My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 61


__ADS_3

...Jangan pernah menyimpan dendam...


...Karena itu hanya akan membuatmu terjerumus semakin dalam di lubang hitam....


...By : Rosemarry...


...*****...


"Uwaah...!" Marisa terkejut dengan Gea yang tiba-tiba berteriak, begitu juga degan Maria yang langsung berlari ke dapur.


"Ada apa Gea?" tanya Marisa yang baru saja datang.


"Iya Ge, lo kenapa sih? Kan cum sate doang, heboh banget."


"Ini sate enak banget...! Gue mau lagi..." Pinta Gea dengan wajah memohon pada Marisa.


"Ya udah nih makan." Marisa pun memberikan semua satenya pada Gea.


"Thanks Marisa..."


"Sama-sama. Tadi aja lo bilang kasihan sama itu kelinci, sekarang lo embat juga itu. Mana rakus banget lagi makannya." Cibir Marisa melihat cara Gea makan.


"Hehe... ya kan gue baru pertama kali makan sate kelinci imut ini."


"Ya udah deh, gue masak mi dulu. Lo abisin itu satenya." Madisa pun mengambil mi instan untuk dia masak dan Maria juga memilih untuk kembali ke kamar dan tidur.


Setelah acara makan malam yang absurd itu, mereka berdua pun tidur hingga pagi menyapa.


Saat Gea bangun, Marisa sudah berangkat lebih dulu sedangkan Maria masih bersiap di kamarnya.


"Loh, si Marjan udah berangkat?"


"Udah, baru aja. Lo istirahat lagi aja, lo kan baru keluar dari rumah sakit. Ntar kalo ada apa-apa lo telfon gue atau si Marjan aja, ok?"


"Siap 86!" canda Gea dengan sikap hormat benderanya.


"Good girl. Ya udah gue berangkat duluan ya, bye Ge..."


"Bye Mar, TTDJ ya..."


"Asiap." Maria mengacungkan jempolnya ke arah Gea kemudian masuk ke dalam mobil Johan yang sudah menunggunya.


Di depan sebuah rumah mewah itu, Marisa tengah menunggu Kenzo keluar namun ponselnya tiba-tiba saja bergetar.


Drtt...


Drtt...

__ADS_1


Drtt...


"Halo."


"Gue udah dapet hasilnya, orang itu—"


"Lo yakin kan?"


"Iya gue yakin 100% tapi gue masih bingung apa motif sebenarnya ini orang lakuin teror itu."


"Lo nggak usah pikirin soal itu, biar gue yang urus itu nanti. Btw thanks ya Sam lo udah bantuin gue."


"Biasa aja kali Mar, lo kan temen gue."


"Ok, makasih sekali lagi." Marisa yang mendengar langkah kaki pun segera mengangkat wajahnya, "Gue tutup dulu teleponnya, bos gue udah nyampe."


Setelah mengatakan hal itu, Marisa pun menutup sambungan telepon dan segera membukakan pintu untuk Kenzo.


"Dasar! Menelepon saat jam kerja? Betapa tidak profesionalnya." Sindir Kenzo setelah Marisa mulai menjalankan mobil itu.


"What?! Lo ngeraguin ke profesionalan gue?!" batin Marisa kesal, "Maaf bos, tadi aku hanya menerima telepon soal kasus teror itu. Dan ya... aku sudah tau siapa orangnya, hanya saja—"


"Benarkah? Hanya saja apa?"


"Hanya saja yang masih belum aku tau adalah alasan pasti orang itu melakukan teror, hanya bisa berdasar pada dendam mendalam orang itu padamu bos. Tapi apa pemicu dendam itu, aku masih belum mengetahuinya."


"Katakan padaku siapa, mungkin aku tau."


"What?! Azka?" raut wajah terkejut Kenzo tak bisa dia sembunyikan saat mendengar nama Azka.


"Kenapa bos? Kau mengenalnya?" Marisa melirik Kenzo dari pantulan spion.


"Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal."


"Apa dia teman lamamu bos?"


"Bisa di bilang begitu, tapi lebih tepatnya—"


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Getaran ponsel menghentikan ucapan Kenzo.


"Ya Arka?"

__ADS_1


"Aku baru saja melihat Azka."


"Kau serius?!"


"Bukan hanya serius, tapi jika perlu lima rius, enam rius, tujuh riu, atau bahkan sagitarius juga boleh."


"Ini bukan saatnya bercanda, Arka Leonard...!"


"Lagian aku mana mungkin mungkin bercanda soal hal seperti itu, Kenzo. Kau sendiri tau, kalau aku tidak akan pernah main-main menggunakan namanya."


"Dimana kau melihatnya?"


"Di dekat perusahaan, saat aku baru saja sampai tadi. Sepertinya dia sedang diam-diam mengamati perusahaan, tapi saat dia menyadari aku melihat ke arahnya dia kabur dan aku tidak bisa mengejarnya."


"Jadi benar, teror itu adalah ulahnya?" gumam Kenzo lirih.


"Ken?" sekali panggilan dari Arka tidak mendapatkan jawaban, "Kenzo...!"


"Astaga, kenapa berteriak!? Kau mau menghancurkan gendang telingaku?!"


"Siapa suruh kau mengabaikanku?"


"Tadi aku hanya sedang berfikir tentang apa yang baru saja Marisa dan kau katakan."


"Marisa? Memangnya apa yang dia katakan?"


"Dia bilang teror itu adalah ulah Azka."


"Hah!? Jadi anak sialan itu biang keroknya?!"


"Hm." Jawab Kenzo dengan gumaman singkat.


"Apa yang harus kita lakukan Ken? Tolong jangan penjarakan dia, bagaimanapun dia itu—" Arka berhenti dan tidak kuasa melanjutkan ucapannya.


"Kau tenang saja, aku tidak memenjarakannya."


"Terimakasih Ken."


"Sama-sama, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."


"Ok."


Tut...


Tut...


Tut...

__ADS_1


"Ee... maaf bos, apa kau benar-benar tidak ingin membawa kasus ini ke jalur hukum? Jika kau mau, aku bisa memberikan bukti-buktinya padamu."


"Hm... kurasa itu tidak perlu. Karena orang itu adalah—"


__ADS_2