My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 9


__ADS_3

..."Sah-sah saja jika kau mau memperjuangkan cinta. Tapi ingatlah harga diri tetap harus di jaga."...


...By: Rosemarry...


...******...


"Aww!"


Marisa memegangi kupingnya, "Kenapa kuping gue tiba-tiba jadi panas?! Apa jangan-jangan si Markonah udah bangun, terus liat lemarinya yang gue acak-acak?" batinnya, "Apa dia ngamuk terus maki-maki gue, makanya kuping gue jadi panas gini?"


Marisa membayangkan wajah marah saudari kembarnya itu saat bangun tidur, dan melihat kekacauan yang dia buat di kamar mereka.


"Bodo amat deh, paling juga dia cuma khotbah! Ceramahin gue berjam-jam, kayak guru BK yang suka ngomelim gue dulu pas sekolah." Marisa pun menggedikkan bahunya tidak perduli.


"Mendingan gue rayain hari ini, mari kita makan BBQ sepuasnya!" Marisa mengedarkan pandangannya mencari restoran BBQ di dekat sana.


Dan beruntungnya tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat satu restoran BBQ yang buka, mata Marisa pun berbinar kala melihatnya.


Tanpa pikir lama Marisa pun menuju ke restoran itu.


Dia berjalan masuk dengan terburu-buru ke dalam restoran, karena cacing-cacing pita di perutnya yang sudah demo sedari tadi minta di beri makan.


Bruk!!


"Aww! Sakit!" Marisa mengusap-usap kepalanya yang baru saja menabrak dagu seseorang.


Sesaat setelahnya, terdengar suara bariton yang menanyakan keadaan Marisa, "Kamu nggak apa-apa kan?"


"Hm, nggak apa-apa cuma benjol doang dikit." Marisa pun mengangkat wajahnya, untuk memperhatikan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


"Benjol? Cewek yang menarik!" batinnya.


"Maaf tadi gue buru-buru, soalnya cacing pita di perut gue udah paduan suara minta makan. So, lo bisa minggiran dikit kan? Soalnya lo ngalangin jalan masuk." Marisa menunjuk ke arah pintu.


"Sorry, tadi aku juga jalan sambil fokus lihat ponsel makanya bisa tabrakan sama kamu."

__ADS_1


"No problem, sekarang lo bisa minggir kan? Sebelum cacing di perut gue mulai ganti paduan suara mereka jadi konser rock, dan sebentar lagi mereka bakalan mulai aksi anarkisnya di dalam sana kalau gue nggak buru-buru bungkam mereka."


Dia pun sedikit menggeser tubuhnya dari pintu masuk, sambil terkekeh dengan lawakan gopek alias recehnya Marisa itu.


"Bisa aja sih kamu, gimana kalau aku traktir kamu makan sebagai tanda permintaan maaf?" tawarnya pada Marisa.


Tanpa ragu Marisa pun mengiyakan tawaran aji mumpung itu, karena bagi seorang Marisa Agatha tidak pernah ada kata menolak makan gratis.


"Tidak ada kata tidak untuk makan gratis. So pasti gue mau, lagi pula rejeki itu nggak boleh di tolak." Mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran BBQ itu bersama, dan memilih duduk di pojokan dekat jendela.


"Pelayan!" panggil pria itu pada pelayan restoran.


Pelayan itu pun berjalan menuju ke tempat dimana Marisa dan pria itu duduk.


Pelayan itu menyerahkan buku menu pada pria itu, "Ini menunya tuan."


"Kamu aja yang pilih, soalnya aku sudah makan tadi." Dia menyodorkan buku menunya pada Marisa.


"Ok, gue mau ini, ini, ini, ini, ini, sama ini." Marisa menunjuk semua menu yang dia inginkan tanpa ada rasa malu dan ragu.


"Ooo tentu, gue kan nggak lagi diet. Dan kebetulan juga hari ini gue lagi mau ngerayain kelolosan interview gue." Marisa pun menarik nafas, sebelum melanjutkan kembali ucapannya yang sepanjang struk tagihan hutang punya si author, "So, lo nggak keberatan kan? Kalau lo keberatan gue bisa kok bayar makanan gue sendiri." Ucap Marisa dengan penuh ekspresi.


"Jadi kami baru aja lolos interview? Kalau gitu aku ucapkan selamat untukmu kamu, dan aku tidak keberatan sama pesanan kamu, Kalau kamu mau kamu juga boleh tambah lagi kok, atau mau bungkus juga boleh."


"Beneran? Kalau gitu gue mau bungkus buat kakak gue juga di rumah." Marisa pun teringat dengan Maria yang ada di rumah, dan dia pasti belum makan.


"BBQ ini bakalan jadi penyelamat gendang telinga gue pas gue sampe rumah nanti." batin Marisa yang berencana menyogok Maria dengan BBQ.


Setidaknya agar Maria melupakan rencana ceramahnya yang panjangnya mengalahkan khotbah hari raya itu.


"Sure! Pesan saja apapun yang kamu mau, btw kita belum kenalan. Nama kamu..." pria itu sengaja menjeda ucapanya, dan menunggu Marisa menyebutkan namanya.


"Marisa, nama gue Marisa." Marisa pun mengulurkan tanganya pada pria itu, dan di sambut dengan senang hati olehnya.


"Marisa? Nama yang cantik, secantik orangnya. Namaku Antonio, kamu bisa memanggilku Antonio atau sayang juga boleh." Antonio pun terkekeh dan menerima uluran tangan Marisa.

__ADS_1


"Kayaknya mending gue panggil lo Antonio aja deh, kalo gue panggil lo sayang takutnya fans garis keras gue di luaran sana bakalan nangis bombay." Marisa menjawabnya dengan candaan recehnya.


Tak berselang lama, pelayan yang mengantarkan pesanan mereka pun akhirnya datang.


Mereka pun memulai acara makanya. Eh ralat! Maksudnya Marisa yang memulai acara makanya, karena Antonio cuma melihat Marisa makan sambil mengajaknya mengobrol ringan.


Setelah Marisa menyelesaikan makan dan juga pesanan yang mau dia bawa pulang, dia pun berpamitan pada Anton. SMP, sudah makan pulang.🤣


"Btw, thanks buat traktirannya ya Antonio. Sampai ketemu lagi lain kali!" Marisa pun melenggang pergi meninggalkan Antonio.


Marisa menenteng dua kantong plastik di kanan dan kirinya, yang akan menjadi barang suap untuk Maria agar tidak mengomelinya.


"Sampai jumpa lagi Marisa!" Anton pun melambaikan tanganya ke arah Marisa yang sudah berjalan menjauh darinya.


Namun saat dirinya baru saja akan melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, dia baru mengingat sesuatu.


"Sial! Kenapa aku tadi nggak minta nomor teleponnya dulu?!" gerutunya yang baru ingat, seharusnya tadi dia meminta nomor telepon Marisa lebih dulu sebelum mereka berpisah.


Tapi mau bagaimana lagi, Marisa juga sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya saat ini.


"Haih, sudahlah! Kalau berjodoh semesta pasti akan mempertemukan kita lagi, Marisa." Antonio pun masuk ke sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Marisa berjalan menghampiri taksi yang terlihat tengah parkir tidak jauh darinya saat ini.


"Pak, narik nggak?" tanya Marisa pada si sopir taksi yang tadinya tengah tertidur.


"Iya neng." Sopir itu pun segera menjalankan kendaraannya, setelah Marisa masuk ke dalam mobil.


Beberapa puluh menit kemudian, taksi yang Marisa tumpangi sudah sampai di depan halaman rumahnya.


Marisa pun membayar ongkos taksi sesuai angka yang tertera di argo, "Ini pak ongkosnya."


Rengek Marisa dalam hati, "Mahal... tapi gak apa-apa deh, daripada gue harus nyium batek lagi!" Marisa pun melenggang masuk ke rumahnya.


Cklak!

__ADS_1


"Marjan!!"


__ADS_2