My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 96


__ADS_3

Dengan susah payah Arka menelan salivanya. Kaki panjang nan putih milik Gea terpampang jelas di depan matanya. Apalagi Gea hanya memakai celana hot pants dan kaos, Gea benar-benar terlihat sangat cantik, menawan, mempesona, menggoda, dan menggairahkan di mata Arka.


"E-ekhem! Jangan seperti itu! Dasar bocah! Kau belum pertanyaanku, darimana kau mendapatkan nomorku? Apa dari Marisa?"


"Marisa? Tentu saja tidak! Bisa habis di ejek aku nanti olehnya," ucap Gea.


"Lalu? Darimana?" tanya Ark lagi.


"Kau tidak perlu tau. Bahkan sangat mudah bagiku untuk mengetahui kalau kau adalah putra kembar keluarga Leonard, kau suka berenang, kau lulusan universitas X, dan kau jomblo dari laβ€”"


"Stop! Dasar gila! Tidurlah!" setelah mengatakan itu, Arka pun langsung mematikan telepon dari Gea.


"Hiiis! Beraninya dia mematikan teleponku?! Kau belum tai siapa aku, Arka Leonard...! Lihat saja, aku akan mendapatkanmu!" ucap Gea dengan kesal.


"Apa wanita itu gila? Sebelumnya dia terlihat sangat lembut, tapi sekarang dia sama saja dengan Marisa?! Bahkan sepertinya jauh lebih berbahaya!" gumam Arka sambil melemparkan dirinya ke atas Ranjangnya.


Dia berusaha untuk memejamkan matanya, namun bayang-bayang tubuh sexy Gea justru seperti hantu yang terus menggentayangi otaknya.


"Sial! Gara-gara dia aku jadi terus membayangkan wajahnya! Aku jadi tidak bisa tidur!" Arka pun meminta layanan kamar membawakan sebotol wine mahal untuknya. Dia ingin meminumnya untuk melupakan bayang-bayang Gea.


"Memang benar, wine bisa membuatmu melupakan segalanya," gumam Arka.


Namun nyatanya, bahkan setelah sebotol wine itu habis. Bukan hanya bayang-bayang tubuh dan wajah Gea tak hilang dari otaknya, justru itu semakin menjadi.


"Sialan! Ada apa denganku?!" umpat Arka.


Sedangkan yang menjadi alasan Arka seperti orang gila, kino justru sudah terlelap dan menjelajahi alam mimpi indahnya.


Di sisi lain...

__ADS_1


Nampak sebuah meja makan besar dengan beberapa orang tengah duduk bersama, sambil menikmati makan mala mewah mereka.


Namun semua orang tiba-tiba saja di kejutkan oleh suara seorang pria yang sangat familiar di telinga mereka. Namun bukan senang yang mereka rasakan saat mendengar suara itu, tapi justru rasa muak, marah, tapi juga takut.


Ya, itu adalah Ando. Ando Jeriko Dewangga, anak dari kepala keluarga Dewangga yang bernama Ferdinand Dewangga. Dia adalah anak yang lahir di luar nikah, maka dari itu istri sah Ferdinand selalu memanggilnya dengan sebutan anak haram!


"Apa kabar, semuanya...?" sapa Ando dengan senyum devil di wajahnya.


Senyum mengerikan yang berhasil membuat semua orang di meja makan itu, bergidik.


"K-kau! Mau apa kau ke mari, anak haram! Kau sudah bukan anggota keluarga Dewangga lagi, kau tidak berhak menginjakkan kakimu di rumah ini! Pergi!" seru Melisa, istri sah Ferdinand dengan kasar.


"Kau benar. Sangat benar! Aku sudah bukan anggota keluarga busuk ini lagi, jadi aku juga tidak keberatan jika seluruh anggota keluarga ini, MATI!" ucapnya dengan menekankan kata mati.


Seketika raut wajah Melisa pun berubah pucat. Memang setelah semua orang mengetahui pekerjaan Ando, Melisa juga tidak berani lagi berbuat kasar pada Ando. Karena dia tau, Ando bisa membunuhnya kapan saja.


Dia merasa lega, kala Ferdinand mengikuti sarannya, untuk menghapus nama Ando dari keluarga Dewangga. Namun sayangnya, keputusan yang dia ambil saat itu justru menjadi belati tajam yang akan berbalik menyerangnya.


"Hahaha..." Ando tertawa lepas, namun tawanya justru membuat semua orang menjadi semakin ketakutan.


Dia mengeluarkan belatinya, mengusapnya dengan kedua jarinya, lalu menjilatnya seolah itu bukanlah benda tajam. Dan sontak saja, hal itu membuat semua orang panik bukan kepalang.


"Kau baru saja mengataiku anak kurang ajar, pak tua! Apa kau masih pantas di sebut seorang ayah? Kau memperkosa ibuku! Dan untuk melindungi nama baikmu, kau mengurungnya di rumah reot dan menyiksanya! Kau membunuhnya setelah dia melahirkanku! Dan kau sering menyiksaku! Menganggap aku hanyalah beban! Sampah! Yang bisa kau injak sesukamu. Apa itu menyenangkan?" seru Ando dengan mata memerah, luapan emosi yang sangat mengerikan, "Kalau begitu, biar kucoba kesenangan semacam itu pada kalian. Agar kalian tau, bagaimana menderitanya ibuku karena ulah kalian! Aku akan membuat kalian mati secara perlahan, hahaha...." tawanya kembali menggelegar hebat.


Seluruh anggota keluarga Dewangga, memang tap pernah menyukainya. Hanya Harvey Dewangga, yang selalu memperlakukannya dengan baik. Dia adalah mantan bosnya Marisa, sekaligus adik dari Ando.


"Kak... sudah cukup, kak. Aku sedih melihatmu seperti ini..." rengek Harvey.


"Diamlah, Harvey... aku tak akan menyakitimu, tapi tidak dengan mereka! Aku mau mereka menemani ibuku di alam sana! Kalian harus berlutut di depan ibuku!" serunya dengan suara yang sangat keras dan menggelegar.

__ADS_1


Harvey pun tak bisa lagi berkata, lebih tepatnya dia takut. Dia tak berani melawan Ando. Karena dia tau, semakin dia melawan kakaknya maka semakin kejam pula, cara dia akan memperlakukan keluarga Dewangga nantinya.


Ferdinand, Melisa, dan Rian pun berjalan mundur secara perlahan. Berusaha untuk kaur dari tangan makhluk buas ini.


"Pergilah, Harvey!" titahnya.


"Tapi kakβ€”"


"Pergi!" bentaknya. Harvey pun segera keluar dari rumah itu, namun dia tak berniat melaporkan hal ini pada polisi. Karena dia sangat menyayangi kakaknya itu.


"Apa kalian pikir, kalian bisa kabur dariku?" ucap Ando sembari berjalan maju dan mendekati ketiga orang itu.


"J-jangan mendekat! Keluarga Dewangga sudah menghidupimu selama ini, tapi ini balasanmu!?" seru Rian.


"HAHAHA... menghidupiku? Asal kalian tau saja, jika aku bisa memilih maka aku lebih memilih untuk di bunuh dari pada hidup dalak penyiksaan dan penghinaan sepanjang hidupku!" ucapnya yang langsung membuat ketiga orang itu terpaku, tubuh mereka bergetar hebat. Ketakutan terpancar dari netra mata mereka bertiga.


Seolah Ando adalah malaikat pencabut nyawa yang akan menjemput mereka. Bahkan Melisa sudah terduduk di lantai dengan tubuh gemetaran.


"Ku mohon, Ando. Bagaimana pun aku masih ayahmu, tidak bisakah kau melepaskan kami? A-aku janji, aku akan memberikan separuh harta keluarga Dewangga untukmu," ucap Ferdinand yang berusaha bernegosiasi.


"Ck! Ck! Ck! Setengah?" tanyanya.


"T-tiga perempat! B-bagaimana?" tawar Ferdinand lagi.


Rian dan Melisa sudah tak mempunyai keberanian untuk bicara lagi, mereka bahkan tak bisa menentang jika seluruh harta keluarga Dewangga di berikan pada Ando.


"Hahaha..." Ando tertawa dengan mengerikan. Senyum joker di wajahnya, semakin menambah merinding orang yang melihatnya, "Bukankah degan membunuh kalian semua, harta keluarga Dewangga juga akan menjadi milikku...?!" ucapnya dengan mata menatap tajam ketiga orang itu.


...*****...

__ADS_1


Terimakasih yang udah terus dukung novel iniπŸ₯° Berkat kalian, novel ini udah naik level. Makasih semuanya... mohon dukungannya terus ya, sampai novel ini tamat.πŸ˜πŸ˜‰πŸ˜˜


__ADS_2