My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 117


__ADS_3

Bip!


"Sandi di terima."


Seorang pria berjas pun datang menyambut mereka.


"Silahkan, tuan Kenzo."


Mereka pun berjalan mengikuti pria itu dan ternyata mereka di bawa ke garasi mobil.


"Sayang? Red Devil? Apa itu kode aksesmu?" tanya Marisa yang langsung teringat pada nickname suami in gamenya.


"Apa kau familiar dengan nama itu?" pancing Kenzo.


"Ya, sangat familiar."


"Benarkah? Memangnya menurutmu itu nama apa?"


"IGN (In Game Name)?" tanya Marisa.


"That's right! Ternyata istriku sangat pintar," ucap Kenzo sambil mengelus kepala Marisa.


"Jadi kau—"


"Suami dua duniamu," sahut Kenzo sambil tersenyum.


"Wah... daebak! Kau sudah tau tapi tidak memberitahuku!? Percuma saja aku mengkhawatirkan Red Devil, yang ternyata selalu ada di sampingku." ujar Marisa dengan bibir manyun, "Sekarang aku ingat, kenapa dulu kau tidak jadi memintaku mengajarimu cara memainkan game itu. Ternyata ini alasannya...?"


"Ehm," jawab Kenzo dengan gumaman.


"Dasar!"


"Sudahlah ayo masuk." Mereka pun masuk ke dalam garasi itu, setelah pintu garasi terbuka. Dan ternyata meskipun garasi itu nampak kecil dari luar, ternyata itu memanjang ke belakang.


Dan di sana terdapat banyak sekali orang yang berbaris rapi, seolah sedang menyambut Kenzo.


"Selamat datang, tuan Red Devil." Sambut mereka serempak sambil membungkukkan badan.

__ADS_1


"Mereka menyapamu? Firasat buruk!" gumam Marisa.


"Entahlah."


Mereka pun sampai di depan pintu gerbang kedua, dan Kenzo kembali mengucapkan kode aksesnya.


Krak...


Pintu pun terbuka dan hanya ada beberapa orang di dalam sana, termasuk paman Cleric dan satu orang lagi yang Marisa kenal. Siapa? Tentu saja Gio, ayah Kenzo.


"Ada angin apa yang membuat anak dan menantuku sampai sudi datang ke tempat ini?" tanya Gio.


"Menantu?" gumam Arka, "Memangnya mereka sudah menikah?!" batinnya.


Namun saat Arka baru saja akan mengajukan pertanyaan, Marisa pun menyelanya.


"Ya, kami sudah menikah. Tidak menerima wawancara eksklusif, tuan Arkarazi."


"Eh? Menikah? Menikah? Me ni kah!?" jerit Arka dalam hati, "Kenapa aku sampai tidak mengetahui hal sepenting itu!?"


"Ayah, aku mohon. Kali ini saja, bantu aku bicara pada nenek," pintanya.


"Kau tau kan Kenzo? Aku tak pernah melawan nenekmu," jawabnya.


"Tapi apa ayah tau? Nenek hampir membuat Marisa menghilang, seperti dia."


Deg!


"Apa maksudmu?"


"Tadi nenek mengirim beberapa orang bodyguardnya untuk menangkap Marisa, tapi untungnya Marisa bisa mengalahkan mereka. Ayah tau jelas bagaimana sifat nenek kan? Dia tidak akan menyerah sebelum keinginannya terpenuhi!"


Gio mengepalkan erat-erat tangannya.


"Baiklah. Ayah tidak ingin kau mengalami apa yang pernah ayah alami, itu adalah penyesalan terbesar ayah seumur hidup!" jawab Gio pada akhirnya.


"Dia siapa?" tanya Marisa lirih.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa," jawab Kenzo dengan berbisik juga.


Marisa pun mengerti maksud Kenzo dan memilih diam.


"Paman Cleric, apa masalah yang aku minta padamu untuk di urus sudah selesai?" tanya Kenzo.


"Apa kau pikir menangkap pembunuh kelas kakap sepertinya itu, mudah? Dia itu lebih licin dari belut, asal kau tau. Tapi menurut penyelidikanku, dia akan segera sampai ke negara ini."


"Jadi Kenzo meminta bantuan paman Cleric untuk mengurus Ando? Itu artinya, paman Cleric adalah orang yang lebih mengerikan dari Ando?" batin Marisa.


"Baiklah, paman. Tapi aku mohon segera selesaikan masalah itu, aku tidak mau dia terus mengganggu Marisa. Dia sangat berbahaya."


"Jangan khawatir, aku selalu bergerak cepat," ujarnya.


Marisa menyenggol lengan Kenzo dan bertanya dengan berbisik, "Jadi ini markas Black Azzure? Lalau apa aku bisa bertemu dengan Sam—"


"Aku di sini. Apa kau merindukanku, nenek tua?" seru seseorang dari arah belakang mereka.


Marisa pun menolehkan kepalanya, dan mendapati sosok pemuda dengan baby face yang begitu menggemaskan, "Samudra?" Marisa baru saja merentangkan tangannya dan menghampiri Samudra, untuk memeluk bocah itu. Namun Kenzo dengan sigap menahan kerah baju Marisa, dan menahannya.


"Beraninya kau mencoba memeluk pria lain di depanku?" tanya Kenzo dengan senyum kaku di wajahnya.


"Dia itu masih orok! Lihat dia? Dia hanya bocil SMA." Tunjuk Marisa pada Samudra yang memang memakai seragam SMA.


"Ya dia memang bocil. Tapi bocil meresahkan!" ujar Kenzo.


"Tunggu, Sam... kau masuk sekolah lagi? Laku bagaimana jika orang-orang itu mengejarmu lagi?!" tanya Marisa.


"Tidak akan. Tidak ada organisasi yang mau berurusan dengan Black Azzure, keponakanku..." sahut paman Cleric.


"Itu benar. Jadi kau tidak perlu khawatir," ujar Samudra sambil melangkah ke arah tempat duduknya.


"Siapa juga yang mengkhawatirkan bocil meresahkan sepertimu?" Kilah Marisa.


"Aku mau bekerja. Jangan berisik nenek tua," ucapnya.


"Kau...!"

__ADS_1


__ADS_2