My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 99


__ADS_3

Kenzo berjalan gontai ke lantai bawah. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Arka.


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Namun setelah panggilan ke 3, Arka tak juga mengangkat panggilan itu.


"Sial! Kemana orang ini?!" umpat Kenzo.


"Apa dia sudah berhenti menelepon?" batin Arka saat tidak lagi terdengar dering telepon, "Syukurlah kalau orang gila itu tidak meneleponku lagi," Arka mengira jika yang meneleponnya adalah Gea, maka dari itu... dia bahkan tidak mau melihat ponselnya.


Kenzo pun akhirnya terpaksa pergi ke minimarket terdekat, dia menyesal sudah menyuruh semua pekerja yang ada di sana pulang. Tadinya dia berpikir jika malam ini akan menjadi malam yang penuh keringat, lengu*han dan desa*han. Tapi sayangnya, kenyataan membuat angan-angannya yang sudah terbang tinggi itu jatuh ke bumi dengan keras.


"Kenapa tamu bulanannya datang tidak tepat waktu...!?" geram Kenzo sembari menyetir mobilnya.


Sesampainya di minimarket terdekat, Kenzo pun segera masuk dan menuju rak berisikan pembalut dengan berbagai macam merek.


"Astaga...! Apa lagi ini...? Kenapa ada banyak sekali jenis? Lalu yang mana yang biasa dia pakai...?!" pikir Kenzo dengan frustasi.


Dan pada akhirnya, dia membeli satu dari setiap merek yang ada.


Bruk!


Mbak-mbak kasir pun melongo tidak percaya. Seorang pria tampan yang sangat sempura sedang berdiri di hadapannya, dan dia membeli banyak sekali pembalut.


"Benar-benar pria idaman... jarang ada laki-laki yang mau membelikan benda ini untuk pasangan mereka. Pasangan pria ini benar-benar beruntung!" batinnya, sambil menghitung semua belanjaan Kenzo.


"Hachiu!" Marisa mengusap hidungnya, "Apa ada yang membicarakanku?" gumamnya. Dia masih setia duduk di atas closet, sambil menunggu pembalutnya datang. Maksudnya suaminya datang dengan membawa pembalut pesanannya.


Blam!


Kenzo pun segera menjalankan mobilnya, setelah memasang sabuk pengamannya.


"Kenapa Kenzo lama sekali? Apa dia kesulitan mencari barangnya?" pikir Marisa. Padahal kenyataannya, yang membuatnya lama adalah... karena dia berusaha menelepon Arka lebih dulu tadi.


Setelah beberapa saat...


Tok...


Tok...


Tok...


Cklak!

__ADS_1


"Ini." Kenzo menyodorkan sekantong penuh pembalut.


"Astaga...! Kau ini mau jualan pembalut atau apa?" tanya Marisa saat menerimanya.


"Aku tidak tau merek apa yang kau pakai. Jadi ya sudah, aku beli saja semuanya."


"Haaah... ya sudah, terimakasih," Marisa pun segera masuk dan membersihkan diri.


Beberapa puluh menit sudah berlalu, dan kini Marisa sudah selesai dengan pengganggu itu. Penganggu malam pertamanya.


"Apa kau mau terus berdiri di sana, sayang? Apa kau tidak lelah?" tanya Kenzo pada Marisa yang tidak juga naik ke atas ranjang.


Akhirnya Marisa pun naik dan membaringkan dirinya di samping Kenzo, "Ehm... aku—" Marisa tak bisa mengucapkan kata maaf yang sudah sampai di tenggorokannya.


"Sudahlah, ini sudah malam. Ayo tidur," ajak Kenzo.


"Baiklah..." jawab Marisa lesu.


Namun tangan Kenzo yang tiba-tiba memeluknya, membuat Marisa sedikit tenang. Setidaknya dia tau, kalau suaminya tidak marah.


Marisa menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kenzo dan berbisik, "Maaf."


Pagi hari yang cerah pun datang.


"Selamat pagi, Sayang... ayo bangun dan kita sarapan."


"Ehm... lima menit lagi, sayang..." gumamnya.


"Ish, ya sudah," saat Marisa baru saja akan beranjak, Kenzi menarik pinggangnya dan membawanya ke dalam pelukan yang hangat.


"Jangan banyak bergerak, biarkan aku memeluk lebih lama lagi."


"Huft... terserah kau saja," Marisa pun akhirnya pasrah. Dia membalikkan badannya dan menghadap pada Kenzo.


"Gue baru sadar, kalau suami gue itu ganteng banget. Gue masih nggak nyangka, Kenzo udah jadi suami gue," batin Marisa.


Marisa menyentuh wajah suaminya, memperhatikan setiap detail yang membuat wajah sang suami nampak sangat sempurna. Bahkan muka bantalnya pun, tak mengurangi kadar ketampanannya.


Di sisi lain...


"Hoaaam..." Maria menggeliatkan badannya, namun sesuatu yang menusuk terasa di bawah sana, "Aw!" rintihnya.


Rasa sakit yang membuatnya perlahan mengingat apa yang sudah terjadi semalam.


"Aaaaaaaa!"


"Astaga, apa itu tadi?" gumam Marisa saat rasanya dia mendengar suara twin durjananya, "Nggak mungkin! Secara gue sama dia aja kan ada di negara yang beda? Masa iya suara dia nyampe ke sini, canggih banget dong!" batinnya, sambil mengusap-usap telinganya.

__ADS_1


"Kau kenapa sayang?" tanya Kenzo yang sudah membuka matanya, dan melihat Marisa yang tengah mengusap-usap telinganya.


"Tidak ada, sepertinya hanya sedikit halusinasi. Aku seperti mendengar suara Maria berteriak padaku."


"Ooh..." Kenzo pun hanya ber ooh ria mendengar penjelasan Marisa.


"Ya sudah, cepat bangun. Mandilah, dan kita sarapan bersama. Aku sudah memasak makanan untukmu," ucap Marisa.


"Ternyata istri tomboyku ini, adalah istri yang sempurna," gumamnya sambil mengecup leher jenjang istrinya.


Kenzo pun akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk segera melakukan ritual paginya. Sedangkan Marisa menyiapkan baju ganti untuk Kenzo. Hari ini Kenzo ada meeting pagi dengan kliennya, jadi dia menyiapkan pakaian kerja untuk Kenzo pakai.


"Masakanmu memang yang terbaik, sayang. Sepertinya aku tidak akan tertarik lagi untuk makan di luar setelah ini," ucapnya memuji masakan sang istri.


Marisa pun tersenyum malu sekaligus senang mendengar pujian Kenzo untuk masakannya.


Setelah sarapan, Marisa menuju ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Namun dia tak menemukannya, dasar otak mini! Menaruh barang-barang milik sendiri pun sering kali lupa.


"Apa yang kau cari?" tanya Kenzo seraya mendekap Marisa dari belakang, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Aroma segar menguar dari tubuh Marisa dan terasa sangat memabukkan.


"Aku mencari ponselku."


"Maksudmu ini?" Kenzo mengangkat ponsel Marisa di tangan kanannya.


"Kenapa itu bisa ada padamu?" tanyanya.


"Kemarin saat kau tertidur di mobil, ponselmu terus berdering."


"Kenapa tidak kau angkat. Memangnya telepon dari siapa?"


"Kakak iparku."


"What?! Itu dari Maria? Kenapa tidak kau angkat...!? Dia bisa ngomel-ngomel, tau...!" Marisa memanyunkan bibirnya.


Karena Maria selalu mengomelinya berjam-jam, jika dia tak mengangkat telepon darinya.


Marisa pun mencoba menelepon Maria, untuk menanyakan kenapa dia kemarin menghubunginya, "Halo Mar," sapa Marisa sembari bersiap, dengan menjauhkan ponselnya dari telinga dan menutup sebelah telinganya.


"Ya," jawab Marisa singkat, dengan suara yang terdengar tidak bersemangat.


"Eh? Kenapa nih bocah? Nggak kayak biasanya," batin Marisa sambil menatap ponselnya dengan alis yang bertaut, "Kenapa lo? Kayak orang abis kalah pasang togel aja. Lemes banget perasaan, belum sarapan ya lo? Apa karena nggak ada gue, makanya nggak ada yang masakin lo?"


"Enggak,"


"Ya terus? Lo cerita deh, ada masalah apa sih?" tanyanya. Namun sedetik kemudian, dia terpikirkan soal Ando. Mungkinkah dia yang membuat Marisa seperti itu? "Apa jangan-jangan, ada orang yang gang—"


"No!"

__ADS_1


__ADS_2