
Dia menolehkan kepala, saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
"M-Marisa? Lo ngapain di sini?" tanyanya dengan gugup.
"Lo lagi nyoba buat pura-pura bego?!" Marisa mendekat dan mengambil sebuah gunting yang terletak di atas meja.
"Ma-maksud lo apa sih, Mar?" Johan pun berdiri, dan tanpa sadar dia berjalan mundur satu langkah setiap Marisa maju satu langkah juga.
"Gue nggak suka sama sikap lo yang nggak gantle itu, Jojo!" seru Marisa, "Lo itu cowok! Kalo punya salah akuin, sialan!" bentaknya.
Untung saja, ruangan itu di desain kedap suara. Jadi sekeras apapun Marisa berteriak, tak akan ada yang mendengarnya.
Johan mengehela nafas panjang, "Hhhh... gue tau gue salah Mar... dan gue juga tau maksud lo dateng ke sini nyari gue," ujarnya, "Gue minta waktu sama lo. Masih ada masalah penting yang harus gue urus, sebelum gue nurutin mau lo."
"Cih! Masalah lo bilang? Emang lo pikir yang lagi di hadapin sama Maria itu bukan masalah!?" umpat Marisa dengan marah.
"Gue tu Mar... tapi sebelum masalah gue ini kelar, gue nggak akan bisa lakuin apa yang lo mau," Johan memasang tampang frustasi, "Asal lo tau aja Mar, gue itu sayang banget sama Maria. Bahkan udah dari dulu, gue juga nggak akan tega buat nyakitin orang yang gue sayang. Jadi gue mohon sama lo, kasih gue waktu," ucapnya memohon.
"Berapa lama?"
"Satu bulan," ujar Johan sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
__ADS_1
"Ok, satu bulan. Nggak lebih!" Marisa pun keluar dari ruangan Johan wajah yang sedikit kesal, "Mar, gue balik dulu ya. Gue udah ngomong sama dia, dan ya... satu bulan."
Maria yang mengerti maksud Marisa, hanya mengangguk kecil.
"Terserah lo aja," hanya itu kata yang terlontar dari mulut Maria.
"Hhhh... ya udah tapi lo gak usah cemberut juga. Bibir lo udah longsor tuh!" godanya.
Namun sayangnya, hal itu hanya membuat Maria memberikan senyum kaku dan terpaksa pada Marisa, "Haish... bener-bener pengen restart ulang memori otak lo, biar lo balik lagi kayak dulu!" batinnya.
Marisa pun segera berpamitan pada yang lainnya dan segera meninggalkan tempat itu. Namun, saat dia baru saja keluar dari gedung itu dia bertemu dengan seorang wanita yang menatapnya dengan tatapan permusuhan yang begitu kentara, bahkan saat mereka masih berada dalam jarak yang cukup jauh.
"Ngapain nih orang liatin gue kayak gitu? Emang dia kenal sama gue?" batinnya.
"Makan ikan bawal pake terasi, lo jual gue beli!" batin Marisa, "Maaf ya tante, tapi gue nggak perlu cari muka. Karena apa? Karena muka gue udah lebih dari cukup. Kalo gue masih cari muka dan tambah cantik, gue takut orang kayak tante ini nggak akan laku!" ucap Marisa dengan nada santainya, namun penuh dengan kata-kata menusuk.
"Lo!? Lo manggil gue apa barusan?!"
"Tante. Kenapa? Salah ya, tan? Oh gue tau! Harusnya gue panggil lo tante girang, ya kan? Hahaha..." Marisa tertawa lepas.
Sedangkan Adelia berasa tertusuk beribu panah tepat di jantungnya.
__ADS_1
"Sialan! Mulut nih orang tajem banget kek mulut emak-emak kos nagih uang sewa!" batinnya, "Sialan lo ya!" Adelia baru saja mengangkat tangannya, dan ingin menampar wajah Marisa.
Namun tentu saja hal itu dapat dengan mudah di hindari oleh Marisa.
"Lepasin!" seru Adelia yang kini tangannya di cekal oleh Marisa.
"Lepasin aja sendiri," jawab Marisa acuh.
"Lepasin nggak!? Gue bilang lepasin! Tenaga lo kayak kuli, ya!" bentaknya saat dia sudah terus mencoba melepaskan cekalan tangan Marisa di pergelangan tangannya, namun tetap saja tak bergeming.
"Oh Lo minta di lepasin? Nih, gue kasih!" Marisa dengan sengaja melepaskan cekalannya, saat Adelia tengah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencoba melepaskan diri.
Dan akhirnya tubuh Adelia pun limbung. Namun belum sempat tubuhnya jatuh ke tanah, sebuah tangan dengan cepat menyambar pinggangnya.
"Wow! Adegan yang sangat romantis, nona. So... this is your lucky!" batin Marisa sambil menatap Adelia dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku jaket Hoodienya.
Sedangkan Adelia bernafas lega, karena dirinya tidak jatuh dan membuat pantat seksinya mencium tanah dengan mesraaah.
"Apa ini kayak adegan di film-film? Pangeran menyelamatkan gadis cantik?" batin Adelia, yang masih memejamkan matanya, karena tadi mengira dirinya akan terjatuh.
"Maaf tante, mau sampai kapan tante nutup mata? Sampe lebaran haji? Atau lebaran kucing?" tanya Marisa yang membuat kesadaran Adelia kembali, dia pun membuka matanya.
__ADS_1
"Huft... untung gue nggak jadi jatuh, makasih ya ganโ" mata Adelia pun membola, kala melihat tangan siapa yang kini tengah memegangi pinggangnya.