
"Kenapa wajahmu merah? Apa kau membayangkan sesuatu yang liar, Marisa?" bisik Kenzo tepat di sebelah telinga Marisa.
Marisa pun meremang seketika, karena hembusan nafas Kenzo yang menerpa telinganya.
"M-mana ada wajahku merah? K-kau sembarangan bicara saja, bos!" seru Marisa mengelak.
"Cih! Mulut dengan lidah tidak bertulangmu ini memang bisa berbohong, tapi gesturmu lebih jujur dari pada mulutmu." Kenzo sengaja menggoda Marisa dan membuatnya semakin salah tingkah, "Ternyata menggodanya itu seru juga," Kenzo tersenyum kecil tanpa ia sadari.
"Sial! Kenapa pipi gue nggak bisa di ajak kompromi sih? Kenapa pake merah segala?!" batinnya.
Marisa memalingkan wajahnya dan memilih melihat ke arah luar, daripada harus mempermalukan diri sendiri di hadapan Kenzo.
"Dasar bodyguard kurang ajar. Bosmu ada di sini dan sedang bicara padamu, tapi kau malah melihat ke luar? Memangnya yang di luar itu lebih menarik dari pada aku?" tanya Kenzo dengan kesal.
"Tentu saja!" ketusnya.
Kenzo meraih tubuh Marisa hingga menempel padanya, dan memegang pipi Marisa dengan satu tangannya hingga membuat wajah Marisa terlihat lucu.
"Lihat baik-baik! Apa aku tidak lebih menarik daripada apa yang ada di luar, Marisa?" tanya Kenzo kala mata mereka saling bertemu pandang.
Deg!
Deg!
Deg!
"Sial! Aku kan berencana menggodanya, tapi kenapa malah jadi aku yang salah tingkah?" batin Kenzo yang berusaha menahan perasaannya.
"Apanya yang menarik? Lihat ini! Ada dua mata, satu hidung, dua telinga seperti manusia pada umumnya," Marisa yang tak mau kalah pun berbalik mempermainkan Kenzo dengan menyentuh mata, hidung, dan telinganya. "Dan ini juga, kau juga hanya punya satu bibir. Bukankah semua manusia memiliki itu? Jadi apa yang membuatmu berpikir kalau kau sangatlah menarik, bosku yang terhormat?" Marisa dengan beraninya menunjuk bibir Kenzo dengan jari telunjuknya.
"Dasar kucing nakal! Kalau aku tidak menghukummu, maka kau akan semakin liar!" batinnya.
Hap!
Mata Marisa membulat seketika, kala Kenzo justru menangkap jari telunjuknya itu.
"Kau juga hanya punya dua telinga, satu hidung, dua mata, dan satu mulut. Tapi kau sangat menarik, di mataku."
__ADS_1
"Eh? Apa maksud ucapannya barusan?" batin Marisa bingung.
"Kau mau tau kenapa kau itu menarik?"
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Marisa berdetak cepat kala Kenzo membisikkan kalimat itu tepat di samping telinganya.
"Karena mata ini... hidung ini... telinga ini... dan bibir ini... adalah milikku, dan apapun yang bisa menarik perhatianku adalah sesuatu yang istimewa!" ucapnya dengan bibirnya yang kini hanya berjarak beberapa centi dari bibir Marisa.
"Aku tidak melihat apapun! Aku hanya orang lewat!" seru pak Tejo dalam hati. Karena meskipun hatinya tak ingin, tapi otaknya terus menyuruhnya untuk melihat pada kaca spion.
"Apa dia mau nyium gue lagi?! Oh no! Apa yang harus gue lakuin? Otak gue nyuruh gue mundur, tapi kenapa tubuh gue malah nyuruh gue maju...! Dasar sialan!" batin Marisa kalang kabut, dan dengan bodohnya dia malah memejamkan matanya menanti apa yang akan Kenzo lakukan.
Pletak!
"Aaw!" Marisa mengusap-usap keningnya yang baru saja di sentil oleh Kenzo.
"Damn! Kenapa gue oon banget sih...!? Ngapain coba gue pake tutup mata segala? Aaarrrghh...! Sekarang jadi gue yang malu sendiri, bangkek!" rutuknya akan kebodohannya sendiri.
"Dia terlihat imut kalau sedang marah," batin Kenzo yang melihat wajah marah Marisa dengan bibir manyunnya, yang sengaja dia sembunyikan dengan cara menundukkan kepala.
"Ya ampun... kenapa aku yang sudah bau tanah ini juga ikut berpikiran yang iya-iya? Ku kira tadi akan ada adegan—" kata hati pak Tejo yang belum sempat terselesaikan, karena di detik berikutnya apa yang dia lihat mengubah pikirannya.
Kenzo menarik wajah Marisa dan dengan cepat menyambar bibir mungil yang sedang dalam mode manyun itu. Marisa hanya mematung dan tubuhnya terasa kaku bagai kanebo kering, dan hanya menatap Kenzo dengan wajah bodoh.
Kenzo melepaskan ciumannya, karena dia tau kalau Marisa bahkan lupa untuk bernafas.
"Bernafaslah atau kau akan jadi almarhumah setelah ini."
"E-eh? Apa tadi aku tidak bernafas?"
Blar!
__ADS_1
Pertanyaan bodoh akibat kejutan tak terduga itu pun meluncur mulus dari mulut Marisa.
"Ck! Dasar." Kenzo yang kembali sadar pun, baru ingat kalau ada orang lain di mobil ini selain dia dan Marisa.
"Astaga! Aku lupa kalau ada pak Tejo di sini," batin Kenzo, "Ekhem! Pak Tejo, kita tidak jadi pulang ke apartemen. Kita kembali ke perusahaan saja."
"Baik tuan muda."
"Hah? Jadi tadi kau mau pulang ke apartemen, bos?"
"Diamlah, atau aku tidak berjanji untuk tidak memakanmu sekarang juga!" bisiknya lirih.
"Memakanku? Memangnya aku ini makanan apa?!" kesal Marisa dalam hati.
Karena faktor JSL alias jomblo sejak lahir, Marisa memang bodoh dalam hal-hal semacam ini. Apalagi tentang perasaan. Dia benar-benar tidak peka pada perasaan orang lain padanya, bahkan dengan perasaannya sendiri pun, dia masih belum bisa mengartikannya.
"Kenapa wanita ini polos sekali...!? Dia pandai dalam menangani hal-hal sulit di luar nalar, tapi sangat bodoh pada hal-hal sepele seperti perasaan antara pria dan wanita!" batin Kenzo sambil menguatkan dirinya sendiri.
Bagaimanapun, Marisa lah yang sudah dia pilih. Jadi apapun tantangannya, dia akan berusaha untuk melewatinya.
Perjalanan mereka kembali ke perusahaan pun di warnai dengan keheningan, tak ada lagi berdebatan bahkan obrolan ringan sekali pun tidak lagi terdengar.
"Eh? Mereka itu kenapa? Tadi terlihat sangat mesra, tapi sekarang malah saling membuang muka?" batin pak Tejo sambil menggelengkan kepalanya, "Dasar anak muda jaman sekarang, tidak seperti jaman dulu yang langsung saja melamar ke rumah kalau sudah suka."
Mobil pun berhenti tepat di depan perusahaan Kenzo. Tapi belum sempat Kenzo membuka pintu mobilnya, pintu itu suda lebih dulu terbuka dari luar.
"Kenzo, ayo cepat!" seru Arka yang langsung menarik tangan Kenzo.
"Kau ini kenapa? Apa yang membuatmu panik?"
"Dia! Musuh bebuyutanmu, dia datang ke perusahaan!"
"Untuk apa dia kemari! Dan kenapa kau tidak mengusirnya?!"
"Bagaimana aku bisa mengusirnya? Dia datang dengan alasan ingin mengajukan kerjasama denganmu."
"Sial!" Kenzo berjalan cepat untuk segera sampai ke ruang tunggu.
__ADS_1
"Eh? Ada apa dengan orang itu? Aneh sekali?" gumamnya sambil segera menyusul langkah Kenzo dan Arka.
Setelah sampai di ruang tunggu, Kenzo membuka pintunya dan orang yang sudah menunggunya sedari tadi tampak melambaikan tangannya dengan senyum di wajahnya.