My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 70


__ADS_3

"What!!" bukan hanya Marisa yang terkejut, bahkan papanya sendiri pun terkejut bukan main.


"Apa tadi aku salah dengar? Rasanya nyawaku seperti tercabut seketika." Batin Gio yang masih dengan mode kagetnya.


"Kenapa pa? Bukannya papa bilang aku dan dia harus segera menikah? Lalu kenapa jika tanggalnya di percepat?"


Gio menghela nafas sebelum dia menjawab pertanyaan anaknya itu, "Meskipun aku tidak tau kenapa tiba-tiba kau tidak lagi menentang keinginanku, tapi yang namanya menikah itu tidak bisa seperti seperti beli cilok. Setelah kau bilang beli akan langsung di bungkus dan diberikan padamu, semua itu butuh persiapan." Jelasnya pada sang anak.


"Jadi, kalau tidak bisa langsung menikah bukankah bisa tunangan lebih dulu?"


"Kalau itu bisa kita lakukan, satu minggu lagi."


"T-tunggu! Aku juga adalah pemeran di sini, tuan. Tapi kenapa tidak ada yang menanyakan pendapatku?" tanya Marisa yang memandang Gio dan Kenzo bergantian.


"Lalu memangnya apa pendapatmu, Marisa."


"A-aku ingin menolaknya, entah itu pernikahan atau pertunangan. Aku tidak bisa menerimanya, karena tidak ada cinta di antara kami dan aku tidak mau menikah tanpa cinta."


"Itu bukan alasan, Marisa. Aku dan ibunya Kenzo juga bukan menikah karena cinta, tapi kau lihat bukan? Bahkan sampai sekarang kami masih sangat mesraaah... dan juga sudah punya dua produk jadi yang begitu high quality." Ujarnya dengan sedikit membanggakan dirinya yang sudah berhasil memiliki 2 anak laki-laki yang sama tampannya.

__ADS_1


"Astaga...! Mana ada orang yang muji diri sendiri kayak gitu?" batin Marisa yang merasa mendapatkan pukulan keras dari Gio, "T-tapi kami berbeda, kami tidak alan bisa bersama. Jadi tuan tolong batalkan keputusan anda ini."


"Apanya yang berbeda? Kalian sama-sama punya dua mata, dua telinga, satu hidung, satu kepala, dan juga sama-sama makan nasi bukan? Lalu ada dimana letak perbedaannya?"


"I-iniโ€”"


"Jadi Marisa, apa masih ada lagi stok alasan lain lagi yang ingin kau coba utarakan?"


"Hah? Eh? Ehmm... k-kita dari dunia yang berbeda, tuan. Dan ku rasa aku tidak cocok untuk anak anda yang baik, ramah, tampan, pintar, dan sangat-sangat high quality ini." Ucap Marisa sambil tersenyum canggung, sedangkan dalam hati dia berasa ingin muntah dengan kata-kata pujian yang keluar dari mulutnya itu. "Hueekk... Oh astaga...! Kayaknya habis ini gue harus sikat gigi, rasanya mulut gue ini berdosa banget huhu..."


"Dunia yang berbeda? Apa kau datang dari planet Mars, Marisa? Makanya kau bilang kau dan Kenzo berasal dari dunia yang berbeda?" Gio pun berdiri dan berjalan ke arah jendela yang ada di ruangannya itu, "Asal kau tau saja, Marisa. Aku juga pernah berada di posisi sepertimu, bahkan aku lebih sengsara dari pada kau. Dulu aku melihat ayahku berjuang dari 0 untuk membawa keluarga Alexander menjadi sebesar ini, jadi aku tidak semata-mata lahir dengan mahkota emas di kepalaku, Marisa. Itulah kenapa aku tidak pernah membedakan kasta, aku hanya perlu tau kalau kau adalah wanita yang baik dan itu cukup."


"Wow, ternyata ada cerita seperti itu di balik sosok papanya Kenzo?" batinnya.


"Baiklah, tuan. Karena sepertinya sudah tidak ada lagi jalan keluar untukku, dan hanya ada jalan masuk maka aku menerimanya. Tapi bisakah aku meminta satu hal, tuan?"


"Katakan."


"Apa lagi trik yang mau si Tweety ini lakukan?"

__ADS_1


"Aku hanya minta perpanjangan waktu, maksudku bukan perpanjangan waktu seperti sepak bola yang hanya beberapa menit, tapi perpanjangan waktu sampai aku dan Kenzo ini lebih saling mengenal."


"Berapa lama? Melihat dari penolakanmu, aku tidak yakin dengan lama waktu yang kau minta."


"Ehm... tidak akan lama, tuan. Mungkin hanya... ehm... satu bulan?" ujarnya, "Atau mungkin satu tahun, 10 tahun atau bahkan seratus tahun!" sambungnya dalam hati.


"Baiklah, lagi pula belum semua keluarga Alexander mengetahui masalah ini. Selama waktu ini, aku akan mengatakan hal ini pada semua anggota keluarga Alexander, terutama pada neneknya Kenzo."


Setelah perbincangan yang panjang kali lebar kali tinggi itu, Marisa dan Kenzo pun keluar dari ruangan itu.


"Marisa, ikut aku!" Kenzo menarik tangan Marisa dan membawanya ke lantai atas.


"Bos, kita mau kemana?"


"Diam!"


"Hah? Bos, kenapa kau marah? Seharusnya aku yang marah padamu, Kenapa kau bukan mencari solusi tapi malah memperkeruh masalahnya?" omel Marisa sepanjang jalan.


Cklak!

__ADS_1


Kenzo membawa Marisa masuk ke dalam kamarnya dan tiba-tiba...


Brugh!


__ADS_2