My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 97


__ADS_3

"Hahaha..." Ando tertawa dengan mengerikan. Senyum joker di wajahnya, semakin menambah merinding orang yang melihatnya, "Bukankah degan membunuh kalian semua, harta keluarga Dewangga juga akan menjadi milikku...?!" ucapnya dengan mata menatap tajam ketiga orang itu.


Blar!


Petir kematian seolah menyambar ubun-ubun ketiga manusia yang tengah ketakutan itu, bagaikan hukuman mati sudah tinggal hitungan detik.


Ketiganya pun segera bersimpuh di lantai dengan keringat dingin bercucuran, menghadapi algojo tampan namun mengerikan yang tengah berada di hadapan mereka.


"Ando, a-ayah mohon... lepaskan kami. A-ayah mengaku salah. Katakan b-bagaimana caranya agar kau mau melepaskan kami?" tanya Ferdinand dengan suara gemetar.


"Caranya? Tentu saja bukannya tidak ada."


Bak angin segar menerpa ketiga orang itu.


"Setelah kau melepaskan kami, aku akan menyewa banyak pembunuh untuk menghabisimu! Anak sialan!" batin Ferdinand, "K-katakanlah, Ando. S-selama ayah bisa, ayah akan melakukannya."


Rian dan Melisa hanya bersimpuh dengan seluruh badan yang sudah gemetaran, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh mereka.


"Bawa kembali ibuku dari alam baka!"


Dong!


Bagaikan gong kematian yang menyapa ketiga manusia durjana itu, saliva mereka terasa tercekat di tenggorokan.


"Kenapa? Kalian tidak bisa? Maka bersiaplah mengalami penderitaan yang tiada akhir!"


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung mereka berpacu, kala kaki Ando melangkah dengan mantap ke arah mereka. Setiap langkahnya terasa bagaikan penentu, berapa lama lagi mereka masih bisa bernafas.


Ando berjongkok di depan ketiga orang itu, dengan belati yang masih setia di pegangnya.


Dia menempelkan ujung belati itu kebawah dagu ayahnya, ditekannya sedikit belati itu, "Aku akan membuat kalian mati dengan cara yang paling menyakitkan dan menyedihkan!" ucapnya pelan, namun penuh penekanan. Darah segar pun mengalir dan membuat lantai yang tadinya putih, kini bernodakan warna merah. Tapi dia tak lantas membunuh sang ayah, dia sengaja hanya membuat luka kecil itu sebagai pembukaan kecil dari prosesi balas dendamnya.


Rumah sebesar itu, tentu saja terdapat banyak penjaga yang keluarga Dewangga pekerjakan. Namun orang sebanyak itu, tetap tak mampu menundukkan seorang pembunuh berdarah dingin seperti Ando. Dia membunuh semua penjaga keamanan di sana, dan membuat si pemilik rumah tak lagi memiliki perlindungan.

__ADS_1


"Katakan padaku. Kalian ingin mati dengan cara apa?" suara berat yang terdengar mengerikan itu, semakin membuat ketiga orang yang tengah bersimpuh itu ketakutan, "Apa kalian mau mati dengan cara kehilangan satu persatu anggota tubuh kalian? Sepertinya itu akan sangat menyenangkan, bukan?" tanyanya dengan seringai devil.


Glek!


Bahkan saliva pun tak kuasa untuk mereka telan. Mereka hanya mampu terdiam, tanpa berani menjawab.


"Tapi... menguliti kalian hidup-hidup lebih dulu, sepertinya akan lebih menyenangkan,"


"Apa?! D-di kuliti?!" batin ketiganya dengan tubuh yang semakin lemas. Bahkan melisa pun pingsan seketika, karena membayangkan dirinya di kuliti hidup-hidup oleh Ando.


"Melisa? Melisa?" gumam Ferdinand mengkhawatirkan istrinya itu.


"Ibu?" begitu pula dengan Rian yang mengkhawatirkan sang ibu.


Namun tawa devil Ando membuat mereka kembali memandangnya dengan ngeri, "Hahaha... kalian masih bisa mengkhawatirkan orang lain si saat seperti ini?! Seharusnya kalian itu mengkhawatirkan diri kalian sendiri..." kata-kata yang dia ucapkan dengan nada rendah itu, justru terdengar lebih mengerikan.


"Ando! Apa kau tidak takut di penjara?!" seru Rian pada Ando, setelah susah payah mengumpulkan keberanian.


"Penjara? Hahaha..." Ando tertawa terbahak-bahak, sambil menutup sebelah matanya dan menengadahkan kepalanya ke atas, "Apa kau tidak tau? Nama lainku di kepolisian sudah menjadi buronan paling di cari? Hahaha... tapi lihat?! Aku masih bisa berdiri di sini untuk membunuh kalian...!"


Dugh!


Andi menendang Rian hingga terjungkal, dan kepalanya membentur lantai dengan keras. Darah mengalir dan bau amis mulai menguar.


Namun Rian masih sadar, hanya saja... dia tak sanggup untuk membuka matanya.


Sedangkan Ferdinand, masih meringis dengan rasa sakit si bawah dagunya. Darahnya juga masih menetes.


Ando menyeret kedua laki-laki itu ke dalam gudang. Namun saat dia kembali, Melisa sudah tidak ada di sana.


"Sial! Kemana ******* itu!?" serunya dengan sangat marah.


Ando mengeluarkan ponselnya dan menelepon bawahannya, "Jaga seluruh penjuru rumah ini! Jangan biarkan seekor lalat pun kabur!" serunya dan langsung mematikan telepon itu.


Ando kembali ke gudang dengan amarah yang semakin memuncak.


Sedangkan di tempat lain...


Kenzo dan Marisa sudah sampai di apartemen, "Hoaamm... sudah sampai ya?" gumamnya.

__ADS_1


"Sudah. Kau sudah puas tidur kan?" tanya Kenzo, "Jadi kita bisa berolahraga sampai pagi!" bisiknya di telinga Marisa.


Blush!


Pipi Marisa pun auto memerah seperti kepiting rebus, "Aaarrggh! Kenapa gue malah bayangin yang iya-iya...!?" rutuknya dalam hati, pada diri sendiri.


"Karena kau itu bebek mesum," bisik Kenzo lagi, yang seolah tau isi otak mini Marisa saat ini.


"D-darimana kau tau aku memikirkan hal itu?! E-eh maksudku, aku tidak! Aku tidak memikirkan hal yang iya-iya! E-eh maksudku yang tidak-tidak!" semakin Marisa banyak bicara, semakin salah kaprah pula kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kau itu tidak punya bakat untuk berbohong! Jadi jangan mencobanya, karena aku pasti tau," ucap Kenzo dengan nada megejek.


"Baiklah...! Aku memang tidak pandai berbohong, seperti cogan di sampingku!" sindir Marisa dengan bibir manyun.


"Kau baru saja mengataiku?" tanya Kenzo.


"Aku kan bilang, cogan! Memangnya kau merasa kalau kau itu cogan, hah?!"


"Kau mau bukti? Baiklah, sekarang aku akan mencoba mendekati wanita dan kita lihat apakah dia akan menyukaiku atau tidak,"ucap Kenzo dengan nada ancaman untuk menggoda Marisa.


Kedua orang ini benar-benar menganggap mamang supir sebagai kambing congek.


"Teruskan saja perdebatan kalian, aku tidak dengar!" batin mamang supir.


"Kau berani?!" tanya Marisa dengan mata melotot.


"Tentu saja berani," jawab Kenzo dengan super santuy.


"Baiklah, bagaimana jika kita bertaruh? Aku juga akan menggoda pria dan melโ€”" mata Marisa membulat seketika, kala Kenzo dengan posesif mencium bibirnya.


Sedangkan mamang supir, memilih keluar dari mobil secara diam-diam. Karena tak ingin melihat pemandangan yang membuat iri itu.


Ciuman posesif yang semakin lama terasa semakin menuntut. Kenzo pun mengh*isap, menye*sap, menji*lat dan menjelajahi rongga mulut Marisa.


Dan Marisa yang sudah terbuai dengan permainan suaminya itu pun, perlahan mulai membalas ciuman dan luma*tan yang Kenzo lakukan.


Mereka baru mau melepaskan tautan mereka, kala mereka butuh menghirup nafas sebanyak mugkin.


Kenzo menempelkan dahinya ke dahi Marisa, hidung mereka juga sudah tidak berjarak. Bibir mereka hanya berjarak 2 centi, "Jangan pernah berani-berani menggoda pria lain, atau aku akan menhukummu!" ucapnya.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2