My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 39


__ADS_3

...Jika ingin bersaing, bersainglah dengan cara yang sehat...


...Karena apa yang kau dapatkan dengan cara kotor tak akan bertahan lama...


...By : Rosemarry...


...*****...


Drtt...


Drtt...


Drtt...


"Astaga... ini kenapa ponselnya si Muktar bisa ketinggalan sih...? Mana bunyi terus lagi, mending gue anterin aja deh siapa tau telepon penting." Marisa pun turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke gedung itu, dan mencari Kenzo.


Plok!


Plok!


Antonio menepuk tangannya dua kali, dan sesaat kemudian 2 orang pria berbadan kekar layaknya hulk datang menghampirinya.


"Lakukan!" setelah mengatakan hal itu, Antonio pun kembali duduk dan menikmati anggurnya dengan seringai devil menghiasi wajah tampannya.


Eiits...! Anggurnya bukan anggur merah cap orang tua dengan jenggotnya yang melambai-lambai ya guys.🤣


"Baik tuan." Kedua orang itu pun membawa tubuh Kenzo ke tempat yang sudah di atur oleh Antonio sebelumnya.


"Dimana sih si Muktar?" Marisa celingukan mencari Kenzo, "Kenapa tadi aku hanya tanya di lantai berapa? Kenapa tidak sekalian ku tanya di ruangan yang mana?! Haish...!" gumam Marisa dengan geram.


"Ayo cepat! Sebelum ada yang curiga." Marisa yang mendengar suara itu pun, segera menghentikan langkahnya.


Dia bersembunyi di balik tembok dan mengintip ke arah dua orang berbadan besar itu, di tengah-tengah mereka ada seorang pria dengan postur tubuh yang mirip dengan Kenzo.


"Itu si Muktar kan? Kenapa dia bisa teler gitu? Mana pake si papah sama 2 hulk lagi, mencurigakan banget." Marisa pun mengikuti mereka dalam jarak aman.

__ADS_1


Mereka pun berhenti di depan pintu kamar nomor 203, dan membawa Kenzo masuk ke dalam sana.


Setelah itu, mereka pun keluar dari sana. Namun anggap saja ini hari sial mereka, karena tertangkap basah oleh Marisa.


Brugh!


Tendangan penjemput maut pun di layangkan oleh Marisa tepat di dada salah satu pria tersebut.


Bugh!


"Aarrgh!!" Pria itu pun memegangi dadanya yang terasa amat sakit karena tendangan Marisa, yang baka sanggup membuatnya mundur beberapa langkah.


"Hey nona! Siapa kau? Kenapa tiba-tiba kau menyerang kami?!" seru pria yang satunya.


"Hmm... siapa aku? Anggap saja aku adalah bintang sial kalian, dan kenapa aku memukul kalian? Simple saja, muka kalian membuatku mual dan sangat ingin menghajar kalian." Jawab Marisa sambil melipat tangannya di depan dada, dan tersenyum smirk.


"Cih! Dasar wanita gila! Hajar!" seru pria yang tadi terkena tendangan Marisa, dia pun segera menerjang maju dan bersiap menyapa wajah cantik Marisa dengan tinjuannya.


Hap!


Marisa pun tersenyum dengan begitu mengerikan.


Krak!!


"Arrggh...! Tanganku!" pria yang belum sempat beraksi pun sedikit terkejut dan tertegun.


Wanita berbadan kecil seperti Marisa sanggup mematahkan lengan temannya dengan satu gerakan.


"Majulah! Kenapa kau bengong? Apakah seseru itu menontonku beraksi? Wah... wah... haruskah aku mengikuti casting film laga?"


"Sialan...!" pria itu pun mulai menyerang Marisa, namun dengan gesitnya Marisa menghindari semua serangan itu.


"Apa kau sudah lelah?"


"Damn! Jangan meremehkanku anak kecil! Jangan hanya mengelak seperti belut!"

__ADS_1


"Hey... Hey... Hey... jangan panggil aku anak kecil paman! Aku Shifa namaku adalah Shifa!" Marisa menunjuk wajah pria itu dengan kesal, "Eh Ralat! Namaku Marisa, ingat itu baik-baik. Siapa tau setelah ini kau akan datang padaku untuk balas dendam kan, paman?"


"Dasar sableng!"


"Eh? tadi kau menjadikanku Shifa sekarang jadi Wiro Sableng? Aih... sepertinya aku benar-benar akan ikut casting film laga setelah ini." Marisa pun menggelengkan kepalanya, "Cukup bercandanya, si Muktar sudah menungguku untuk adegan putri menyelamatkan pangeran tampan!"


Bugh!


Bagh!


Bugh!


"Hiaat...!"


Brak!!


"Aaarrggh...! Punggungku!" serunya kala Marisa membanting tubuh besarnya itu bagai melempar karung beras.


"Bye, paman. Aku masih ada urusan, sampai jumpa lagi." Marisa masih sempat dengan konyolnya melambaikan tangan dan memberikan kiss bye pada kedua pria yang sudah KO itu.


"Iblis wanita yang mengerikan, jangan sampai kita bertemu lagi dengannya. Ayo, kita harus melaporkan hal ini pada bos." Dengan susah payah pria itu berdiri sambil menopang punggungnya.


Dia meringis kesakitan, rasanya ada beberapa tulang rusuk yang retak atau mungkin patah di dalam sana.


Begitu juga dengan pria yang sebelah tangannya sudah tidak dapat ia gerakkan, pasalnya tulang lengannya sudah benar-benar patah dan butuh penanganan segera.


Brak!!


"Maafkan keterlambatanku bos." Marisa pun terkejut kala melihat adegan di depannya.


"Siapa kau?!"


"Kau tanya siapa aku?" Marisa berjalan dengan langkah yang begitu mengintimidasi wanita yang sudah berada di atas ranjang, tanpa sehelai benang pun di badannya.


"A-apa yang mau kau lakukan? Jangan mendekat!" wanita itu beringsut mundur hingga menabrak headbord ranjang.

__ADS_1


Brugh!


__ADS_2