My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 104


__ADS_3

Saat ini Marisa tengah berbicara empat mata dengan Maria.


"Jadi, gitu aja. Kalau dia nggak mau, gue bakalan bikin dia jadi peyek daging!" ujar Marisa dengan marah.


"Gue nggak mau mikirin hal ini lagi, kepala gue pusing!" seru Maria yang kemudian membaringkan dirinya di atas kasur, "Tunggu! Gue lupa satu hal!"


"Apa?" tanya Marisa.


"Apa maksud dari foto buku nikah yang kau kirimkan padaku?" Maria yang tadinya sudah berbaring, kini kembali dalam posisi duduk.


"Apanya yang apa? Bukannya lo sendiri yang udah ngasih restu?" jawab Marisa dengan santainya.


"Restu?! Kapan gue ngasihnya?!" seru Maria, "Kita bahkan ada di negara yang berbeda! Restu palakmu itu!?" umpatnya.


"Dia mengirimimu pesan chat. Dan kau membalasnya dengan satu kata, terserah!"


"Omo! Jadi pesan itu, dari Kenzo!?"


"Tentu saja, memang bisa dari siapa lagi?"


"Aku kira itu pesan nyasar, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, dia akan langsung menikahimu setelah mendapat pesan itu."


"Sudah terlambat. Gue sama dia udah resmi jadi suami istri sekarang, dan itu karena ketidakpedulian lo ke sebuah pesan teks," ucap Marisa dengan senyum kaku di wajahnya.


"Tapi lo kan bisa nolak, kalau lo nggak mau dan nggak suka sama dia!"


"Tapi gue suka sama dia So, itu bukan masalah. Lagi pula, misalpun gue nggak suka sama Kenzo dan nggak menyetujui pernikahan ini, Orang tuanya tetap bakalan maksa gue sama dia buat nikah. Itu semua karena kejadian di pesta waktu itu."


"What?! Ada kejadian kayak gitu, tapi lo nggak cerita sama gue?! Apa lo mau mati, Marjan...!"


"Ya... kemarin kan gue pikir, gue mau cari cara buat batalin keputusan bokapnya Kenzo. Tapi ya... siapa yang tau kalau ternyata gue malah jatuh cinta sama dia."


"Dasar Marjan...!"


"Udah ah. Gue capek tau, baru balik! Marah-marah mulu lo!" ucap Marisa sambil berjalan keluar dari kamar mereka.


"Lo mau kemana?"


"Ya balik lah! Gue kan udah punya laki, Markonah...! Masa iya kita mau tinggal di sini bertiga?"


"Nha terus gue sama siapa dong?"


"Sama si Jojo sana! Atau lo bisa nginep di apartemennya Gea."


"Dih! Jahat lo ya...!"


"Bodo! Gue itu capek, lo malah nambahin capek pikiran juga. Dasar twin nggak ada akhlak!"


"Ya maap! Ini kan juga kecelakaan! Gue juga nggak pengen semuanya jadi kayak gini!" ucap Maria dengan bibir manyunnya.


"Ya udah, gue balik dulu. Kasian laki gue, belum sempet istirahat."


"Ya udah deh, TTDJ. Gue nggak anter ya... badan gue masih pegel semua, mager mau nganter lo."


"Siapa juga yang minta lo anterin? Ya udah, gue balik dulu. Kalo ada apa-apa lo kabarin gue, gue pasti langsung kesini secepatnya. Nanti gue aja yang ngomong sama tuh bocah soal masalah tadi, lo tinggal terima beres."


"Ok."

__ADS_1


Cklak!


"Udah? Ada masalah apa?" tanya Kenzo.


"Masalah gede sih... tapi udah ketemu solusinya kok, tenang aja. Ya udah, yuk pulang."


"Beneran kamu mau pulang? Nggak mau nemenin kakak kamu dulu di sini?"


"Enggak. Dia itu butuh waktu sendiri buat berfikir."


"Ya udah ayo. Kita pulang ke rumah utama."


"R-rumah utama?!" beo Marisa dengan terkejut.


"Iya. Papa baru saja nyuruh aku pulang ke sana, dan membawamu juga."


"T-tapi—"


"Tidak apa-apa, tenang saja. Ada aku yang akan melindungimu."


"Huft... baiklah."


Mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Pak Tejo, kuta pergi ke mall dulu, setelah itu baru pulang ke rumah utama.


"Baik, tuan muda."


"Ke mall? Mau apa?" tanya Marisa.


"Tentu saja berbelanja."


"Bukan aku, tapi kau."


"Aku?! Kenapa aku?"


"Kau akan tau nanti."


Mobil pun melaju menuju mall terbesar di kota itu.


Mereka pun masuk ke sebuah salon. Dan beberapa pegawai langsung menyambut Kenzo dengan ramah.


"Dandani istriku secantik mungkin!" titahnya sambil menyerahkan black card miliknya.


"Baik, tuan Kenzo. Kami melakukan yang terbaik.


Satu jam berlalu dan akhirnya make over pun selesai.


"Bagaimana, tuan Kenzo? Apa anda puas?" tanya si pemilik salon.


Namun Kenzo hanya terpaku menatap Marisa, yang terlihat sangat cantik saat ini. Dia bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang istri.


"Ekhem! Bola matamu akan lepas, jika kau terus memandangiku seperti itu, sayang..." ucap Marisa.


Si pemilik salon dan para pegawainya pun ikut tertawa geli, melihat tingkah pasangan suami istri itu.


"Ekhem! Kerja bagus."

__ADS_1


Kenzo dan Marisa pun pergi ke butik yang ada di mall itu.


"Carikan pakaian yang pas untuk istriku," ucap Kenzo.


"Baik, tuan kenzo."


Marisa pun mulai keluar masuk dari ruang ganti. Sudah hampir 20 gaun dia coba, namun Kenzo masih terus menyuruhnya mencoba semua gaun yang di sarankan oleh si pemilik butik.


"Aku beli semua yang tadi dia coba," Kenzo memberikan kartu black card pada pemilik butik.


Setelah selesai, mereka pun segera keluar dari mall itu dan masuk ke mobil mereka.


"Kita pulang pak," ujar Kenzo.


"Baik, tuan muda."


Mereka pun bergegas pulang ke rumah utama.


Beberapa menit perjalanan, mereka tempuh. Hingga akhirnya mereka sudah memasuki halaman rumah Kenzo.


Tapi sepertinya sedang ada tamu di sana. Pasalnya, ada dua mobil yang terparkir di depan rumah Kenzo.


"Lagi ada tamu ya?"


"Ehm. Kau akan tau setelah melihatnya."


Mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Kau sudah datang, Kenzo..." sapa Gio pada anaknya.


"Marisa?! Kau cantik sekali..." puji stella.


"Terimakasih, ma," jawab Marisa dengan percaya diri.


"Jadi ini wanita yang kau pilih, Gio?" tanay seorang wanita tua yang juga berada di sana.


"Itu nenek," bisik Kenzo pada Marisa.


"Salam, nenek."


"Cih!"


"Eh? Kenapa dia? Kayaknya dia nggak suka sama gue? Tapi salah gue sama dia apa?" batin Marisa.


"Iya, ma. Dia adalah wanita yang akan menjadi istrinya Kenzo," ucap Gio dengan was-was.."


"Lebih tepatnya sudah!" batin Marisa.


"Dia benar-benar tidak sebanding dengan pilihanku! Benar-benar sangat jauh berbeda!" ucap nenek Kenzo dengan senyum sinisnya pada Marisa.


"Nenek... jangan seperti itu, aku menyukainya. Dia adalah wanita pilihanku, dan aku tidak akan mau menikahi wanita selain dia."


"Kau tidak punya hak untuk bicara, Kenzo!" bentak neneknya.


"Aku berhak, nek! Ini hidupku! Aku yang akan menjalaninya!" seru balik Kenzo.


"Kau lihat itu?! Gara-gara wanita ini, cucuku berani melawanku!" ucapnya sambil melirik kesal pada Gio, "Sayang... kemarilah."

__ADS_1


Seorang gadis berjalan mendekat ke arah mereka. Mata Marisa membelalak saat melihat wanita itu.


__ADS_2