My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 15


__ADS_3

..."Benci dan cinta beda tipis, jadi jangan membenci seseorang dengan berlebihan. Atau saat kebencian itu berubah menjadi cinta, kamu akan menyesal saat mengingat pernah membencinya."...


...By: Rosemarry...


...******...


"4L!?" seru Marisa sambil menunjuk ke arah Kenzo yang berdiri di sebelah Arka.


"4L apa itu?" gumam Arka pelan sambil menautkan alisnya karena bingung.


"Lo lagi lo lagi! Ngapain lo di sini, hah?" tanya Marisa pada Kenzo yang masih melongo menatapnya dengan mulut terbuka


Kenzo terkejut saat melihat sosok Marisa, dengan balutan dress dan polesan make up yang membuatnya tampak sangat cantik.


"Pftt!!" Arka hanya bisa menahan tawanya saat melihat Marisa yang memelototi bosnya itu.


"Woy anak kuyang! Lo budeg apa gimana sih? Tutup tuh mulut, iler lo udah mau netes tuh ntar ada lalat silaturahmi baru tau rasa lo!"


Mendengar ucapan Marisa itu pun, membuat Kenzo auto mengatupkan mulutnya, dan melotot pada Arka yang masih berusaha menahan tawanya.


"Arka, kayaknya cabang perusahaan kita yang ada di afrika sedang kekurangan orang, ku rasa..." ucapan Kenzo yang tak sempat selesai karena Arka keburu memotongnya.


"Tidak, terimakasih untuk tawarannya bos. Tapi aku masih ingin bekerja di sini." Arka pun memakerkan senyum pepsodentnya.


"Kalau begitu sebaiknya kau diam atau aku benar-benar akan mengirimmu ke sana sekarang juga!" sambung Kenzo sambil memberikan senyum yang justru membuat Arka bergidik dan auto diam seribu bahasa.


"Permisi! Apa lo berdua udah selesai debat pilkadanya? Sekarang bisa kalian jelasin kenapa kalian ada di sini?" tanya Marisa saat kedua pria di hadapannya itu sudah berhenti bicara.


"Aku sedang mencari bodyguard baruku, yang aku minta untuk menunggu di sini." Kenzo pun kembali memasang wajah datarnya.


"What!!" seru Marisa yang auto membuat Kenzo dan Arka menutup kedua telinga mereka, dan tatapan semua orang di sana tertuju pada Marisa.


"Apa kau tidak bisa berbicara dengan nada yang normal? Suaramu itu sudah mengalahkan toa masjid!" Kenzo menatap sinis pada Marisa.


"Ups, sorry! Jadi kau... bos baruku?" Marisa pun bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Ooh! jadi kau itu bodyguard baru yang mereka katakan? Arka, sepertinya kau harus membuat perekrutan ulang untuk posisi bodyguardku." Kenzo menatap pada Marisa dengan senyum devil, lalu beralih pada Arka.


"No! No! No! Gue nggak boleh kehilangan pekerjaan ini, ntar yang ada Maria ngomelin gue lagi! Si Gea juga pasti bakalan ngetawain gue!" batin Marisa.


"Ehm... maaf bos, kurasa ada sedikit kesalah pahaman di antara kita. Saya minya maaf jika ada kesalahan saya yang membuat anda marah." Marisa pun berusaha agar Kenzo tak memecatnya.


Tidak lucu bukan? Jika dia di pecat, padahal baru beberapa jam lalu di terima dan bahkan dia belum sempat memulai pekerjaannya.


"Ken gue rasa sebaiknya lo pertimbangin dulu keputusan lo, kita udah harus berangkat sekarang. Sudah sangat terlambat untuk mencari pasangan lain yang bisa di andalkan." Arka berbisik pada Kenzo.


Kenzo pun menghela nafasnya dengan kasar, lagi pula benar apa yang Arka katakan. Sudah terlambat untuk mencari perisai hidup yang lain, saat ini.


"Ok, kali ini lo saya akan memaafkanmu. Tapi kau harus ingat! Tidak akan pernah ada lagi lain kali, kalau sekali lagi kau bertindak kurang ajar padaku maka siap-siap saja untuk mencari bos yang baru!"


Kenzo pun mulai melangkahkan kakinya, namun baru 3 langkah dia kembali menghentikan langkahnya an menoleh pada Marisa.


"Dan satu hal lagi, jangan mengacau di acara nanti!"


Kenzo pun kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Marisa dan Arka yang masih berdiri di sana.


"Huftt! Untung aja gue nggak di pecat, kalo enggak bisa jadi trending topik gue. Ya kali gue di pecat bahkan sebelum gue mulai kerja?" gumam Marisa dalam hatinya yang tengah merasa lega.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, dengan Marisa dan Kenzo yang duduk di bangku belakang, dan Arka duduk di sebelah sang sopir.


"Jalan pak, cari jalan pintas sepertinya kita sudah hampir terlambat," pinta Arka pada sang sopir.


"Baik tuan." mobil itu pun melaju membelah keramaian jalan raya.


Berbeda dengan keadaan jalan raya yang relatif ramai dan berisik, di dalam mobil justru suasana hening lah yang menguasai.


Arka hanya sesekali melirik ke bangku belakang dari kaca spion, dan dua orang yang berada di sana masih setia saling membuang muka.


Seolah apa yang mereka lihat dari jendela itu sangat menarik, sehingga mereka tak mau mengalihkan pandangan mereka.


Batin Marisa, "Situasi macam apa ini? Rasanya gue tegang banget kayak lagi ujian anjir, deket sama si Muktar beneran bikin hawanya jadi dingin gini. Oh my God!"

__ADS_1


Marisa masih setia menatap ke arah luar melalui kaca jendela, dan hanya sesekali melirik Kenzo dari ujung matanya, dan pria itu benar-benar tampak tanpa ekspresi.


"Mereka berdua itu kenapa sih? Tadi udah kayak Tom & Jerry, sekarang malah diem semua kayak gini, benar-benar aneh!" batinnya.


"Tapi kalau di pikir-pikir Marisa ini kayaknya nggak asing, gue kaya pernah lihat dia tapi di mana ya?" pikir Arka.


Arka mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Marisa sebelumnya.


"Ekhm! Nona Marisa, maaf sebelumnya apa kita pernah bertemu? Ku rasa aku sedikit tidak asing denganmu, hanya saja aku lupa dimana aku pernah bertemu denganmu."


Arka bertanya Marisa untuk memecahkan keheningan yang terasa mencekik itu.


"Ehm... di rumah sakit maybe? Aku yang waktu itu di tolong oleh Kevin." Jawab Marisa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Rumah sakit? Astaga! Jadi kau yang waktu itu?!" seru Arka yang membuat Marisa tersenyum paksa menanggapinya.


"Bebek Kuning!!" gumam Kenzo dengan senyum sinisnya pada Marisa.


"Ya, itu aku." Marisa pun hanya tersenyum kaku.


"Cih! Dasar Muktar! Lagi-lagi dia manggil gue Bebek Kuning? Bener-bener anak dajjal minus akhlak!" gerutu Marisa dalam hatinya.


"Jangan mengataiku dalam hati!" seru Kenzo tanpa memalingkan wajahnya.


"Maaf bo, saya tidak sedang mengatai anda. Lagian saya mana berani mengatai anda secara anda adalah bos saya, tuan Kenzo." Marisa mencoba tetap tersenyum walaupun senyum terpaksanya itu justru tampak mengerikan.


"Astaga apa manusia satu ini bisa baca pikiran orang?" pikir Marisa.


"Aku tidak punya kemampuan seperti itu. Jadi jang berfikiran yang tidak-tidak!" sahut Kenzo lagi.


"Semua pertanyaanmu itu tertulis jelas di dahimu yang seluas lapangan golf itu." Kenzo menunjuk ke arah kening Marisa.


Melihat hal itu Arka dan pak Tejo pun hanya bisa menahan tawa mereka, hingga...


Ckit!!

__ADS_1


__ADS_2