
"Senang berbisnis dengan anda, tuan Kenzo."
"Saya juga senang bisa berbisnis dengan anda, tuan Park."
Mereka pun bersalaman, sebagai tanda di mulainya kerja sama bisnis mereka.
"Kalau begitu saya pamit dulu, tuan Kenzo. Saya ada janji temu lain,"
"Baik, tuan Park. Hati-hati di jalan."
Setalah tuan Park pergi, Kenzo dan Arka juga bergegas kembali.
"Arka? Ap kau sudah mendapatkan tiketnya?"
"Tentu saja sudah, tapi kenapa kau buru-buru pulang? Bukannya jadwal kita itu harusnya besok lusa?"
"Ada masalah yang harus segera ki selesaikan."
"Masalah apa? Apa ada masalah di perusahaan? Apa Azka tidak becus mengurus perusahaan?"
"Bukan masalah perusahaan, tapi ada masalah pribadi."
"Ma—"
"Jangan banyak bertanya, atau akan ku buat kau tidak bisa bersuara selamanya," ucap Kenzo.
Arka pun langsung diam, dengan gerakan tangan yang seolah mengunci mulutnya rapat-rapat dan membuang kunci itu.
"Good boy!" puji Kenzo dengan senyum kemenangan.
"Misterius sekali dia sekarang? Dulu dia tak pernah menyembunyikan sesuatu dariku, kenapa sejak kenal dengan Marisa dia sepertinya berubah," batin Arka.
Sedangkan Marisa yang baru saja selesai mengemasi barang-barang mereka, kini tengah berkutat dengan ponselnya.
"Halo Ge, ada apa?"
"Lo kapan balik?"
"Ngapain lo nanya-nanya, tumben banget. Lagian lo tau dari mana kalau gue lagi di luar negeri?"
"Lo lupa siapa gue? Apasih yang gak bisa gue cari tau?" pamernya dengan nada sedikit meninggikan dirinya sendiri.
"Ya... ya... ya... whatever!"
"Jadi, kapan lo balik."
"Malam ini."
"Ok, sip. Makasih infonya, Marjan yang cantik... emmuach!"
"Dih! Bleh! Bleh! Bleh!" canda Marisa seolah jijik dengan ciuman dari Gea.
"Jahat banget sih lo, Mar...!" Gea memonyongkan bibirnya, karena candaan Marisa.
__ADS_1
"Tapi gue curiga deh sama lo, Ge. Lo tiba-tiba nanyain kapan gue pulang, jangan-jangan..."
"Duh! Apa si Marjan udah mulai curiga ya kalo gue lagi deketin si Arka?" batin Gea cemas.
"Jangan-jangan lo mau minta gue beliin oleh-oleh ya?" sambung Marisa, yang membuat Gea melongo kaget, namun sekaligus lega.
"Hello... Marjan yang cantin tapi masih cantikan gue... lo lupa kalau gue itu bisa beli apa aja yang gue mau? Ngapain juga coba, gue minta di beliin oleh-oleh sama lo."
"Ya udah sana beli," jawab Marisa dengan nada mengejek.
"Ya... ya... tapi kan keadaan gue sekarang—"
"Iya, gue tau. Makanya nggak usah banyak gaya, Gea ogeb...! Emang lo mau balik lagi ke rumah lo, terus di jodohin?"
"Ya enggak lah! Kalo gue di jodohin, gimana nasib gebetan gue!?" Gea yang menyadari mulutnya bocor pun, segera menutup mulutnya dengan tangan.
"Nah kan... ketauan kan lo...! Lo naksir sama Arka ya? Jujur lo sama gue!"
"Enggak naksir, cuma suka aja hehe..." ucap Gea sambil nyengir kuda. Karena percuma saja, berbohong pada Marisa karena dia sangat sulit untuk di bohongi.
"Ya ampun Ge...! Mau comblangin nggak?" tawar Marisa.
"Seriusan...!?"
"Tapi boong! Hahaha..."
"Dih! Awas aja lo ya, gue pites lo nanti kalo udah balik."
"Lo tenang aja, gue bakal bantuin lo buat deketin si Arka itu."
"Anjir, harusnya lo bilang gue itu bestie terbaik yang pernah ada!"
Gea hanya menanggapi ucapan Marisa dengan tawa.
Cklek!
Marisa yang mendengar pintu terbuka pun, segera menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Eh? Kalian udah balik?" sapa Marisa, "Oh iya, Arka. Nih ada telfon buat lo," Marisa mengulurkan ponselnya pada Arka.
"Dari siapa?"
"Dari fans fanatik lo."
"Fans?" gumam Kenzo dan Arka serentak.
"Nih."
Arka pun mengambil ponsel Marisa dan bertanya pada si penelepon, "Siapa nih?" tanya Arka.
"Ini aku, Gea."
"Gea?" gumam Arka, "Nih, aku kembaliin ponselmu. Aku tidak kenal dengannya."
__ADS_1
"Sayang... lihat itu! Dia memperlakukan temanku, dengan tidak baik," Marisa menggunakan juris manjalitanya pada Kenzo.
Arka hanya menatap Kenzo dan Marisa dengan mata membulat sempurna dan bibir menganga lebar, "Apa ini masih Marisa yang sama dengan yang sudah membuatku mabuk darat untuk pertama kalinya?" tanya Arka.
"Arka...! Bersiaplah pindah ke hutan Amazon atau ke pedalaman Afrika," ujar Kenzo dengan senyum mengancam.
"Haish... baiklah! Baiklah!" Arka kembali berbicara dengan Gea di telepon, "Ada apa Gea yang cantik, baik, dan tidak sombong...?" tanya Arka dengan senyum terpaksanya.
"Aku rindu," jawab Gea membercandai Arka.
"Jangan rindu, berat. Biar aku saja!" ujar Arka sambil memandang Kenzo dan Marisa dengan senyum kaku, seolah mengatakan pada sejoli itu, "Bagaimana? Puas?!"
"Good boy!" ujar Marisa dengan gerakan bibir, dan jempol untuk Arka.
"Dasar sejoli, stresssss!" batin Arka.
"Sayang... aku sudah memasak, apa kau mau makan sekarang?"
"Aku mau mandi dulu saja," Marisa membawakan jas dan tas milik Kenzo, yang memang tugas seorang istri.
"Kenapa kalian ini sudah seperti suami istri saja?" celetuk Arka.
"Kita kan memang—"
"Memang pasangan yang harmonis, iya kan sayang..." kode Kenzo pada Marisa.
"Eh? Iya. Tentu saja."
"Dih! Kalian ini lebay! Jika kalian sudah menikah, maka aku tidak akan heran. Tapi beberapa hari yang lalu, kalian bahkan masih terus bertengkar tapi sekarang?" Arka menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau katakan, Arka?" tanya Gea yang mendengar sedikit ucapan Arka.
"Tidak ada. Hanya ada orang lebay, yang bahkan lebih lebay darimu," ucap Arka.
"Hah?"
"Sudahlah, aku mau mandi. Aku matikan teleponnya, bye!" Arka mengembalikan teleponnya pada Marisa dan masuk ke kamarnya.
"Apa kau tidak memberitahu Arka, kalau kita sudah menikah?" tanya Marisa, setelah memastikan Arka sudah masuk ke kamarnya.
"Kau tau sendiri kan, bagaimana si Arkarazi itu? Jika aku memberitahunya, maka bisa di pastikan kalau semua orang akan tau. Dan aku akan kehilangan kejutan yang ku persiapkan untuk kepulangan kita nanti."
"Ooh..." jawab Marisa sambil manggut-manggut.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu."
"Iya."
"Sial! Sepertinya Marisa mencoba membantu Gea mendekatiku, bukan? Aarrghh...! Dasar duo somplak! Imanku ini tipis, setipis kertas tisu! Tapi Gea itu—" Arka mengusap kasar wajahnya, " Dia terlalu menggoda, dan... mengerikan!"
Arka merasa frustasi, dengan kelakuan Gea semalam. Tapi hari ini, Marisa malah sepertinya sengaja mencomblangkannya dengan Gea. Apa itu tidak gila?!
"Pertama kali, ku kira dia itu lembut dan kalem. Tapi ternyata dia sama saja dengan Marisa. lembut di luar, tapi meledak di dalam!" Arka kembali teringat adegan semalam.
__ADS_1
Seolah, adegan kaki panjang yang putih milik Gea terpampang semalam itu, di putar ulang dengan slow motion di dalam otaknya.
"Oh, ****! Bocil itu membuatku gila!" rutuk Arka.