
Kenzo membawa Marisa masuk ke dalam kamarnya dan tiba-tiba...
Brugh!
"Apa yang mau kau laku—"
Mata Marisa membulat sempurna, kala Kenzo membungkam ocehannya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang dalam, agresif dan begitu menuntut.
"Emph!!" Marisa berusaha melepaskan ciuman Kenzo, namun karena cara halus tidak mempan pada bosnya itu akhirnya dia pun menggunakan cara kasar.
"Aw!" seru Kenzo yang langsung melepaskan ciumannya dari Marisa, dan memegang bibirnya yang sudah berdarah.
"Apa kau itu shio Anjiing, Marisa...! Kenapa kau menggigitku?"
"What?! Yang benar saja, bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau menciumku, Kenzo Alexander!" seru Marisa yang sudah tidak lagi menggunakan embel-embel bos pada Kenzo.
"Kenapa? Sangat sederhana, karena aku ingin." Jawabnya enteng.
"Oh, benarkah? Kalai begitu—"
Duak!
"Aaarrggh!! Sakit...!" Kenzo memegangi benda pusakanya yang baru saja terkena tendangan pemutus keturunan dari Marisa, "Apa kau gila, Marisa!? Kenapa kau menendang asetku? Apa kau mencoba membuatku tidak bisa memiliki keturunan, hah!?"
"Kenapa? Simple saja, karena aku ingin." Balasnya dengan senyum devil yang sudah menghiasi wajahnya.
"Kau mulai berani kurang ajar pada bosmu sekarang?!"
"Bos? Oh maaf, tadi aku lupa kalau kau adalah bosku."
"Dasar bebek nakal...!" batin Kenzo.
Marisa berjalan tanpa rasa takut ke arah ranjang Kenzo, dengan tangan yang dia lipat di depan dada.
"Eh, kenapa dia malah ke sana? Apa dia mau menyerahkan dirinya padaku? Tapi bukannya tadi dia—" batinnya sambil menatap heran pada Marisa.
"Ku harap kau tidak sedang memikirkan hal kotor di dalam kepalamu, karena jika aku tahu ada pikiran kotor di sana maka itumu... akan menjadi almarhum hari ini juga." Ucap Marisa sambil menunjuk ke arah pusaka Kenzo.
Kenzo pun dengan refleks memegangi aset berharganya itu sambil menatap Marisa dengan was-was.
"Jadi bisakah aku mulai mengintrogasimu, tuan Kenzo yang terhormat?"
__ADS_1
"Mengintrogasiku?"
"Ya, pertanyaan pertama. Kenapa kau malah meminta hal tidak masuk akal itu pada tuan Gio?"
"Hal tidak masuk akal yang mana?" tanyanya yang pura-pura tidak tau.
"Tentu saja soal mempercepat hari pernikahan itu, kurasa kau belum demensia apalagi pikun kan, tuan Kenzo?"
"Ooh soal itu? Simple saja, karena aku—"
"Jangan mengatakan karena kau ingin!" sela Marisa.
"Cih! Tentu saja tidak. Aku meminta hal itu karena dia pasti akan segera datang dia jika mendengar kabar ini, dan... Bam! Semuanya akan selesai dengan satu kata darinya."
"Orang itu? Siapa?"
"Kau akan tau jika sudah saatnya."
"Baiklah, pertanyaan kedua. Kenapa sepertinya kau sangat suka menciumku? Berikan alasan yang jelas, atau—" Marisa sengaja menjeda ucapannya sambil memperagakan dia sedang mematahkan sesuatu, dan lebih mengerikannya lagi dia melirik ke arah pusaka Kenzo.
"Dasar psychopath!" gumamnya lirih, "Baiklah, aku akan jujur padamu."
"Katakan."
"Itu karena aku—"
"Siapa itu?" gumam Marisa.
Cklak!
"Kevin? Ada apa?"
"Aku hanya mau meminjam—" Mata Kevin membulat sempurna kala melihat Marisa berada di dalam kamar kakaknya, "Kalian... kalian... apa yang kalian lakukan? Apa kalian...?"
"Tunggu Kevin, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" seru Marisa, namun sayangnya Kevin sudah berlari menuruni tangga dan menuju ke lantai bawah. "Astaga sepertinya dia salah paham, bos kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin."
"Menjelaskan? Untuk apa, dan apa untungnya bagiku?" tanyanya dengan nada santai tanpa beban, "Justru akan bagus jika dia menyerah untuk mendapatkanmu lebih awal, Marisa." Sambungnya dalam hati.
"Hah? Benarkah kau tidak khawatir sama sekali kalai Kevin salah paham pada kita?"
"Tidak." Jawabnya singkat dan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Lalu keuntungan apa yang kau inginkan dariku, tuan Kenzo Alexander yang terhormat, tampan dan rupawan serta baik hati dan tidak sombong?" tanya Marisa dengan senyum terpaksanya, "Hueekk...! Haish... lagi-lagi gue ngibul? Tapi itu lebih baik daripada gue harus di cap sebagai pasangan kumpul kebo!" batinnya.
"Apa yang ku inginkan sebagai imbalan ya? Ehm, sangat sederhana."
"Apa itu?"
"Kemarilah! Aku akan membisikkannya."
Marisa pun tanpa pikir panjang berjalan mendekati Kenzo hingga jarak mereka cukup dekat.
"Sekarang katakan."
"Aku hanya ingin—"
"Ma..."
"Ada apa Kevin?"
"Ikut aku."
"Kemana? Mama kan lagi masak."
"Sebentar saja ma."
"Baiklah." Stella mematikan kompornya dan berjalan mengikuti Kevin.
Mereka naik ke lantai atas, dimana kamar Kevin dan Kenzo berada.
Dan di sinilah mereka berada sekarang, tepat di depan kamar Kenzo. "Ngapain kamu ajakin mama ke sini, Kevin?"
"Buka pintunya ma."
"Hah?"
"Buka saja, mama..."
"Sekaranglah saatnya." batin Kenzo setelah merasa inilah waktu yang tepat.
"Kai hanya ingin menciummu, lagi."
Kenzo menarik tengkuk Marisa, dan kembali mendaratkan ciumannya pada Marisa.
__ADS_1
Namun...
Brak!