My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 95


__ADS_3

"Siapa orang itu? Suaranya benar-benar mengingatkanku padanya!" batin Dimas dengan tangan terkepal erat, sambil memandangi ke arah perginya mobil Johan.


"Huft... untung aja gue cepet-cepet pergi," gumam Johan sambil menyeka keringatnya.


Akhirnya, pekerjaan Maria pun selesai. Dia segera memesan taksi online dan menuju ke rumah Johan, atau lebih tepatnya rumah kontrakan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan juga lumayan ramai karena memang sudah jam pulang kantor bagi para pekerja.


"Marjan...! Angkat dong! Kenapa nggak di angkat coba?! Bener-bener minta gue jadiin sirop es buah lo ya...!" geram Maria sambil terus mencoba menghubungi twin durjananya itu.


Sedangkan Marisa, kini tengah tertidur di pelukan Kenzo. Pria yang sudah berubah status menjadi suaminya itu. Mereka baru saja jalan-jalan ke berbagai tempat yang menjadi wisata favorit di sana.


"Dasar Tukang tidur! Bagaimana bisa ada bodyguard dengan tingkat kewaspadaan rendah sepertimu ini?" gumam Kenzo sambil mengelus kepala Marisa yang bersandar di bahunya.


"Tingkat kewaspadaanku sangat tinggi. Jangan meremehkan sertifikat Bodyguard profesionalku, itu real bukan hasil sogok menyogok!" sahut Marisa yang masih dengan mata tertutup.


"Hah? Kau tidak tidur?"


"Tentu saja aku tidur, tapi aku tetap mendengar apa yang kau ucapakan," jawab Marisa yang membuat Kenzo melongo.


"Terserah kau saja, asal kau bahagia," ucap Kenzo yang membuat senyum kecil terukir di wajah Marisa, "Tapi jangan lupa, malam ini kau punya tugas spesial!" bisik Kenzo di sebelah telinga Marisa.


Blar!


Seolah ada malaikat maut yang sudah siap mencabut nyawanya, Marisa pun terbangun dengan kaget. Dia menatap Kenzo dengan tanda tanya besar di kapalanya.


"Kau bilang apa tadi? Tugas khusus? Apa menjadi tameng hidup lagi?" tanya Marisa dengan wajah jengah.


"Jangan bilang kau tidak tau, tugas khusu seorang istri?" bisik Kenzo lagi, yang auto membuat bulu kuduk Marisa berdiri.


"Tu-tugas khusus seorang istri?" gumamnya, "Sial! Apa maksudnya... itu?" batin Marisa yang sudah tau apa maksud Kenzo.


"Hey, wajahmu merah! Pasti saat ini banyak sekali pikiran mesuk di kepalamu bukan?" goda Kenzo.


"S-siapa bilang? Dasar sok tau!" sungut Marisa yang berusaha menutupi kecanggungannya.


"Mulutmu memang menyangkal, tapi wajah dan telingamu sangat jujur. Bahkan itu sudah semerah tomat matang!" godanya lagi, yang semakin membuat Marisa salah tingkah di buatnya.

__ADS_1


"Diamlah! Kau menyebalkan!" umpat Marisa dengan bibir manyunnya.


"Wow! Sekarang kau sudah berani memerintahku? Sepertinya aku harus menghukummu malam ini, agar kau tau untuk tidak marah pada pria tampan sepertiku," ucap Kenzo yang membuat Marisa kesulitan menelan salivanya.


Glek!


"Sial! Kayaknya gue udah salah mancing singa tidur nih?" batin Marisa menyesali ucapannya tadi.


"Sekarang baru tau takut? Sudah terlambat!" bisik Kenzo di telinga Marisa.


Hembusan nafasnya membuat Marisa merinding disko di buatnya.


Suasana pun menjadi sunyi. Marisa hanya terus menatap ke arah luar mobil, untuk membuatnya tidak fokus pada wajah Kenzo


Kenzi pun juga tengah mengetikkan sebuah pesan singkat yang dia kirim ke Arka.


"Arka siapkan baji tidur untuk Marisa, aku tidak mau melihat baju tidur tweety itu. Sangat kekanak-kanakan. Tapi jangan di buang, simpan saja," titahnya pada Arka.


"Siap! Ada lagi?"


"Satu hal lagi. Pindahlah!"


"Pesanlah kamar di hotel manapun yang kau mau, itu terserah padamu. Aku yang akan membayarnya," balas Kenzo.


"Benarkah? Tumben kau baik padaku? Apa jangan-jangan kau mau memakan Marisa malam ini? Makanya kau menyuruhku pindah, agar mata dan telingaku yang masih suci ini tidak ternodai?" pesan berisi pertanyaan bodoh pun Arka kirimkan pada Kenzo.


"Diam! Segeralah pindah! Jika aku sampai dan kau masih di sana, bersiaplah berkunjung ke sarang anaconda!" setelah mengetikkan pesan itu, dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Dan ternyata, Marisa sudah kembali tertidur, dengan bersandar di kaca mobil.


Kenzo dengan hati-hati membawa kepala Marisa untuk kembali bersandar di bahunya.


Dengan penuh kasih sayang, Kenzo mengusap pucuk kepala Marisa. Sisi lain Kenzo benar-benar keluar karena seorang wanita. Wanita yang unik, aneh bin ajaib tapi nyata, bernama Marisa ini.


"Dasar Kenzo...! Kau ingin baju tidur kan? Baiklah, akan aku berikan baji tidur terbaik dan termahal untuk wanita pujaanmu!" gumam Arka dengan senyum jahil di wajahnya.


Dia tidak tau jika, Marisa dan Kenzo sudah menikah. Karena Kenzo memang sengaja tak memberitahu Arka. Kalian tau alasannya, bukan? Arkarazi! Bagaimana bisa seorang penggosip menjaga mulutnya untuk tetap tertutup rapat? Mustahil! Itulah yang Kenzo pikirkan.

__ADS_1


Arka pun segera memesan baju yang Kenzo inginkan. Dan setelah baju tertata rapi di dalam lemari, dia pun segera mencari hotel termahal di sekitar sana. Dia memilih hotel bintang lima, dan memesan kamar VVIP.


"Kau membuatku lelah dan pusing seharian. Sedangkan kau malah jalan-jalan bersama wanita cantik. Jadi aku harus menghabiskan uangmu, sebagai kompensasi kan?" pikir Arka sambil berjalan ke kamar yang dia pesan.


Baru saja Arka sampai di kamarnya, dan bahkan belum sempat berganti baju, ponselnya sudah berbunyi.


Dia mengira itu adalah Kenzo, jadi dia langsung mengangkat video call itu tanpa melihat siapa peneleponnya. Dan tidak perduli dengan dirinya yang masih bertelanjang dada, karena baru saja mau mengganti baju.


"Ada apa lagi, Ken?" tanya Arka.


"Uwaaah... roti sobek...!" suara yang terdengar sangat nyaring. Sama sekali tidak seperti suara Kenzo.


Arka pun langsung melihat ke arah layar ponselnya, dan terkejut dengan wajah yang terlihat di sana.


"Gea!?" seru Arka saat melihat wajah Gea yang terpampang di layar ponselnya.


Namun bukannya menyahuti Arka, Gea justru terus memandangi perut rata milik Arka dengan mulut menganga.


"Dasar gadis mesum...! Tutup mulutmu itu, air liurmu sudah hampir menetes," ucap Arka sambil segera memakai baju santai miliknya.


"E-eh iya, hehe... Maaf, aku terlalu terpana tadi," ucapnya dengan jujur.


"Dasar bocah...!" gumam Arka yang tidak terlalu menanggapinya.


"Aku bukan bocah!" seru Gea dengan kesal.


"Baiklah, bocil. Ada apa kau meneleponku? Dan darimana kau dapat nomorku?" tanya Arka dengan wajah cueknya.


"Nomormu? Mudah saja, itu hal kecil bagiku. Aku meleponmu karena aku merindukanmu."


Uhuk!


Arka tersedak salivanya sendiri, mendengar pengakuan yang teramat jujur dari Gea itu.


"Anak kecil jangan bicara sembarangan!" ujar Arka.


"Sudah ku bilang aku bukan anak kecil! Lihat ini! Bagian manaku yang terlihat seperti anak kecil?!" kesal Gea.

__ADS_1


Gea segera meletakkan ponselnya, dan membuat seluruh tubuhnya yang proporsional dari rambut sampai kaki itu terlihat oleh nata Arka.


Glek!


__ADS_2