My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 111


__ADS_3

Kenzo pun kembali ke kamarnya, dan mendapati Marisa yang masih tertidur lelap di atas ranjang. Kenzo pun kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk Marisa.


"Semoga saja paman Cleric bisa segera menangkap iblis itu, jadi aku tidak perlu lagi khawatir dengan keselamatanmu," gumamnya lirih sembari mengelus rambut Marisa, "I love you, Marisa." Kenzo mencium kening Marisa, kemudian ikut memejamkan matanya.


Hingga hari pun berganti...


Marisa sudah bangun sejak tadi, dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dan dia juga membuat porsi lebih untuk Maria. Dia berencana untuk datang ke tempat kerja Maria, hari ini.


Tak...


Tak...


Tak...


Suara langkah kaki Kenzo terdengar menggema, dan membuat Marisa mengalihkan atensinya.


"Kau sudah mandi? Ayo sarapan. Aku sudah masakkan makanan spesial untukmu," ucap Marisa sambil tersenyum, membuat Kenzo ikut tersenyum manis menatapnya.


Kenzo berjalan menuju meja makan, sambil membetulkan kemeja dan dasinya, "Kalau saja dari awal kau bersikap semanis ini, mungkin sudah lama aku menikahimu," celetuk Kenzo.


"Tidak ada kata kalau saja, seandainya, seharusnya. Semua itu hanya khayalan. Kalau saja aku bersikap manis sejak awal, mungkin kau akan mengira kalau aku berusaha mendekatimu. Dan bisa saja, hal itu malah membuatmu ilfill padaku, sayang..." ucap Marisa sambil menghampiri Kenzo dan membetulkan dasi suaminya itu.


"Benar juga. Jika kau bersikap manis sejak awal, aku mungkin malah tidak akan menikah dengan nenek lampir ini," jawab Kenzo dengan candaan.


"Kai mengataiku nenek lampir?! Apa kau mau menunda ritual malam pertama kita lebih lama, sayang...?" ujar Marisa dengan nada mengancam.


Kenzo pun mendudukkan dirinya di kursi meja makan, dan begitu pula dengan Marisa.


"No! Aku tidak mengataimu. Apa kau lupa? Kaulah yang menyumpahiku menikah dengan nenek lampir, sayang... jadi siapa yang mengatai siapa?" Kenzo terkekeh kecil.


Kenzo tidak pernah merasa sebahagia ini. Dia selalu menjalani hari-harinya dengan monoton.

__ADS_1


Bangun, mandi, sarapan, berangkat kerja, makan siang, pulang kerja, makan malam, mandi, lalu tidur lagi. Hanya terus seperti itu, sangat membosankan. Seperti video yang terus di putar berulang kali.


Tapi kini dengan adanya Marisa, Kenzo merasa hari-harinya lebih berwarna. Lebih banyak canda dan tawa, membuat es di hatinya perlahan mencair.


"Benarkah? Sepertinya aku tidak pernah mengatakan hal itu?!" kilah Marisa.


"Apa kau lupa kalau aku bisa mendapatkan akses dari kamera pengawas di seluruh gedung apartemen lamaku, sayang? Apa kau mau aku tunjukkan videonya?" goda Kenzo.


"Tidak perlu, cepatlah makan nanti keburu dingin. Oh iya, aku mau minta ijin untuk menemui Maria di tempat kerjanya," ucapnya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Apa dia sudah berangkat kerja hari ini?" tanya Kenzo yang berpikir, kalau Maria masih akan beristirahat di rumah hari ini.


"Dia itu gila kerja, mana mungkin dia mau membolos dari pekerjaannya? Aku dan dia itu saudara setali puser, feelingku mengatakan kalau dia akan berangkat kerja hari ini," ujarnya.


"Feeling? Rupanya feeling istriku ini memang sangat kuat ya?" ujar Kenzo sambil memperlihatkan layar ponsel milik Marisa pada pemiliknya, "Feeling yang sangat kuat kan, sayang?" goda Kenzo.


Di layar itu, terlihat sebuah pesan chat Maria dan Marisa.


^^^Woy, Markonah! Hari ini ^^^


Kerja, kenapa


emang? ✓✓


^^^Gue mau nyamperin lo, ^^^


^^^di tempat kerja lo. ^^^


^^^Sekalian gue bawain makanan ^^^


^^^buat lo, lo pasti belum ^^^

__ADS_1


^^^sarapan kan?✓✓^^^


Ya kan gak ada yang masak.


Ok, dateng aja ✓✓


^^^Siip✓✓^^^


"Hehe... piss!" ucap Marisa sambil nyengir kuda dan menunjukkan dua jarinya pada Kenzo.


"Ya udah ayo makan. Nanti kita kesiangan," ujar Kenzo.


Mereka pun menikmati sarapan pagi mereka dengan khidmat. Hanya suara piring dan sendok yang beradu, tanpa ada pembicaraan lain.


"Ya udah, sayang. Aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati bawa motornya."


"Siap, komandan!" celetuk Marisa sambil memperagakan sikap hormat.


"Dasar kau ini," Kenzo mengecup kening Marisa, kemudian beranjak keluar dari rumah.


Pak Tejo juga sudah menunggu di dalam mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan rumahnya, sedangkan Marisa tengah memasukkan nasi dan lauk buatannya ke dalam kotak bekal.


"Saatnya cuss, berangkat...!" serunya sambil melangkah menuju garasi. Kenzo memang sudah menyuruh bawahannya, untuk membawa motor kesayangan Marisa ke rumah baru mereka.


Marisa melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Hoodie berwarna biru dongker, celana jeans dan sebuah tas selempang punggung melengkapi style Marisa hari ini.


Hingga tidak terasa, Marisa kini berada di depan gedung tempat Maria bekerja.


"Eh Maria, tumben lo kesiangan datengnya? Biasanya lo selalu on time," sapa Monica yang baru saja turun dari taksi onlinenya.

__ADS_1


Maria pun menatap ke arah Monica dengan alis bertaut.


"Woy! Ngapain lo bengong, beb? Ntar Kesambet baru tau rasa lo!" selorohnya. Namun saat dia melihat penampilan Marisa yang dia kira Maria, mata Monica pun terbelalak kaget, "Tunggu!"


__ADS_2