
...Ketika keadaan memaksamu untuk berlutut...
...Itulah saat yang tepat bagimu untuk bersujud...
...Karena sejatinya, Tuhan tidak pernah menutup mata dengan kesulitan para hamba-Nya....
...By : Rosemarry...
...*****...
Marisa melongo kala melihat Arka yang ikutan tumbang di dalam sana.
"Lalu, tuan ini kenapa nona? Karena sepertinya dia juga pingsan." Tanya suster yang memang sengaja tinggal, karena mengira Arka juga adalah pasien yang butuh penanganan segera.
"Ehm... jadi begini, sus." Marisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Sepertinya dia mabuk darat sampai pingsan, jadi tolong tangani dia juga ya. Karena saya harus menunggu teman saya yang tadi, terimakasih sus." Marisa pun berlalu tunggang langgang masuk ke dalam untuk menyusul Gea yang di bawa ke ruang UGD.
"Mabuk darat, sampai pingsan? Pertama kalinya aku menjumpai kasus seperti ini." Suster itu pun akhirnya memanggil rekannya untuk membantu membawa Arka ke dalam.
Di sisi lain...
"Haish!! Dimana sebenarnya anak ini...!" gumam Kenzo dengan wajah kesal sambil menatap tajam pada layar ponselnya.
Ini sudah ke lima kalinya dia menelepon ponsel Arka, namun si empunya tak kunjung menjawab telepon darinya.
"Apa dia ikut dengan si Bebek Kuning?" pikirnya kala ingat Marisa yang meminjam mobilnya untuk membawa temannya ke rumah sakit.
Kenzo pun menelepon bagian personalia di kantor untuk meminta nomor kontak Marisa.
Drtt...
Drtt...
Drtt...
"Halo?"
"....."
"Ya, saya sudah dalam perjalanan ke sana."
Tut...
Tut...
__ADS_1
Tut...
Sambungan telepon pun terputus.
"Siapa Mar?"
"Orang dari King Jewelry, mereka memintaku untuk bergegas." Jawab Maria.
"Oh... ok." Johan pun segera mempercepat laju mobil tuanya.
Tak berselang lama, Johan dan Maria pun sampai di gedung pencakar langit dengan tulisan besar "King Jewelry" di bagian depan gedung itu.
"Silahkan, my queen." Ucap Johan saat membukakan pintu untuk Maria.
Maria pun berjalan masuk ke dalam gedung itu dan berjalan dengan anggun dengan Johan yang menemaninya.
"Maaf mbak, apa bapak Dimasnya ada?"
"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Ehm, sudah atas nama Maria."
Setelah mendengar nama Maria, dia pun menyuruh Maria untuk langsung naik ke lantai atas dimana ruangan Dimas berada.
"As you wish, my queen." Jawabnya kemudian terkekeh pelan, dan Maria pun segera naik lift menuju lantai atas.
Tap!
Johan yang sedang menatap punggung Maria yang menjauh pun di kagetkan dengan sebuah tepukan di bahunya.
"Pak Johan?" tanya pemilik tangan yang tadi menepuk bahu Johan. "Apa anda kesini untuk—"
"Tidak! Aku hanya mengantarkan temanku kesini, jadi bisakah kau membantuku?"
Pria itu pun mengangguk sebagai jawaban dan segera mendekat pada Johan.
Kemudian Johan membisikkan sesuatu di telinga pria itu, hingga akhirnya pria itu pun mengangguk paham.
"Terimakasih sudah mau membantuku, aku pergi dulu."
"Sama-sama, Pak Johan." Jawabnya yang kemudian berjalan menuju lift.
Johan pun memilih menunggu di cafe yang berada di samping perusahaan.
__ADS_1
Di sisi lain...
"Dimana Arka?" tanyanya pada Marisa yang masih menunggu Gea di depan ruang UGD.
"Ehm... tadi aku meminta suster untuk mengurus, tuan Arka." Jawab Marisa sambil tersenyum kaku.
"Suster? Memangnya ada apa dengan Arka?" Kenzo bingung mendengar penuturan Marisa, pasalnya tad pagi terakhir kali dia melihat Arka dia masih baik-baik saja dan sekarang Marisa bilang suster sedang mengurusnya?
"Hmm, jadi begini..." Marisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menjelaskan pada Kenzo, "Sebenarnya tadi tuan Arka membantu membawa temanku kesini, tapi—"
"Tapi apa?"
"Tapi dia mabuk darat parah, dan pingsan." Lanjutnya sambil nyengir kuda dengan canggung.
"Pingsan? Mabuk darat? Sejak kapan Arka mabuk darat, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Gumam Kenzo.
"Sejak tadi." Jawab Marisa dengan canggung.
Kenzo pun mencari suster dan menanyakan dimana Arka saat ini.
Cklak!
"Ken?"
"Ehm, ada apa denganmu?" tanya Kenzo begitu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arka.
"Tidak apa, hanya sedikit spot jantung saja. Ehmm... lebih tepatnya aku baru saja merasakan menjadi pemain dalam film the fast & furious." Jawab Arka.
Kenzo pun hanya menatap bingung padanya, karena memang tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Arka.
"Si nona Bebek Kuning itu. Dia tidak selucu Tweety, dia mengemudi seperti orang kesurupan. Dan tada...! Inilah hasilnya." Arka pun tersenyum kecut.
"Pfftt...! Bwahahaha..." Kenzo pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan Arka.
"Tertawalah sepuasnya sebelum tertawa itu dilarang!" ketus Arka yang kesal karena Kenzo justru menertawakannya.
Kenzo berusaha meredakan tawanya, "Siapa suruh kau selembek itu? Kau pingsan hanya karena cara mengemudi wanita itu yang sedikit mainstream?"
"Sedikit? Kau bilang itu hanya sedikit mainstream? Oh ayolah, Kenzo... kau belum merasakannya! Ku harap kau segera merasakan apa yang kurasakan tadi, agar kau tahu sendiri mainstream yang kau katakan tadi itu seperti apa."
"Yang jelas aku tidak akan pingsan sepertimu."
Cklak!
__ADS_1