
"Apa sih yang mereka liat? Kenapa muka neneknya Kenzo sama si ulet keket jadi aneh gitu? Bikin penasaran aja," batin Marisa.
"Ne-nenek... I-ini tidak seperti yang nenek lihat, itu bukan aku nek. Itu bukan aku! V-video itu pasti editan, nek. Kumohon percayalah padaku, nek..." Raisa memegang tangan Riana dengan erat, dan berusaha untuk mempertahankan kepercayaan Riana padanya.
"Kau bilang itu editan, Raisa? Apa kau tau? Aku mendapatkan itu dari cctv di kantorku, dan yang lainnya bahkan aku sendiri yang merekamnya. Jadi apa kau menuduhku memalsukan video itu, secara tidak langsung?" sahut Kenzo.
"Ti-tidak bukan begitu maksudku, Kenzo. M-mungkin kau hanya salah paham," kilah Raisa.
"Mungkin jika kau dan dia hanya sekedar melakukan pertemuan biasa, itu masih masuk akal untuk di katakan sebagai kesalahpahaman. Tapi bagaimana mungkin, adegan ranjang yang begitu jelas terlihat masih bisa di kategorikan sebagai kesalahpahaman?" cecar Kenzo yang langsung membuat wajah Raisa berubah menjadi pucat seketika.
"Adegan Ranjang?" beo Marisa dan keuda orang tua Kenzo.
"Apa kau ingat mobil di parkiran waktu itu, Marisa?" tanya Kenzo.
"Mobil?" Marisa mencoba mengingat sesuatu yang berkaitan dengan mobil, hingga akhirnya dia mengingatnya," Maksudmu mobil yang goyang dumang di parkiran kantormu waktu itu?!" seru Marisa dengan mata membelalak.
"Benar sekali. Itu adalah mobil milik Dimas. CEO dari King Jewelry, sekaligus teman ranjang Raisa."
Kenzo melirik sinis pada Raisa. Tatapan matanya di penuhi dengan rasa jijik yang tidak terkira.
Raisa pun menunduk dengan wajah malu, dan perasaan takut yang begitu mencekiknya.
"Pergi!" hanya satu kata yang terucap dari mulut Riana.
Semua orang memandang pada Raisa.
"T-tapi nek..."
"Pergi! Aku tidak ingin mengulangi ucapanku untuk yang ketiga kalinya!" serunya dengan amarah yang sudah membuncah.
Raisa pun akhirnya pergi dari rumah utama keluarga Alexander, meskipun dengan berat hati.
Kenzo dan Marisa pun saling pandang, dengan senyum tersungging di bibir mereka.
"Jangan kira aku sudah menerimamu. Aku akan mencari wanita lain yang seratus kali lebih baik darimu!" sahut Riana yang auto membuat semua mata memandangnya dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Ibu... jangan seperti itu. Tolong... Dulu aku sudah mengikuti keinginanmu. Tapi tolong jangan lakukan hal yang sama pada anakku, ibu," Gio yang sudah terdiam sedari tadi pun akhirnya ikut angkat bicara.
"Oh? Sekarang kau sudah mulai berani melawanku, Gio?" Riana memandang Gio dengan kekecewaan yang terpancar jelas dari sorot matanya.
"Aku tidak bermaksud untuk melawanmu, ibu. Tapi aku tau bagaimana sulitnya untuk hidup bersama orang yang tidak kita cintai. Mungkin aku beruntung karena wanita yang ibu pilih adalah wanita yang baik dan mampu meluluhkan hatiku yang sekeras batu. Tapi tidak semua hal baik akan terjadi di setiap waktu, ibu. Aku tidak ingin Kenzo hidup tanpa kebahagiaan. Aku ingin membiarkan Kenzo memiliki kebahagiaannya sendiri," ujar Gio.
"Eh! Eh! Eh! Loh heh! Heh loh! Bukannya kemarin-kemarin papanya Kenzo yang ngebet banget buat maksa gue nikah sama Kenzo? Padahal hubungan gue sama Kenzo waktu itu masih kayak Tom & Jerry!" batin Marisa, "Ya... walaupun akhirnya benci jadi cinta sih... tapi kan tetep kedengeran aneh, kalau papanya Kenzo ngomong kayak gitu," sambungnya dalam hati, sambil menatap bingung pada Gio dan Riana.
"Aku tidak menyangka kalau sekarang kau sudah pandai bermain dengan kata-kata, Gio."
Riana pun berdiri tanpa memberikan jawaban pasti pada semua orang.
"Tunggu, nek," panggil Kenzo, saat Riana baru saja akan melangkah pergi.
"Aku tidak pernah meminta sesuatu dari nenek sebelum ini, bukan? Jadi anggap saja, ini adalah permintaan pertama dan terakhirku pada nenek."
Riana pun tampak berpikir sejenak, "Terserah kau saja. Tapi jangan harap aku akan memperlakukan dia dengan baik!" setelah mengatakan hal itu, Riana pun melenggang pergi. Dia langsung meninggalkan rumah keluarga Alexander, dan pulang ke Villa pribadinya.
Marisa menatap Kenzo dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tak apa, aku akan membuat nenek bisa menerimaku."
"Ayah... ibu... di mana Kevin?" tanya Kenzo yang baru menyadari, bahwa adiknya itu tidak terlihat sedari tadi.
"Tidak tau. Tapi sepertinya dia tidak mau pulang, karena dia tau kau akan datang bersama Marisa," jawab mamanya.
"Hhhh..." kenzo menghela nafas panjang, "Aku akan bicara padanya, nanti. Kalau begitu, aku dan Marisa pamit pulang dulu," ujar Kenzo.
"Pulang?"
"Kenapa kau tidak tinggal di sini dulu, Kenzo? Sudah lumayan lama kau tidak pulang, kan?" tanya Stella.
"Tidak bisa ma," jawab Kenzo tanpa pikir panjang.
"Kenapa?" tanya Gio.
__ADS_1
"Apa papa dan mama tidak ingin segera memiliki cucu?" tanya Kenzo sambil melirik nakal pada Marisa.
"Cucu?!" beo Gio dan Stella.
"Apa kau berencana menyicil, Kenzo!?" bentak Gio, "Sebelum kalian menikah, jangan lakukan hal di luar batas!" serunya.
"Tenang dulu, pa. Kami sudah menikah," ucap Kenzo.
Kedua orang tua Kenzo pun menganga kaget dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Jangan bercanda Kenzo! Kau sudah keterlaluan!" bentak Stella.
"Ehm... maaf ma, pa. Tapi aku dan Kenzo memang sudah menikah, di Hawaii," sahut Marisa yang semakin membuat mata kedua orang tua Kenzo membulat sempurna.
"Kalian!? Beraninya kalian menikah tanpa memberitahu kami!?" seru Gio dengan murka.
"Aku hanya berusaha mengantisipasi penolakan nenek pada Marisa, papa... mama..." ucap Kenzo, "Lagi pula, jika aku tidak segera menikahi Marisa, maka nenek akan terus menyodorkan wanita-wanita pilihannya padaku."
Gio dan Stella pun terdiam.
"Maaf, pa... ma... Bukan maksud kami untuk tidak memberitahukan hal ini, tapi ini sangat mendesak. Kenzo sudah memperkirakan semuanya," Marisa mencoba membantu Kenzo untuk memberikan pengertian pada kedua orang tuanya.
"Hhh... baiklah. Lagi pula aku juga yang menginginkan hal itu pada awalnya, jadi aku merestui kalian," ucap Gio. Sedangkan Stella hanya tersenyum pada anak dan menantunya.
"Akhirnya Kenzoku sudah dewasa! Aku tidak perlu berpikir bahwa anakku menyimpang lagi!" serunya dengan jujur.
"Pfftt..." Marisa berusaha untuk menahan tawanya sebisa mungkin.
"Astaga mama... kenapa mama selalu saja mengatakan kalau aku ini belok, menyimpang, bahkan gay?!" geram Kenzo dengan kesal.
"Siapa juga yang tidak akan berpikir aneh-aneh, jika setiap kali aku hanya melihat Arka yang terus berada di dekatmu!"
"Bwahaha..." tawa Marisa pun akhirnya pecah. Dan Gio pun juga ikut tertawa dengan kelakuan ibu dan anak itu.
"Marisa...! Apa kau mau di hukum, sayang...!" tanya Kenzo dengan senyum kaku.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Ku rasa ucapan mama cukup masuk akal," ujar Marisa yang auto membuat Gio dan Stella juga ikut tertawa.