My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 109


__ADS_3

"Jadi itu masalahnya?" tanya Kenzo setelah Marisa menceritakan masalah yang menimpa Maria, yang amat panjang kali lebar kali tinggi.🙂


"Ya, seperti itulah. Jadi rencananya aku akan menemui dia besok, masalah ini harus segera di selesaikan. Aku tidak mau Maria menderita," ucap Marisa.


"Memang sudah seharusnya begitu kan?"


"Ehm," jawab Marisa sambil mengangguk kecil.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Lagi pula semuanya sudah terjadi, kau juga sudah punya solusi terbaiknya."


"Benar, tapi aku masih merasa kesal dan kasihan pada Maria. Dia jadi tidak seperti Maria yang ku kenal, tadi saja dia sangat irit saat bicara. Aku hanya tidak terbiasa dengan Maria Yang seperti itu," ucapnya.


"Lalu, apa kau pulang dan menemani Maria? Atau mungkin kau mau meminta Maria tinggal di sini, agar kau bisa menemaninya?"


"Ehm... kupikir lebih baik biarkan dia menenangkan diri dulu, lagi pula dia tidak akan bertindak bodoh, dan itu sudah cukup."


"Baiklah. Sayang... kau butuh berapa asisten rumah tangga? Aku akan menyuruh Arka mencarinya."


"Satu saja cukup. Tapi harus di catat dan di garis bawahi juga di miringkan, atau kalau perlu di tebalkan sekalian! Aku mau asisten rumah tangga yang STT alias setengah tua, atau kalau perlu seumuran dengan nenek. Aku tidak mau ada pembantu rasa pelakor!"


Sontak saja hal itu membuat Kenzo tertawa terbahak-bahak, "Apa kau pikir aku ini mudah menyukai seseorang? Asal kau tau saja, kau adalah yang pertama dan aku juga akan membuatmu menjadi yabg terakhir, ok? Jadi jangan berpikiran yang buruk. Tapi untuk asisten rumah tangga yang STT, aku setuju karena biasanya mereka lebih berpengalaman."


"Kau memang yang terbaik!" Marisa mencubit kedua pipi Kenzo, seperti anak kecil.


"Astaga kenapa kau mencubitku, sayang... kalau kau ingin berterimakasih, maka lakukanlah dengan cara yang lebih baik."

__ADS_1


"Lebih baik? Seperti—" tanya Marisa.


"Menciumku misalnya, atau ehm... cium plus-plus?" goda Kenzo.


"Cium? Boleh saja, tapi cium plus-plus... apa kau lupa kalau aku sedang palang merah?" jawab Marisa dengan senyum menggoda pada Kenzo.


"Dasar rubah kecil...! Tunggu saja sampai tamumu pergi, aku akan membuat perhitungan denganmu! Bersiaplah untuk terus berada di atas ranjang selama tujuh hari tujuh malam!" Ancam Kenzo dengan seringai jahilnya.


"Tujuh hari tujuh malam? Kau pikir acara tahlilan orang meninggal?" ejek Marisa sambil menjulurkan lidahnya.


Kenzo yang gemas pun tanpa aba-aba langsung saja mendekati wajah Marisa, dan menangkap lidah menantang itu dan membelitnya.


Gurauan itu pun akhirnya berubah menjadi ciuman panjang. Yang semakin lama menjadi semakin menuntut, dan membuat nafas keduanya semakin memburu.


"Emmph..." Des*ahan Marisa, tertahan oleh ciuman yang Kenzo lakukan padanya.


Kenzo mulai mere*mas dan sesekali memilin-milin pucuk Marisa dari dalam sana, membuat Marisa menggeliat tidak karuan.


Namun hal itu, justru membuat Kenzo semakin menjadi karena merasa tertantang. Dia menaikkan baju Marisa dan membuat kedua bakpao yang menantang itu berada di depan matanya.


Tanpa berkata-kata, membaca ajian, ataupun mantra, Kenzo langsung menyambar kedua gunung kembar itu dengan mulutnya.


Dia benar-benar terlihat sangat menikmati apa yang tengah dia lakukan. Sedangkan Marisa, justru menekan kepala Kenzo untuk semakin tenggelam di antara dua benda kenyal miliknya.


"Emmph..."

__ADS_1


Kenzo menji*lat, menghi*sap, dan sesekali menggigit kecil pucuk merah muda itu, membuat Marisa menegang merasakan sensasinya.


"Aaaah..." Akhirnya suara laknat pun lolos juga dari bibir tipis Marisa, yang nampak basah akibat ulah Kenzo tadi.


Kenzo pun mendongakkan kepalanya, dan menatap Marisa dengan senyum jahil.


"Sayang... sudah cukup. Apa kau yakin, kau bisa menahannya...?" tanya Marisa dengan terbata, karena masih menahan sensasi dari perlakuan Kenzo padanya, dan juga nafasnya yang masih naik turun.


Kenzo pun menurunkan pandangannya, dan melihat Kenzo junior sudah demo di bawah sana. Terasa sesak karena Kenzo junior sudah berada dalam mode siap tempur.


Marisa pun terkekeh kecil, melihat ekspresi Kenzo.


"Selamat bersolo karir, sayang..." ejek Marisa dengan membisikkan kalimat itu, tepat di sebelah telinga Kenzo.


"Arrggh! Sial sekali...!" batin Kenzo, "Solo karir? Lagi?" gumam Kenzo dengan wajah lesu.


Marisa menepuk-nepuk pundak Kenzo, "Sabar, pepatah mengatakan, orang sabar itu hidungnya lebar," goda Marisa yang mendapat hadiah cubitan cinta di hidungnya dari Kenzo.


Kenzo pun segera turun dari ranjang. Namun dia langsung menggendong Marisa, dan membuatnya kaget.


"Aaa...! Apa yang kau lakukan?"


"Setidaknya kau bisa memandikanku, bukan? Anggap saja sebagai kompensasi," ucap Kenzo sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


"What!?"

__ADS_1


__ADS_2