


"Mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan."


"Kurasa tid—"


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Marisa merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Dia menatap nama yang tertera di layar ponselnya dengan alis yang bertaut. Tapi dia tidak segera menjawab telepon itu, hingga membuat Kenzo penasaran.

__ADS_1


"Siapa? Apa itu Ando?" tanya Kenzo.


__ADS_2