
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya guys😘
yang punya kembang setaman boleh di lempar🤣
yang punya secangkir kopi boleh di bagi, jangan di lempar juga, apalagi di sembur, jangan!😉😘😘
...******...
"Apa jangan-jangan dia...!?" Marisa mengepalkan erat-erat tangannya, dan menatap Marisa dengan tatapan marah yang begitu kentara.
Maria yang sudah selesai dengan urusannya pun segera beranjak, untuk kembali ke mobil. Namun dia begitu terkejut saat mendapati Marisa yang sudah berkacak pinggang di depannya.
"Ikut gue!" serunya sambil menarik kasar pergelangan tangan Maria.
"Apaan sih Mar? Lo itu kenapa? Sakit tau!?" tanya Maria yang merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Sesampainya di mobil, Marisa malah menyuruh Kenzo untuk keluar.
"Sayang, aku pinjam mobilmu sebentar saja," ujar Marisa dengan senyum manis untuk sang suami, "Aku ada hal penting untuk di bicarakan dengan saudari setali puserku ini!" sambungnya penuh penekanan sambil melirik pada Maria.
"Sial! Apa Marisa tadi liat apa yang gue beli?!" batin Maria.
"Oh, ok." Kenzo pun keluar dari mobil dan memberikan ruang untuk twin itu berbicara empat mata.
"Sebenarnya lo itu kenapa sih Mar? Kenapa laki lo pakai di usir segala coba?"
"Karena gue butuh penjelasan dari lo! Secara singkat, padat dan jelas!"
__ADS_1
"Maksud lo?" tanyanya.
"Apa yang tadi lo beli? Jawab!"
"Gue? G-gue cuma beli obat masuk angin biasa kok, apaan sih? Aneh banget lo Mar."
Marisa langsung mengambil bungkusan itu dari tangan Maria dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Ini yang lo bilang obat masuk angin? Di mana-mana ini namanya alat, Markonah! Bukan obat! Lo mau coba-coba sembunyiin hal sepenting ini dari saudara setali puser lo!?" tanya Marisa.
Barang-barang yang Maria beli benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Maria sampai bisa terpikirkan dengan ide buruk semacam itu. Benar-benar tak seperti karakter Maria.
Maria pun hanya terdiam dan membisu di hadapan Marisa. Dia tak bisa lagi mengelak dari semua pertanyaan kembarannya itu. Entah alasan apapun yang dia lontarkan, tak akan membuat Marisa mengalah pada feelingnya. Marisa sangat peka terhadap apapun yang Maria katakan, dia tak akan percaya dengan mudah. Terlebih jika dia sudah memiliki firasat atau praduga lebih dulu, maka dia hanya akan menyerah, jika Maria sudah benar-benar mengatakan yang sejujurnya.
"Mungkin kalau lo cuma beli ini, gue masih bisa terima karena gue emang udah tau kejadiannya. Tapi ini apa Maria...!! Lo gila!? Lo mau pakai barang ginian!? Sumpah gue kecewa banget sama lo!" seru Marisa dengan marah.
Benda laknat itu, benar-benar sukses membuat emosi Marisa naik sampai ke ubun-ubun.
Maria pun hanya menunduk dan menangis dalam diam. Dia meremas ujung bajunya dan berusaha sekuat mungkin menahan suara tangisnya.
Dia pun juga sadar, apa yang tadinya ingin dia lakukan adalah hal yang salah. Tapi dia juga tidak tau lagi, apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar bingung dan kalut memikirkan masalahnya saat ini.
"Jelasin ke gue, kenapa lo sampe kepikiran buat ngelakuin hal sekonyol itu!" ujar Marisa.
Maria pun akhirnya menjelaskan semuanya. Dia mencurahkan semua isi hatinya, pada Marisa. Bahkan air mata sudah mengalir dengan deras di kedua pipinya.
Dalam hati, rasanya Maria ingin menjerit. Rasanya dia ingin menanyakan pada Tuhan, apakah kesalahan yang sudah dia perbuat? Kenapa dai harus mengalami hal ini? Kenapa? Kenapa harus dia?
__ADS_1
Sedangkan Kenzo hanya bisa menunggu dengan sabar, perbincangan panjang lebar istri dan kakak iparnya itu.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Apa masih masalah waktu itu?" pikir Kenzo.
Kenzo mengetikkan sebuah pesan pada neneknya. Dia mengatakan, jika mereka akan datang sedikit lebih lambat dari yang di rencanakan.
Dan untungnya Riana mau mengerti, dan menerima alasan yang Kenzo berikan padanya. Lagipula yang dia terpenting untuknya saat ini, adalah bisa bertemu dengan Marisa dan Maria.
Beberapa menit kemudian, Marisa pun menghela nafas pasrah. Sekarang dia mengerti, kenapa tadi Maria sampai ingin melakukan hal nekat semacam itu.
Marisa benar-benar mengerti bagaimana perasaan Maria saat ini. Bagaimana bingung dan tertekannya dia, karena dia juga merasakan hal yang sama. Meskipun masalah Maria tak berhubungan secara langsung dengannya, tapi kontak batin mereka benar-benar kuat.
"Ok, gue ngerti sekarang apa yang lo rasain. Tapi lo jangan jadi to*lol dong Mar, tunggu tenggat waktu yang gue kasih ke dia habis. Kalau semua nggak berjalan sesuai rencana, gue sendiri yang bakalan turun tangan dan urus itu orang." Jelas Marisa.
"Ok, gue seneng punya adek kayak lo. Ya... Meskipun lo suka ngeselin, galak, banyak tingkah—"
"Lo itu mau muji atau ngehina gue? Mana ada orang muji dikit tapi ngehinanya banyak," celetuk Marisa sambil mencibir ke arah Maria.
Maria pun terkekeh melihat ekspresi adiknya itu.
"Mar, buruan tuh suruh laki lo masuk. Ntar keburu ngabar (menguap) lagi, kelamaan kena angin sama panas," canda Maria.
"Anjir, lo pikir laki gue kapur barus. Pake segala ngabar," balas Marisa dengan bibir manyun.
Marisa pun membuka pintu mobil dan menyuruh Kenzo masuk. Namun baru saja Kenzo memutari mobil dan akan masuk ke dalam, tiba-tiba saja ada motor yang melaju kencang kearahnya.
"Kenzo, awas!" seru Maria yang dengan sigap langsung mendorong Kenzo menjauh, namun naasnya justru Maria yang terserempet sepeda motor itu.
__ADS_1
"Maria!"