My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 76


__ADS_3

...Aku tidak tau apakah kamu akan menjadi yang terakhir untukku, tapi yang ku tau untuk saat ini aku hanya menginginkanmu....


...By : Rosemarry...


...*****...


Untuk sesaat mereka saling tenggelam dalam pikiran masing-masing, "Ya Tuhan... selama ini aku tidak pernah sangat menginginkan sesuatu, tapi kali ini ku mohon... berikan malaikat ciptaanmu ini padaku," batin Gea.


"Stop! Stop! Stop, Arka! Jangan gunakan otak bawahmu untuk berfikir di saat begini, come on Arka..." batin Arka.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" batuk epic sang sopir taksi pun membuat kedua insan di jok belakang itu kembali ke kenyataan.


"Ekhem! Tadi kau bilang apa, Gea?"


"Em... a-aku memohon padamu untuk tidak bilang pada Marisa kalau aku sudah mulai bekerja hari ini, atau akan di makan hidup-hidup olehnya," Gea memanyunkan bibirnya sambil menunduk malu.


"O-oh baiklah, lagi pula aku juga tidak berani dekat-dekat dengan Marisa," jawabnya, "Atau aku akan di kirim ke hutan Amazon untuk bertamu di rumah keluarga conda." Sambungnya.


"Maksudnya?" tanya Gea bingung.


Tidak mungkin bukan kalau Marisa yang akan mengirimnya ke hutan Amazon?


"Tentu saja karena dia adalah calon nyonya bosku," ceplosnya.


"Nyo-nyonya bos?" mata Gea membulat sempurna.


"Eh? J-jadi kau belum tau? K-kalau begitu lupakan saja, itu hanya gurauan belaka hehe..." Kilah Arka, "Oh shitt! Ternyata Marisa belum memberitahu temannya tentang hal itu?! Sial...! Apa aku akan jadi samsak tinju hari ini...?" rengek Arka dalam hati.


"Tidak bisa! Ceritakan padaku sekarang, atu aku akan... ehm..." Gea nampak berfikir sejenak.


"Akan apa? Kau akan menendangku keluar dari taksi ini?" tanya Arka menantang.


"Tentu saja tidak! Sayang sekali jika cogan sepertimu harus di lempar keluar, bukankah akan lebih baik kalau aku membawa pulang? Mungkin bisa jadi pajangan di apartemenku."


"Kau ini ada-ada saja," Arka terkekeh pelan mendengar kekonyolan Gea.


"Kalau tidak bisa jadi pajangan, jadi suami pon boleh." Celetuk Gea asal.


Tak!


"Aww!" Gea mengelus-elus keningnya yang baru saja di sentil oleh Arka.


"Perempuan tidak boleh bercanda sembarangan tentang pernikahan."


"Siapa juga yang bercanda, aku ini serius! Kalau perlu bukti nyata, kita bisa menikah sekarang juga!" seru Gea dengan bibir manyun.


"Dasar kucing kecil nakal." Arka mengacak rambut Gea dengan perlahan.


"Cih! Dia malah memperlakukan aku seperti anak kecil?!! Tunggu saja kau tidak akan bisa lepas dari tanganku, Gea Cantika Atmajaya," batin Gea.

__ADS_1


"Gea, apa kau tidak masalah kalau harus mengantarku lebih dulu? Apa kau tidak akan terlambat?"


"Tidak masalah," jawab Gea, "Memangnya siapa yang berani memarahiku, hehe..." kekehnya.


"Mungkin tidak ada yang berani memarahimu karena kau sedikit... ehm... galak rawr!" ejek Arka.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Gea memukuli lengan Arka dengan kuat, namun sayangnya tenaga lembeknya itu tak berarti sama sekali untuk Arka.


"Apa kau belum sarapan? Tenagamu lembek sekali," ejeknya.


"Sombong amat! Memangnya kau itu sekuat apa?"


"Ehm... kau busa buktikan sendiri, tapi aku tidak janji untuk tidak membuatmu terkapar di ranjang seharian." Godanya dengan candaan 21+


"Dasar mesum!"


"Mesum teriak mesum, kau saja mengerti apa maksudku. Jangan bilang tidak ada jutaan piktor-piktor kecil di otakmu ini." Arka menyentil kening Gea untuk kedua kalinya.


"Biarin bweek... aku ini sudah cukup umur,"


"Iyain aja deh biar kelar." Jawabnya sambil terkekeh kecil.


"Tentu saja, jika aku juga orang yang dingin kurasa di kantor hanya akan hawa mencekam setiap harinya."


Mereka pun tertawa bersama dan membuat mereka terlihat layaknya kawan lama, padahal mereka baru berjumpa 2 kali dan belum terlalu kenal satu sama lainnya.


Mobil yang Kenzo dan Marisa tumpangi, kini baru saja sampai di depan gedung perusahaan, "Bos... bos... kita sudah sampai," Marisa membangunkan Kenzo.


"Em? Sudah sampai?" Kenzo pun segera bangkit dan keluar dari dalam mobil dan di susul oleh Marisa.


Namun saat Marisa baru saja hendak berdiri saat keluar dari mobil, kakinya terasa kesemutan karena terlalu lama menjadi bantal kepala untuk Kenzo.


"Aww!" seru Marisa dengan tubuh yang limbung dan hampir saja terjatuh. Ya, hampir. Karena belum sampai tubuh Marisa jatuh dengan terhormat di tanah, Kenzo sudah dengan sigap menahan tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa?"


Marisa pun segera berdiri dan tidak ingin berlama-lama dalam posisi yang bisa menimbulkan fitnahan epic para people +62.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit kesemutan."


"Ooh... ok," ucapnya singkat.


Belum sempat Kenzo melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaannya, telepon yang dia letakkan di dalam sakunya bergetar menandakan adanya telepon masuk.

__ADS_1


Kenzo mengernyitkan dahinya kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya, "Halo?"


"Kenzo, tolong segera datang ke rumah sakit Pratama."


"Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit, tuan Wilson?"


"Tuan Wilson? Bukankah dia itu ayahnya Raisa?" batin Marisa kala mendengar Kenzo menyebutkan nama Wilson.


"Baik, saya akan ke sana sekarang."


Setelah tuan Wilson menutup teleponnya, Kenzo pun menghubungi Arka.


"Halo, Arka?"


"Siapa?" tanya Gea dengan isyarat.


"Bos," jawab Arka dengan isyarat pula, "Ya, bos."


"Aku ada urusan sebentar, jadi tolong urus semuanya sampai aku kembali."


"Tapi urus—"


Tut...


Tut...


Tut...


"Damn! Dasar kanebo kering minus akhlak! Hobi sekali mematikan telepon seenak udel!" umpat Arka yang memancing tawa Gea.


"Marisa, ikut aku."


"Dengan senang hati, bos!" Marisa tampak senang, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang yang hampir mencelakainya semalam.


"Kenapa kau terlihat sangat bahagia?"


"Eh? Mungkin karena melihat ketampanan bos yang tiada duanya ini," kilah Marisa yang tanpa dia sadari membuat Kenzo senang, meskipun tidak dia perlihatkan dengan ekspresi.


Mereka pun bergegas kembali ke dalam mobil dan berangkat menuju rumah sakit Pratama.


Di sisi lain...


"Jadi dia bukan pacarmu? Hahaha... bahkan sepertinya tuhan memihak padaku, Kenzo!" gumamnya dengan wajah licik yang menjijikkan.


"Hari itu juga sepertinya tidak ada yang terjadi, tuan. Karena beberapa menit setelah nona Marisa masuk, seorang dokter juga tampak masuk ke kamar itu. Jadi bisa dipastikan jika Kenzo sembuh karena di obati oleh dokter itu, dan bukan karena nona Marisa," jelasnya.


"Hahaha... bagus! Sangat bagus! Marisa... tunggu aku."


Seringai mengerikan kembali terbit di wajah tampannya.

__ADS_1


...Yuhuuu 🥳 update ke dua, di hari ini. Jangan lupa tinggalin cap jempolnya sebagai karcis parkir....


Author akan update 3 bab setiap hari. Jam 01:00, jam 10:00, dan jam 17:00 ya guys😘🥰😍


__ADS_2