
...Bayangkan saja jika di hari esok, matahari akan terbit dari barat atau rohmu akan keluar dari ragamu...
...Karena dengan begitu, kamu akan lebih bisa menghargai kehidupan....
...By : Rosemarry...
...*****...
Baru saja Johan hendak berdiri, Maria menahan lengannya dan membuat Johan urung melangkahkan kakinya.
"Hah? Gue cuma ambil ponsel gue doang kok, ketinggalan di mobil." Kilahnya.
Padahal sebenarnya, Johan ingin menghampiri si pemilik mobil hitam itu untuk mengetahui siapa dia dan apa tujuannya.
"Ponsel? Terus itu yang di tangan lo apaan Jojo ogeb...!" Maria menunjuk sebuah benda pipih yang di genggam dengan erat oleh telapak tangan Johan.
"Eh?" Johan pun melihat tangannya, dan benar saja benda pipih canggih itu berada di sana, "Hehe..." Johan hanya bisa terkekeh menyadari kebodohannya.
"Dasar pelupa lo Jo, kebanyakan makan pantat ayam ya lo?" ejek Marisa.
"Ye... mana ada, yang ada makan ati." Jawabnya sambil terkekeh, "Biar kuat hati kalo lagi deket sama lo gini." Sambungnya dalam hati.
Namun saat Johan kembali melihat ke arah dimana mobil hitam tadi berada, kini di sana sudah tidak ada lagi kuda besi yang sedari tadi memunculkan tanda tanya besar di kepalanya itu.
"Kemana tuh mobil? Cepet banget ilangnya," pikirnya.
"Jo!" Maria menepuk bau Johan dan membuat si empunya terkejut.
"Eh, kenapa Mar? Ada apa?"
"Lo yang kenapa Jojo... ngapain lo bengong mulu dar tadi?"
"Gue nggak bengong kok," kilahnya.
"Nggak bengong sih... cuma pikiran lo aja yang lagi terbang tuh ke atas sana." Maria menunjuk ke atas dengan nada mengejek.
Johan pun hanya tertawa kecil mendengar candaan Maria itu.
__ADS_1
Sedangkan Marisa, kini baru saja sampai di rumah Kevin.
"Lo nggak mau mampir dulu?"
"Lain kali aja deh, udah malem juga kan nggak enak."
"Ooh... ya udah deh."
Baru saja Marisa akan naik ke atas motornya, dia pun di kejutkan dengan pintu utama rumah itu yang terbuka.
"Loh kok, Marisanya nggak di ajak masuk sih sayang...?" tanya Stella pada Kevin.
"Dianya gak mau ma."
"Kenapa?" Stella berganti menatap Marisa.
"E... soalnya udah malem tante, mungkin lain kali aja," tolaknya dengan halus sambil tersenyum canggung.
"Ya udah, nginep aja di sini."
Doeng!
Stella yang bingung kenapa Marisa dan Kevin sama-sama menatapnya dengan aneh pun kembali bersuara, "Kenapa? Kan di rumah kita masih banyak kamar kosong. Lagian kamu sendiri kan yang bilang kalo ini udah malem, jadi—" Stella pun menghampiri Marisa.
"Eh! Eh! Eh! Mau ngapain nih nyokapnya si Kevin?" batinnya.
"Jadi... mending kamu nginep di sini aja, nggak aman buat cewek pulang sendirian malem-malem." Stella menggandeng lengan Marisa dan membawanya masuk ke dalam.
Saat melewati Kevin, Marisa pun memberikan kode agar Kevin menolongnya, "Vin...?" panggilnya tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir saja.
Namun Kevin hanya menggedikkan bahunya tak berdaya melawan keinginan ibunya.
Kevin pun menutup pintu dan menyusul kedua wanita itu masuk ke dalam rumah.
Gio yang sedang asik menonton televisi pun menengok kala mendengar suara langkah kaki.
"Loh ma ini—" Gio tidak meneruskan ucapannya dan hanya menatap sang istri menunggu jawaban.
__ADS_1
"Calon mantu." Jawab Stella dengan berbisik dan melewati suaminya itu begitu saja.
"Calon mantu?" gumamnya, "Gerak cepat juga itu anak. Baru aja tadi di suruh bawa pacar, sekarang udah nongol aja orangnya." Batinnya.
Tak...
Tak...
Tak...
Kenzo yang sedang menuruni anak tangga pun menautkan alisnya kala melihat Marisa berada di sana bersama sang ibu.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Kenzo.
Marisa pun hanya tersenyum canggung dan menggedikkan bahunya.
"Loh? Bukannya kamu yang suruh pacar kamu ke sini Ken?" suara bariton sang ayah pun sontak membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Kevin yang juga turut mendengarnya.
"Pacar?" pikir Kenzo.
"E... maaf pak, saya buka paca—"
"Ehm, iya pa. Aku yang minta dia buat dateng kesini sesuai permintaan papa." Kenzo berjalan ke arah Marisa da merangkul pinggang Marisa.
"Tapi bo—" Kenzo pun menginjak kaki Marisa dan membuat si empunya terkejut, "Aaw!"
"Kamu kenapa sayang?" tanya Stella khawatir.
"Gak apa-apa kok tante, cuma di gigit semut aja." Marisa menampilkan senyum pepsodentnya, "Semut kepala item yang doyan sambel!" sambungnya dalam hati mengumpat Kenzo sambil melirik sinis pada bosnya itu.
"Bantu aku, 10 juta sebagai bayarannya." Bisik Kenzo pada Marisa.
Tanpa pikir panjang Marisa pun menyetujuinya, "10 juta? Deal!" jawab Marisa yang ikutan berbisik.
"Kalian ngapain bisik-bisik?" sahut Kevin dengan wajah yang sudah tidak enak di pandang.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Kenzo dan Marisa di dengan kompak.
__ADS_1
Mereka semua pun duduk di ruang santai itu dengan suasana yang cenderung aneh, dan canggung untu Marisa.
"Kenapa rasanya gue kayak masuk jebakan Batman ya?" batin Marisa yang masih belum menyadari kecerobohannya.