My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 148


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen dan amunisinya ya bestie tersayang 💋💋💋...


...*********...


"Ayolah Kenzo... jangan jual mahal lagi. Aku tau kau menginginkanku saat ini, ayo... sentuhlah, dan kau akan merasa lebih baik." Raisa dengan gila menggoda Kenzo, dan Kenzo juga nampak mati-matian menahan sesuatu dalam dirinya.


"Tidak akan! Kau, menjijikkan!" Kenzo menghempaskan kasar tubuh Raisa, tapi bukan Raisa namanya jika dia menyerah begitu saja.


Dia baru saja akan menanggalkan dressnya, namun tiba-tiba saja lampu d kamar itu mati.


"Sial, ada apa ini!?" umpatnya dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal, di saat rencananya yang ingin membuat Kenzo menikahinya karena nasi yang sudah menjadi bubur itu tinggal selangkah lagi, mati lampu itu justru membuat semuanya berantakan.


Bagaimana dia bisa melancarkan serangannya, jika dia saja tak bisa melihat di mana Kenzo berada. Dia mencoba memanggil-manggil nama Kenzo berulang kali, dengan suara yang begitu mendayu-dayu dan menggoda. Namun tak ada jawaban sama sekali dari Kenzo, membuatnya berjalan maju dan meraba-raba sekitarnya untuk mencari keberadaan Kenzo.


Hingga akhirnya dia menyentuh sesuatu, dan merabanya dengan lembut karena jelas-jelas itu adalah sebuah tangan. Namun entah hanya perasaannya saja atau memang benar, tangan itu terasa dingin saat di pegangnya. Namun dia menepis semua pikiran-pikiran aneh dari otaknya, dan berpikir jika itu terjadi karena Kenzo berkeringat dingin karena efek ramuan cinta pemberiannya.


Tapi setelah dia meraba lebih ke bawah lagi, dia baru menyadari jika tangan itu ukurannya hanya seukuran tangannya. Dan lagi, kuku. Benar, kuku yang sepertinya sangat panjang.


Dada Raisa bergemuruh hebat. Pertama tangan yang sedingin es batu, kedua ukuran tangan yang jelas sekali jika itu bukan tangan seorang pria, di tambah dengan kuku-kuku yang sepertinya sangat panjang.


"Apa menyenangkan bermain dengan tanganku, pembunuh?"


Deg!


Raisa membulatkan matanya, saat dia mendengar suara yang begitu dia kenal. Namun suara itu tampak sedikit berbeda, karena terkesan lebih berat dan serak. Dan di tambah lagi cekikikan khas dari mbak kunti penghuni pohon beringin, yang tiba-tiba saja terdengar membuat Raisa semakin ketakutan.

__ADS_1


Dia ingin menjauh, jika bisa berlari secepat mungkin dari tempat itu. Tapi sayang seribu sayang, kakinya seolah sudah berakar kuat di tempatnya berdiri saat ini. Reaksi normal seseorang jika melihat langsung yang namanya hantu, dan badannya juga sudah gemetar ketakutan. Dia ingin berteriak, namun anehnya lidahnya juga tiba-tiba terasa kelu dan membuatnya tak mampu mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan untuk sekedar teriakan ketakutan sekali pun, sama sekali tidak bisa keluar dari bibirnya.


Raisa benar-benar mematung di tempatnya, tanpa bisa berkata-kata atau beranjak. Dia hanya bisa memejamkan matanya, bahkan saat dia merasakan telapak tangan dingin dengan kuku-kuku tajam dan panjang itu mulai mengelus wajahnya.


"Kenapa kau diam saja, pembunuh? Apakah bersenang-senang setelah melakukan dosa besar itu, membuatmu bahagia?"


Lagi dan lagi, tubuh Raisa semakin bergetar hebat. Terlebih saat Raisa di paksa membuka matanya, ketika tangan itu mulai turun ke lehernya dan menekannya dengan sedikit kuat.


Dia melihat wajah Marisa yang sepertinya bersinar, entah bagaimana. Tapi wajah itu di penuhi dengan darah, koreng, dan bahkan nampak busuk. Di tambah dengan rambut panjang yang nampak berantakan.


"Aaaaaaa!" Akhirnya teriak itu bisa keluar juga dari mulut Raisa. Rasanya dia benar-benar ingin pingsan saat ini, tapi sayangnya tidak terjadi.


Sepertinya Tuhan memang sengaja memberinya hukuman atas perbuatan jahatnya secara kontan, tanpa kasbon atau cicilan perbulan.


Raisa berlari ke arah pintu, dan belum sempat dia memegang gagang pintu itu, pintunya justru terbuka dengan sendirinya. Hal itu membuatnya senang, sekaligus takut. Senang karena dia bisa lari dan keluar dari kamar itu, tapi juga semakin takut, mengingat dia yang tadi membuang kunci kamar itu ke tong sampah. Namun kini tiba-tiba saja pintu itu terbuka tanpa ada orang yang menyentuhnya.


Namun tiba-tiba saja, sosok tadi sudah berdiri di depannya saat dia menolehkan kembali kepalanya ke depan. Sontak saja itu membuat Raisa semakin takut dengan tubuh gemetar.


Bukankah tadi makhluk itu ada di belakangnya? Kenapa sekarang tiba-tiba saja, makhluk itu sudah ada di depannya? Lalu kemana lagi dia harus melarikan diri dari setan itu?


Raisa pun segera berbalik badan, untuk kembali ke kamar tadi. Namun saat dia berbalik, dia juga melihat makhluk itu di depan sana.


Makhluk itu sepertinya benar-benar bergerak dengan cepat, dan akan muncul ke arah manapun yang dia tuju.


Raisa terduduk lemas di lantai, dia memeluk erat lututnya yang gemetaran. Dia sangat ketakutan saat ini, benar-benar sangat ketakutan. Kenapa dia tidak pingsan saja seperti adegan yang biasa terjadi saat orang-orang melihat hantu untuk pertama kalinya.


Pembunuh!

__ADS_1


Pembunuh!


Pembunuh!


Kata-kata itu terus terdengar di telinganya. Terkadang suar it berasal dari arah depan, dan sesaat kemudian seperti berasal dari arah belakang. Namun Raisa benar-benar tak ingin membuka matanya, dan membuat dirinya melihat lagi makhluk menyeramkan itu. Dia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, dengan tubuh yang tak bisa berhenti berkeringat dingin dan bergetar ketakutan.


Dia berteriak dan meminta pengampunan dari Marisa yang sudah dia bunuh.


"Pergi! Cepat pergi! Jangan ganggu aku! Kau sudah mati!" Dia terus berteriak seperti orang gila, sambil menutup kedua telinganya.


Dia tak ingin mendengar suara yang terus terdengar itu. Suara yang terus mengatainya sebagai pembunuh.


Raisa merasakan jika makhluk itu, berada tepat di belakangnya. Karena saat ini, punggungnya terasa dingin.


"Pembunuh harus mati!"


"Tidak, aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!" Raisa terus bergumam tanpa henti.


Dan di saat itu juga, terdengar suara cekikikan khas itu lagi dari berbagai arah. Hal itu juga membuat Raisa semakin ketakutan.


"Bukan aku yang membunuhmu! Bukan! Bukan!"


"Aku memang tidak mati di tanganmu, tapi di tangan orang suruhanmu, pembunuh!"


"Itu karena kau menghancurkan hidupku! Kau wanita ja*lang!" seru Raisa. Namun tiba-tiba saja, Raisa tertawaan seperti orang gila, "Hahaha... kau sudah mati, Kenzo milikku!"


...*********...

__ADS_1


...Aigoo... macam mana pula lah kau Raisa, jadi gila pula kau rupanya.😯😌...


__ADS_2