My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 136


__ADS_3

Jangan lupa dukungannya guys😘


...******...


Kenzo dengan ekspresi datarnya, Mentari dengan senyuman manisnya, Lazarof alias suami Mentari sekaligus ayah dari si kembar Arka dan Azka dengan tatapan terkejutnya, juga Arka dan Azka dengan wajah yang tak kalah kagetnya dengan wajah sang ayah.


"Hai, sepupu." Sapa Marisa sambil melambaikan tangannya pada Arka, "Gue nggak nyangka, ternyata gue punya sepupu yang kembar juga."


"Aku juga. Ternyata dominic perempuan ini adalah sepupuku, benar-benar mengerikan," ejek Arka dengan begidik ngeri.


"Wow!" hanya satu kata yang keluar dari mulut Azka.


Kedua twin itu akhirnya mengerti arti dari gen keturunan. Keluarga yang memiliki riwayat anak kembar, memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki anak kembar. Dan sifat mereka berdua juga tidak jauh berbeda. Mereka berempat sama-sama humoris, tapi juga bisa galak dan dingin di saat yang tepat.


"Jadi ternyata selama ini aku memiliki 2 keponakan yang secantik ini? Sayang sekali aku baru bertemu dengan kalian sekarang," ucap Lazarof sembari berjalan menghampiri Marisa dan Maria, "Jadi, apa setelah ini kalian akan pulang ke rumah besar William, keponakan kembarku?"


"Tidak!" bukan Marisa, bukan juga Maria, melainkan Kenzo dan Johan yang menjawab pertanyaan itu dengan cepat.


Lazarof pun memandangi kedua pria itu dengan tatapan aneh. Namun saat melihat Kenzo, dia ingat kalau Kalau Mentari mengatakan jika Marisa dan Kenzo sudah menikah sekarang. Jadi itu alasan yang kuat bagi Kenzo untuk melarang Marisa tinggal di rumah keluarga besar William, yang artinya Marisa tidak tinggal dengannya. Benar-benar sesuatu yang tidak dapat dia terima bukan?


Namun saat dia memandang Johan, dia tak bisa menemukan alasan yang tepat, kenapa pria itu begitu tegasnya melarang Maria untuk pulang ke rumah keluarga William.


"Kami akan menikah," ucap Johan yang membuat keempat orang lainnya terkejut, kecuali Marisa dan Kenzo, "Hari ini." Dan setelah tambahan bumbu itu, Kenzo pun ikut terkejut.


Pasalnya dia tau jika Maria cepat atau lambat akan menikah dengan Johan setelah apa yang terjadi, tapi dia tak menyangka jika itu akan di laksanakan haru ini juga.


"Apa kau bercanda, nak? Bagaimana bisa menikah dadakan seperti tahu bulat begitu? Kita perlu menyiapkan segalanya dengan baik. Keturunan keluarga William tidak bisa menikah dengan sembarangan!" ujar Lazarof.

__ADS_1


"Maaf paman. Untuk saat ini, demi keamanan Maria hanya itu yang bisa kulakukan. Sebenarnya aku bisa menikahinya setelah masalahku selesai, tapi itu tidak adil untuknya dan anak kami. Jadi tolong restui kami, dan aku juga sudah mengatur semuanya. Semua hal yang di butuhkan untuk pernikahan hari ini, akan segera datang."


"Anak!?" seru keempat orang itu lagi serempak.


"Itu sebuah kecelakaan. Tapi cintaku padanya bukanlah sebuah kecelakaan, jadi tolong beri kami restu."


Lazarof dan Mentari masih terkejut dengan apa yang mereka dengar. Tapi jika dilihat dari situasinya, memang hanya itulah cara terbaik yang bisa mereka lakukan untuk saat ini.


"Om, tante, masalah resepsi itu bisa belakangan. Kenzo dan Marisa juga belum mengadakan resepsi resmi, kita bisa melakukannya bersama setelah masalah Johan dan Maria selesai."


"Good Idea." Marisa mengacungkan jempol pada suami tercintanya.


Akhirnya kesepakatan absurd itu pun tercapai. Dan ternyata benar, tak lama setelah kesepakatan itu tercapai, datang seorang perias dan juga penghulu.


Maria pun di dandani dengan cantik, hingga wajah pucatnya itu tak lagi terlihat. Dan prosesi itu pun berlangsung dengan hikmat, meski semua di lakukan serba mendadak.


"Aku baru bertemu dengan dua keponakanku, tapi sekarang mereka sudah harus pergi lagi?" gumam Mentari.


"Sabar sayang... mereka kan masih bisa main kapan saja ke rumah," hiburnya.


"Jo, lo harus cepat selesaiin semua urusan lo. Kalau lo gantungin Maria terlalu lama, kedepannya lo yang bakalan gue gantung!" canda Marisa.


"Tenang aja Mar. Semja udah ready kok, tingga langkah terakhir. Tapi gue bantuan lo sama laki lo, boleh?"


"Nggak masalah, apapun demi Maria," jawab Marisa.


"Thanks."

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Maria sudah di izinkan untuk pulang dan rawat jalan. Johan membawanya ke rumahnya, rumah yang dia beli sebelum dia mengatur pernikahannya dan Maria.


"Kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Maaf jika rumahnya kecil, tapi memang ini lebih aman untuk sekarang."


"Kecil? Yang sebesar ini kau bilang, kecil? Ternyata aku benar-benar tidak mengenalmu sama sekali selama ini," Maria menggelengkan kepalanya.


Pasalnya, rumah yang kini sudah ada di depan matanya ini cukup besar. Bahkan tiga kali lipat lebih besar dari rumah yang dia tempati selama ini, dan Johan masih bilang ini kecil? Benar-benar orang kaya mah bebas!


Maria pun masuk ke dalam rumah itu, dan ia terperangah saat melihat dekorasi di dalamnya. Kenapa? Karena semua itu sesuai dengan rumah impiannya.


"Apa kau mencatat semua yang kukatakan tentang rumah impianku?" canda Maria, namun tanpa dia duga Johan justru mengangguk mengiyakan.


Maria benar-benar di buat terharu dan kagum denagn perhatian Johan padanya. Ternyata selama ini Johan selalu menanyakan apa yang dia suka dan apa yang dia tidak suka, itu bukan hanya sebuah keisengan atau kegabutan belaka. Melainkan sebuah rencana untuk membuatnya menjadi nyata, pada saatnya.


"Bagaimana, sayang... Apa kau suka?"


"Suka? Kau bercanda? Tentu saja aku suka, sangat suka!" Maria berbalik untuk menghadap Johan, tapi dia terkejut saat mendapati Johan begitu dekat dengannya.


Maria pun nampak malu dan tersipu saat melihat wajah tampan Johan yang memandangnya lekat. Johan yang menyadari bahwa wanitanya itu tengan tersipu malu pun, merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa menikahi gadis yang begitu di cintainya, dan melihat sifat asli Maria yang ternyata begitu mudah tersipu.


"Apa sudah cukup melihatnya, sayang? Apa aku terlalu tampan, sampai membuatmu tidak bisa berhenti menatapku?" goda Johan sembari perlahan melangkah maju mendekati Maria.


Maria tanpa sadar berjalan mundur satu langkah, setiap Johan maju mendekat ke arahnya satu langkah. Hingga akhirnya dia terpojok, saat pantat sexynya mengenai piano yang ada di ruangan itu.


Johan tersenyum jahil ke arah Maria, kemudain berbisik, "Ternyata wanitaku ini begitu pemalu?"


Seketika itu juga, tubuh Maria meremang kala hembusan nafas Johan menerpa leher jenjangnya yang putih itu.

__ADS_1


"A-aku juga baru tau kalau kau ternyata sangat dominan, sepertinya kau memang di takdirkan untuk menjadi seorang CEO yang mendominasi," balas Maria dengan tergagap.


__ADS_2