
"Loh? Arka?" sapa seorang wanita, saat melihat Arka turun dari motor Gea.
Arka yang merasa namanya di panggil pun menoleh.
"Itu siapa?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Gea.
"Halo kak, kenalin. Namaku Gea, calon adik ipar kakak," sambar Gea dengan senyum pepsodentnya.
Arka pun hanya bisa melongo menatap tidak percaya pada Gea. Betapa percaya dirinya bocil yang satu ini, bahkan dengan lantangnya mengatakan calon adik ipar?
"Benarkah?" tanyanya, sambil melirik ke arah Arka.
"E-ekhem! Dia itu hanya mengada-ada ma, jangan di anggap serius ucapan si bocil satu ini.
"Aku ini serius, Arka...!" ucap Gea dengan bibir manyunnya. Namun sedetik kemudian dia melongo, saat ingat panggilan apa yang Arka sematkan pada wanita cantik itu, "Tunggu! Tadi kau memanggilnya... apa?"
"Mama!" ulang Arka dengan penekanan.
"J-jadi kakak cantik ini..."
"Saya mamanya Arka, senang berkenalan denganmu, calon menantuku," sahutnya sambil tersenyum manis pada Arka.
"Eee... maaf ya tante, tadi Gea kira tante itu kakaknya Arka. Soalnya tante masih muda banget, mana cantik lagi," ujar Gea dengan wajah memerah menahan malu.
"Siapa suruh sok tau," ejek Arka.
"Ya siapa juga yang nyangka kalau mama kamu masih keliatan muda dan cantik gini..." umpat Gea dengan suara lirih.
"Namamu, Gea kan? Ayo masuk dulu," ajaknya pada Gea.
"Makasih, tante."
"Nggak usah ma."
Ucap keduanya serempak namun dengan jawaban yang berbeda.
"Arka... kamu nggak boleh gitu."
"Gea itu sibuk ma, dia pasti banyak kerjaan, iya kan Ge?" tanya Arka dengan tatapan mengancam pada Gea.
Namun Gea sama sekali tak terpengaruh, "Enggak kok tante, kalo buat tante. Gea punya buanyak banget waktu," ucap Gea sambil memperlihatkan senyum manisnya, kemudian menjulurkan lidahnya pada Arka, "Bweek!" ejeknya.
"Ya sudah ayo masuk," dia menggandeng tangan Gea dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Dasar bocil...!" umpat Arka geram, "Kenapa jadi aku yang terlupakan? Yang anaknya itu kan aku? Kenapa jadi aku yang di tinggalin?" gumamnya menatap sang mama, yang malah menggandeng Gea, dan bukan dirinya.
Gea pun melangkah masuk ke dalam rumah Arka. Rumah yang cukup besar dan mewah, namun Gea tak nampak terpana dengan rumah besar itu, dia tetap bersikap biasa.
"Loh mama, itu siapa?" tanya suaminya, saat melihat Gea.
"Ini calon mantu kita, pa," ucapnya sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
"Yang bener? Rupanya si Arka beneran lurus? Kirain papa, Arka itu belok," celetuknya.
"Arka denger itu, pa..." seru Arka yang berjalan di belakang kedua wanita itu.
"Memangnya kenapa? Kamu kan memang tidak pernah dekat dengan perempuan, cuma ada Kenzo, Kenzo, Kenzo. Makanya papa pikir, kau itu suka pada Kenzo!" candanya.
"Ada apa ini, kok rame?" sahut seseorang yang sedang menuruni tangga.
Gea pun mengalihkan pandangannya pada pria itu, "Loh? Kok Arka ada... dua!?" gumamnya.
Azka pun berjalan menghampiri Gea dan berbisik, "Aku Azka, bukan Arka."
"Azka? Maksudnya, kalian kembar? Wow! Amazing!" seru Gea dengan wajah polosnya.
"Imut," gumam Azka.
"Jaga matamu!" ucap Arka, memandang Azka dengan tidak suka.
"Kenapa? Bukannya dia memang imut?"
"Ternyata matamu lebih sehat dari pada kembaranmu. Dia bahkan tidak bisa melihat keimutanku ini, dan terus memperlakukanku seperti kuman!" ucap Gea dengan bibir manyun.
Papa dan mama Arka pun, tertawa geli melihat tingkah Gea. Benar-benar gadis yang lucu, dan apa adanya.
"Benarkah begitu? Kalau begitu, bagaimana jika kau denganku saja? Aku juga single, dan aku lebih ramah dari dia," ucap Azka, sambil memandang Arka yang wajahnya sudah sangat tidak bersahabat.
Padahal Azka hanya bercanda, tapi tatapan tidak suka dari Arka itu nyata.
"Dasar tidak punya pendirian!" umpat Arka sambil berlalu dan naik ke lantai atas.
"Azka... kau ini suka sekali mengganggu kakakmu," ucap Mentari sambil geleng-geleng kepala.
"Habisnya seru ma," ujar Azka sambil terkekeh, "Hey, calon kakak ipar. Sana susul pangeranmu."
"Siap 86, adik ipar!" seru Gea, "Ehm... tante, om, apa Gea boleh susulin Arka?" tanya Gea dengan sedikit canggung.
"Boleh," jawab Mentari.
Sedangkan Bara hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Makasih, om... tante..." Gea pun langsung menyusul Arka ke kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Arka... aku masuk ya?"
"Nggak!" seru Arka dari dalam. Meskipun Gea mendengarnya, bukan Gea namanya jika dia menurut begitu saja.
__ADS_1
Cklak!
"Buat apa izin segala? Sudah tidak di perbolehkan masih juga kau masuk, kalau begitu kau tidak perlu izin!" umpat Arka.
"Baiklah... mulai sekarang dan seterusnya, aku bisa masuk ke kamarmu tanpa izin. Terimakasih," ucap Gea yang membuat Arka melongo tidak percaya.
Terbuat dari apa muka dan otak gadis imut di sampingnya itu? Dia sangat percaya diri, dan cara dia mengartikan kata-kata benar-benar lain dari yang lain.
"Aku bukan memberimu izin untuk bisa masuk ke kamarku seenak jidatmu! Kau ini sebenarnya mau apa...?"
"Aku mau menjadi istrimu," ucap Gea dengan entengnya, sambil memamerkan senyum pepsodentnya.
"Dasar gila!" ledek Arka.
"Ya, aku memang gila. Tergila-gila denganmu," ucap Gea yang kemudian terkekeh.
"Mana ada perempuan yang mengatakan hal seperti itu dengan lancar tanpa hambatan seperti jalan tol, begitu? Harusnya kau bisa menjaga harga dirimu...!"
"Harga diriku yang mana, yang tidak ku jaga?"
"Terserah kau saja."
Gea pun berjalan dan melihat-lihat isi kamar Arka, dan perhatiannya jatuh pada foto Arka dan Azka saat masih kecil.
"Ini foto kalian berdua, kan? Kau yang mana? Yang ini, atau yang ini?" tunjuknya pada foto dua anak laki-laki kembar.
"Yang—"
"Aa... aku tau, kau pasti yang ini kan? Wajah cemberutnya sudah memberitahuku kalau yang ini adalah kau," sahut Gea, "Karena yang ini, tersenyum. Dia terlihat lebih tampan."
"Kalau begitu, pergilah. Cari saja dia!" ujar Arka dengan wajah masam.
"Tunggu! Apa kau cemburu?" goda Gea sambil mendekat pada Arka, dia membungkuk di depan Arka yang dalam posisi duduk.
"Cih! Siapa juga yang akan cemburu dengan pucuk daun cabe sepertimu?!"
"Ayolah... jangan berbohong. Mukamu itu sudah mengatakan dengan sangat jelas, bahwa kau sedang, CEM BU RU."
"Aku tidak cemburu!" tegas Arka.
"Kau cemburu!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Aku bilang aku tidak—" Arka menarik tangan Gea dengan kesal. Namun Karena posisi Gea hal itu pun membuatnya terjatuh ke depan.
Dan mereka berakhir dalam posisi yang... ehm... posisi yang sangat, wow! Gea berada di atas tubuh Arka dengan bibir mereka yang saling menempel.
"Ekhem!"
__ADS_1