My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 81


__ADS_3

"Hah?! Kau serius?!"


"Ya, lokasi yang Marisa berikan itu adalah apartemen lamanya."


"Sesuai kata pepatah, tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Selama ini dia ada dalam jangkauan kita, tapi karena kita mengira dia benar-benar sudah meninggal jadi—" Arka menghela nafasnya kasar.


Dulu dia dan Azka memang sering berkelahi karena hal-hal kecil sekalipun, tapi bagaimanapun juga mereka tetaplah saudara setali puser.


"Jadi kapan kita akan ke sana?" tanya Marisa.


"Setelah jam pulang kerja."


"Ok, jadi aku dapat uang lembur kan?" canda Marisa.


"Tenang saja, uang lembur dan bonusmu akan ku kirim nanti."


"Good! Hehe..." ucapnya sambil nyengir kuda


"Tapi hukumanmu tetap akan ku berikan padamu. Jangan berpikir kalau aku sudah melupakannya!" setelah mengatakan hal itu, Kenzo pun berlalu pergi untuk kembali ke ruangannya.


"Eh...?" Marisa menatap bingung pada Kenzo.


"Hukuman apa?" tanya Arka berbisik padanya.


"Kau tanya padaku? Lalu aku harus bertanya pada siapa? Tidak mungkin aku bertanya pada rumput yang bergoyang kan? Aku sendiri saja tidak tau kenapa aku tiba-tiba mendapatkan hukuman," ujar Marisa dengan wajah innocentnya.


"Lah...? Bos sama bodyguard yang merangkap calon istri kok sama bae! Sama-sama aneh!" ejek Arka.


"Kau sendiri juga aneh, bahkan kau lebih aneh dariku. Sudah tau dia itu aneh tapi kau masih bisa bersama dengannya dari kalian baru brojol sampe segede ini," ejeknya balik.


"Jadi kita sama-sama aneh dong? Kalo gitu tos dulu."


Mereka berdua pun malah tertawa bersama dengan bodohnya.


Cklak!


"Kalian mau tertawa sampai kotak tertawa kalian habis, atau mau kembali bekerja!? Jika kalian tidak segera kembali bekerja, maka gaji kalian akan di pot—"


Wushh...


Arka dan Marisa yang mendengar kata potong gaji pun segera ngacir melewati Kenzo yang berdiri di depan pintu.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan duo absurd itu.


Singkat cerita, jam kerja sudah berakhir beberapa puluh menit yang lalu. Dan kini tiga orang itu sudah berdiri di depan gedung apartemen, di mana Azka tinggal.

__ADS_1


Kenzo menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk ke gedung itu. Mereka menaiki lift menuju lantai 5 di mana apartemen Azka berada.


Ting!


Sesampainya di depan pintu apartemen Azka, Kenzo pun langsung mengetuk pintu itu.


Tok...


Tok...


Tok...


"Makananku sudah sampai?" gumamnya kemudian berjalan untuk membuka pintu.


Cklak!


"Cepat juga datang—" ucapnya yang tak sempat terselesaikan, karena dia melihat Kenzo lah yang berdiri di depan pintu dan bukan mamang gojek yang dia tunggu-tunggu.


"Apa kabar, Azka?"


"Cih!" dia hanya berdecak kesal dan hendak menutup pintunya kembali.


"Azka!" seru Arka yang kesal karena kembaran yang dia rindukan justru tak menginginkan kehadirannya.


Azka menatap Arka dengan tatapan yang sulit di artikan.


Arka dengan cepat berhambur dan memeluk Azka dengan erat, "Dasar adik minus akhlak! Apa kau tau ayah dan ibu sangat sedih dengan kepergianmu?! Bahkan ibu sampai deperesi, apa kau tau!? Dan kau! kau! Dengan teganya kau meninggalkanku, hah?! Kau itu memang menyebalkan! Kau juga adik yang selalu merepotkanku! Tapi kau adalah orang yang paling ku sayangi, Azka..." tangis Arka pun pecah di pelukan saudara kembarnya itu.


"Lah? Rupanya nih dua fotocopyan sama aja tingkahnya kayak gue ama si Marjan, suka saling bully gitu. Apa semua saudara kembar kayak gitu ya?" batin Marisa.


Azka tidak membalas pelukan Arka, seolah dia tidak merindukan kakaknya itu.


"Darimana kalian tau aku masih hidup?"


"Aku mengetahuinya dari—"


"Dari aku! Halo, tuan Azka," sapa Marisa yang memotong ucapan Kenzo seenak udelnya.


"Jadi, apa tujuan kalian datang ke sini?" tanyanya dengan wajah dingin dan ekpresi datar.


"Heh...! Bocah tengik! Setidaknya undang dulu kita masuk ke dalam! Nggak ada sopan-sopannya ini bocah!" ketus Arka.


Tanpa menjawab apapun, Azka hanya sedikit bergeser dari pintu dan membuat mereka bertiga bisa masuk ke dalam.


Mereka pun duduk di sofa, namun suasana tetap terasa sedikit aneh dan mencekam. Karena Azka tak pernah melepaskan tatapan membunuhnya pada Kenzo.

__ADS_1


"Kami datang untuk memjelaskan semuanya padamu, Azka." Arka memulai pembicaraan itu.


"Cih! Apa lagi yang perlu di jelaskan? Apa jika kalian menjelaskan semuanya, Bella bisa hidup kembali?" sarkasnya dengan senyum sinis.


"Setidaknya kau harus tau kalau Kenzo tidak bersalah, Azka..."


"Cukup, Arka. Biar aku saja yang menjelaskannya," sahut Kenzo yang inginkan menjelaskan semuanya sendiri pada Azka.


Azka hanya diam dan menatap Kenzo dengan wajah tidak suka.


"Sebelum kejadian itu, Antonio memintaku datang kesana. Dia bilang dia ingin membicarakan hal penting denganku, tapi aku tidak menyangka kalau yang aku lihat di sana bukan dia tapi justru Bella. Tapi tepat saat aku datang, Bella sudah melompat dari sana. Dan aku baru mengetahui kalau Antonio sengaja melakukannya, karena dia mengira aku yang sudah merebut Revika darinya."


"Maksudmu, Antonio ada di sana jauh sebelum Bella melompat?"


"Dilihat dari situasinya, itu benar. Dia bahkan punya waktu untuk mengirim pesan padaku, dan menungguku datang ke sana. Ku rasa dia sudah ada di sana saat Bella sedang bersedih hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri."


Brak!


Azka menggebrak meja di hadapannya dengan keras, kemudian berdiri dengan emosi yang meluap, "Sialan! Jadi dia tau Bella berencana bunuh diri, tapi dia tidak mencegahnya dan malah memanfaatkan situasinya untuk menjebakmu?!"


"Sudahlah, Azka. Berhentilah meratapi kepergian Bella. Dia pasti tidak ingin melihatmu seperti ini, dia pasti ingin kau bahagia." Tiba-tiba saja, Marisa mengucapkan kata-kata bijak yang entah datang dari sisi otak sebelah mana.


"Marisa benar, Azka. Pulanglah... ibu sudah hampir gila karena mengira kau benar-benar sudah meninggal, kasihan dia."


"Aku tau itu, kak. Aku bahkan sering mengunjungi ibu tanpa sepengetahuan kalian," jawabnya.


"Hah!? Jadi setiap kali ibu berteriak memanggil namamu dan mengatakan kalau kau datang menemuinya itu bukan karena ibu berhalusinasi? Itu karena kau benar-benar datang?"


"Ya, aku benar-benar datang menemui ibu beberapa kali."


"Dasar bocah gemblung!" Arka berdiri dan memukul kepala Azka.


"Sakit, Ara...!"


"Ara?" gumam Marisa.


"Dulu Azka memang sering memanggil Arka dengan sebutan Ara, karena Arka itu seorang wibu!" bisiknya.


"Hahaha... sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu. Biasanya aku akan kesal setiap kali kau memanggilku begitu, tapi khusus untuk hari ini panggil saja sepuasmu! Bebassss!" serunya.


"Astaga...! Benar-benar sama gilanya denganku dan Maria kalau sedang bersama." Gumam Marisa sambil geleng-geleng kepala.


"Btw, Ken. Siapa dia?"


"Dia itu calon istrinya Ken—"

__ADS_1


Plak!


__ADS_2