
...Apapun yang terjadi...
...Tetaplah jalani hidupmu...
...Karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak mampu untuk umatnya terima....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Kevin!" seru Kenzo tiba-tiba.
"Bocah bau kencur itu? Memangnya apa yang bisa dia lakukan, apa kau akan menyuruhnya menggunakan tampang baby facenya itu untuk membuat papamu luluh?" tanya Arka dengan nada menyindir dan meremehkan.
"Tentu saja aku tidak sebodoh itu Arka. Tapi dari yang kulihat, adik kesayanganku itu sepertinya menyukai Marisa. Jadi..."
"Ok, aku mengerti apa yang kai maksud. Tapi yang aku tidak yakin adalah—" Kevin berhenti bicara dan berjalan mendekati Kenzo kemudian berhenti tepat di depannya, "Ini." Kevin menunjuk ke arah dada Kenzo dengan telunjuknya.
"Maksudmu?"
"Aku tidak yakin kalau hatimu benar-benar menginginkan hal itu, Kenzo. Aku bukan sehari dua hari mengenalmu, dan aku tau pasti gadis itu menempati tempat spesial di hat—"
"No! Big No!" sela Kenzo dengan tegas.
"Haih... kau sendiri yang paling tau, apa yang di inginkan hati kecilmu. Aku mengingatkanmu sebagai teman sekaligus keluargamu, aku tidak mau melihatmu menyesali keputusan yang kau ambil nantinya." Arka pun membalikkan badannya dan keluar dari ruangan Kenzo.
"Hati kecilku? Apa yang hari kecilku inginkan, aku sendiri bahkan tidak tau apa yang aku inginkan."
"Hehe... ternyata aku bisa juga berakting jadi Mario Teguh, setidaknya aku bisa sedikit terlihat bijak haha..." Batin Arka sambil berjalan kembali ke ruangannya, "Jangan salahkan aku karena membuatmu bingung, Kenzo. Karena gadis itu jelas-jelas sudah menempati ruang kosong di hatimu, hanya saja kau yang tidak mau mengakuinya."
"Apa aku benar-benar menganggap gadis aneh bin ajaib itu spesial?" Kenzo nampak bimbang setelah mendengar kata-kata bijak ala Arka Leonard itu.
Waktu berlalu, kini Marisa sudah sampai di depan rumahnya bersama Gea yang akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Alohaa... Marisa cantik is back..."
Bugh!
"Hehe... tidak kena, bweek...!" ejek Marisa kala lemparan bantal sofa Maria dengan sigap dia tangkap, dan gagal menyapa wajah cantiknya.
"Ini rumah, Marjan! Bukan hutan, bisa nggak sih lo nggak teriak-teriak? Nggak sadar apa suara lo itu udah kayak kaleng rombeng?!"
"I don't care." Marisa pun berjalan menghampiri Maria yang sedang asyik menonton Tv.
"Loh, Gea?" Maria yang baru menyadari Gea yang dari tadi berada di belakang Marisa pun menyapanya.
"Halo Maria... ehm... rencananya gue mau numpang di rumah kalian beberapa hari, boleh kan?" tanya Gea dengan puppy eyesnya.
"Sure! Jangankan beberapa hari, kalo lo mau lo juga boleh tinggal di sini selamanya."
"Thanks Maria..." Gea pun memeluk Maria dengan erat.
"Uhuk! Uhuk! Se-sek Gea..." Ucap Maria terbata sambil menepuk-nepuk pelan punggung Gea, hingga Gea pun melepaskan pelukannya. "Hehe, maaf Mar gue kesenengan tadi." Gea meminta maaf sambil menunjukkan deretan giginya plus dua jarinya sebagai tanda damai.
"Hehe..."
"Kalian udah makan belum?"
Marisa dan Gea pun menjawab dengan gelengan dan cengiran mereka.
"Lo beliin kita makanan?" tanya Marisa.
"Iya, tadi gue beli sate di tempat biasa."
"Yes! Sate kesukaan gue...!" seru Marisa.
"Ya udah sana kalian makan dulu."
__ADS_1
"Oke, kita maka dulu ya..." Marisa pun menarik tangan Gea menuju dapur.
"Tapi gue cuma beli satu porsi ya...! Kalian tambahin nasi aja!" teriak Maria.
"Ok!" seru Marisa balik dari arah dapur.
"Ini sate apaan Mar."
"Sate kelinci."
"What?!" seru Gea kaget.
"Kenapa kaget gitu? Kayak orang nggak pernah makan sate aja lo, biasanya juga lo mau makan sate."
"Iya kalo sate ayam atau sate sapi gue suka Marjan...! Tapi kalo sate kelinci—"
"Kenapa? Jijik?"
Pletak!
"Bukan jijik ogeb! Tapi kan kasian... kelinci imut gitu malah di sate." Ucap Gea dengan wajah sendu menatap sate di atas meja itu.
"Ya ampun Gea... lo itu lebaynya kelewatan banget sih... cuma kelinci doang juga, cobain dulu ntar lo juga suka."
"Nggak mau Marisa...!"
"Cobain dulu...!" Marisa menyodorkan setusuk sate pada Gea, namun Gea justru menolak dengan memalingkan wajahnya.
"Enggak mau! Gue nggak mau, kasian sama kelincinya...!"
"Astogeee... ini kelinci juga udah almarhum, ngapain pake lo tangisin? Emang dia bisa hidup lagi terus loncat gitu kalo lo tangisin?"
"Bodo amat pokoknya gue enggak mau makan itu sa—" Gea pun tidak sempat meneruskan ucapannya, karena Marisa langsung memasukkan sate itu ke mulut Gea.
__ADS_1
"Enak kan?" tanya Marisa dengan alisnya yang dia naik turunkan.
"Uwaah...!"