My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 146


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen dan subscribe ya...πŸ˜‰...


...Eh eh maksudnya amunisinya πŸ€ͺ...


...********...


"Lo mau tau, apa yang bakal gue lakuin sama kalian?" Marisa menyentuh dagu bos preman itu dengan ujung pisau lipatnya, "Tenang aja, gue nggak akan bunuh lo, kok. Tapi gue bakal kasih lo hadiah spesial!" Marisa mengeluarkan sebuah botol kecil, dan menuangkannya ke botol anggur milik bos preman itu.


Marisa pun lantas menyuruh para bawahannya untuk memberi minum para preman itu, dengan anggur yang sudah dia campur cairan dari botol kecil miliknya tadi.


Setelah selesai, Marisa pun menyuruh bawahannya untuk membawa semua preman itu ke dalam pabrik dan memasukkan mereka ke sebuah ruangan, yang sepertinya dulunya berfungsi sebagai gudang.


Dan setelah itu, dia pun mengunci pintu ruangan itu dari luar, dengan balok kayu besar.


"Jaga di sini, sampai mereka selesai bermain. Setelah itu bawa mereka ke markas besar," titah Marisa dengan senyum puas.


Para bawahannya, atau lebih tepatnya bawahan Gio yang sengaja Kenzo pinjam itu pun mengangguk patuh.


"Kalian menginginkan sebuah pesta yang meriah kan? Aku sudah memberikannya, jadi nikmati waktu kalian dengan baik!" gumam Marisa sambil berlalu pergi, meninggalkan para preman yang sedang di jaga ketat oleh para bawahannya itu.


Jika saat ini Marisa sedang tersenyum puas, sedangkan para preman itu, kini tengah saling menatap dengan buas satu sama lainnya. Mereka mulai merasakan sekujur tubuh mereka terasa panas dan terbakar, membuat mereka tanpa pikir panjang langsung melepaskan semua penutup yang ada di tubuh mereka.


Dan dengan gilanya, mereka mulai bermain pedang-pedangan.🀣 Benar, karena yang mereka miliki sama-sama pedang jadi mereka hanya bisa menggunakan yang ada saja, untuk menghilangkan rasa panas membakar yang mereka rasakan akibat dari cairan yang Marisa berikan.


Cairan apa? Kalian pasti sudah punya jawabannya di kepala kalian, bukan?


That's right, ramuan cinta alias obat perang*sang. Marisa memang benar-benar sadis. Cara dia menyiksa musuhnya benar-benar sangat epic, dan halus. Dia memberikan musuhnya pesat besar yang sangat keren, dan membuat mereka semua bersenang-senang sampai lemas.


Para bawahan yang Marisa minta untuk berjaga, memang tidak melihat apa yang para preman itu lakukan. Namun hanya dengan mendengar suara desa*han mereka dari dalam sana, dan juga suara khas percintaan yang terdengar sudah cukup menjelaskan semuanya.


Mereka benar-benar di buat bergidik ngeri dengan cara Marisa menaklukkan musuhnya. Bahkan jik mereka ada di posisi para preman itu, mereka lebih memilih untuk di bunuh saja secara langsung daripada harus melewati penyiksaan gila dan memalukan semacam itu.

__ADS_1


Tanpa sadar mereka mulai mengakui kekejaman Marisa, yang sepertinya sudah setara dengan bos mereka, Gio. Hanya saja, cara mereka berbeda. Jika Gio suka menggunakan cara instan, alias cepat. Tapi Marisa sebaliknya, dia lebih suka menyiksa musuhnya secara perlahan namun menyakitkan.


Terlebih lagi, dosis yang Marisa masukkan tadi tidak main-main. Dia memasukkan banyak sekali ****** ***** itu ke dalam anggur, yang bisa di pastikan jika hal itu akan membuat para preman itu bermain sampai mereka kehabisan tenaga, dan ambruk dengan sendirinya.


Marisa menelepon Kenzo, yang kini sudah berada di kantornya.


"Aku sudah menyelesaikan bagianku, sepertinya sebentar lagi rubah betina itu akan muncul di tempatmu, sayang..." lapornya.


"Baiklah. Kau sudah membawa para preman itu ke markas besar kan?" tanya Kenzo.


"Belum, aku sedang memberi mereka hadiah kecil." Jawabnya yang membuat Kenzo menganggukkan kepala.


Dan setelah itu, Marisa pun memutuskan sambungan telepon mereka. Sebenarnya, rencana awalnya adalah Marisa akan melawan para preman itu, bersama dengan semua bawahan yang di tugaskan oleh Kenzo untuk membantunya. Tapi Marisa yang sudah lama tidak melakukan salam olahraga dan meregangkan otot-ototnya, melarang para bawahannya untuk maju dan ikut berakting. Benar, berakting. Mereka tetap akan pura-pura kalah pada akhirnya, dan menjalankan rencana di mana Marisa tertusuk.


Jika Kenzo tau Marisa turun tangan sendiri dan melakukan perkelahian solo Vs Squad seperti tadi, dia pasti tak akan mengizinkannya dan memarahi Marisa. Juga tentang pesta kejutan yang Marisa berikan pada para preman itu, itu salah satu yang berada di luar rencana mereka. Jadi Kenzo tidak tau apa yang Marisa lakukan pada para preman itu, di sana.


Dan benar saja, tak sampai satu jam berselang, Raisa muncul di kantor Kenzo.


"Apa anda sudah membuat janji, nona?"


"Beraninya kau! Apa kau tidak tau siapa aku?!" seru Raisa dengan marah. Namun resepsionis itu tetap tenang, karena dia memang tak mengenal Raisa.


"Maaf nona, tidak ada janji tidak boleh masuk."


"Kau!?"


Tiba-tiba saja Kenzo turun dari lantai atas.


"Ada apa ini?"


Resepsionis itu menunduk hormat kemudian menjelaskan tentang Raisa yang memaksa masuk, padahal dia tak punya janji temu dengan sang CEO.

__ADS_1


Resepsionis itu sedikit takut, karena dia kira Kenzo akan memarahinya. Tapi ternyata dia hanya menyuruhnya kembali bekerja, dan dia yang akan mengurus Raisa.


Kenzo menanyakan apa tujuan kedatangan Raisa menemuinya. Apa bukti-bukti kemarin sebabnya? Tapi ternyata Raisa justru mengatakan sesuatu yang membuat Kenzo tampak marah besar, dan mengepalkan erat-erat tangannya.


"Aku melihat wanita itu ada di sebuah hotel dengan seorang pria asing!" ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar foto yang sudah dia bawa, untuk dia tunjukkan pada Kenzo.


Kenzo tampak semakin marah saat melihat foto-foto itu. Rahangnya mengeras, giginya bergemelatuk dengan tangan terkepal erat.


"Tunjukkan padaku, tempatnya!"


Raisa tersenyum licik saat Kenzo mendahuluinya berjalan keluar dari kantornya. Mereka mengendarai mobil Raisa dan menuju ke salah satu hotel yang cukup ternama, di kota itu.


"Minumlah dulu, kau pasti haus karena marah?" Raisa mengulurkan sebotol air mineral pada Kenzo. Dan tanpa pikir panjang, dia meneguk minuman itu, dengan tatapan mata tajam yang seolah sanggup membunuh orang yang di tatapnya.


Raisa tampak tersenyum kecil. Benar-benar kecil, sampai Kenzo tidak menyadarinya. Amarah tampaknya sudah menguasai dirinya, dan yang ada di pikirannya hanya sampai di tempat itu, dan melihat kebenarannya.


Tak berselang lama, mobil Raisa pun berbelok dan masuk ke pelataran sebuah hotel mewah. Para pegawai yang mengenali tuan dan nona muda Keluarga kaya itu pun, menyambut keduanya dengan hormat.


Kenzo dan Raisa lantas bergegas menuju ke lantai 10, tempat di mana Raisa mengatakan disanalah Marisa berada, bersama dengan pria asing itu.


Kenzo yang merasa terbakar, dia mengendurkan dasinya. Hingga akhirnya pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju ke sebuah kamar dan masuk ke sana.


Cklak!


...********...


...Weeeee... Ada apa ini?😯😯😯...


...Ulet keket... apa lagi yang mau lo lakuin? ...


...Bener-bener belum pernah di selepet pake sendal lo ya...!? Bikin kesel banget😈😀😬...

__ADS_1


...Mari-mari! Kita rame-rame bikin sate pelakor!🀣...


__ADS_2